Cerpen (12) : "Politik Cokelat"
|
Mural karya Rawaksara dalam acara Mural Kawal Pemilu 2019
Hari yang cerah. Acong melangkahkan kakinya dengan riang menuju sekolah. Ini adalah hari yang super penting. Aku harus cepat-cepat nih. Nanti keduluan sama Pedro. Demikian pikirnya.
Memasuki halaman sekolah, ternyata sudah banyak juga anak yang hadir. Acong tersenyum sambil meraba kantung plastik yang ditentengnya. Lihat saja aku akan beraksi, Pedro. Dia tersenyum jahat.
Acong celingukan mencari Bondan sobat karibnya. Nah, itu dia. "Hai Bondan. Sudah siap?"
"Ya iyalah. Mana barangnya?"
"Nih, Kamu di lantai 1 aku di lantai 2 ya!" Acong memberikan sebuah kantung plastik pada Bondan.
"Sip deh. Yuk keburu masuk nanti!"
Mereka berpencar mencari sasaran. Acong menghampiri sekelompok siswa yang sedang ngobrol di tangga. "Hei, mau tak kasih sesuatu nggak?"
"Apa itu?" Tanya Siwi, salah satu siswa terpandai di kelasnya.
"Tapi ada syaratnya."
"Apaan sih?"
"Nih aku beri cokelat tapi nanti pas Pemilos Kamu pilih aku ya!"
"Hah? Ogah ah. Ini sih namanya penyuapan. Emang kalau jadi ketua OSIS Kamu bisa apa?"
"Ya bisa apa ajalah. Lihat saja nanti! Bener nih nggak mau? Ya udah, aku kasih ke yang lain aja."
"Huh dasar. Belum jadi ketua aja udah sombong gitu."
Acong berlalu dengan senyum masam. Dia melanjutkan aksinya membagikan cokelat pada siapa saja yang mau. Banyak juga sih yang mau tapi ada juga yang menolak mentah-mentah.
Saat istirahat Acong keluar mencari Bondan. Sobatnya itu memang beda kelas dengannya. Di kantin dia bertemu Bondan.
"Gimana, Sob? Sudah beres?"
"Bereslah. Aku sudah bagikan ke anak-anak."
"Yakin mereka mau milih aku nanti?"
"Tenang aja. Aku juga udah nyebarin info tentang Pedro tadi."
"Info apa?"
"Aku bilang, Pedro tu nggak pantas jadi ketua. Anaknya nggak keren dan juga nggak bisa mimpin."
"Wah pinter Kamu."
"Aku juga bilang, kalau Kamu yang menang bakalan banyak kegiatan yang seru nanti."
"Oke, sip. Kamu memang hebat. Kalau aku menang nanti Kamu jadi tangan kananku deh. Haha...."
Mereka terus berbincang asyik sampai tidak sadar ada yang mengamati mereka. Dengan bibir manyun, Siwi mendengarkan Acong dan Bondan sedang menjelek-jelekkan Pedro. Siwi sungguh geram. Tiba-tiba dia punya sebuah rencana. Dia segera berlalu menuju kelas. Siwi mendekati Karin untuk minta bantuan.
"Hei, Kamu mau bantu aku nggak?"
"Apaan?"
"Kamu tahu Pedro kan?
Itu yang calon Ketua OSIS."
"Emang kenapa?"
"Mari kita dukung dia jadi Ketua. Kamu nggak mau kan Acong yang sombong itu yang jadi ketua?"
"Emang sih."
"Iya. Masak dia bagi-bagi cokelat ke teman-teman biar milih dia. Kalau aku mah ogah."
"Aku juga ogah. Baru jadi ketua OSIS aja udah mau nyuap. Apalagi kalau jadi pejabat nanti."
"Betul. Yuk kita cari teman-teman lain. Jangan sampai Acong yang dipilih."
"Ya udah, yuk!"
Mereka bergerilya dari kelas ke kelas. Mereka temui anak-anak yang kelihatannya tidak suka sama Acong. Pintar juga mereka memilih anak. Tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Siwi dan Karin masuk kelas dengan senyum puas. Ternyata masih banyak juga yang mendukung Pedro. Mereka akan lanjutkan gerilya nanti saat istirahat kedua. Mereka yakin Acong tidak bakal menang meskipun sudah bagi-bagi cokelat. Saat istirahat kedua, Siwi bergegas keluar bersama Karin.
"Yuk kita lanjut! Keburu bel masuk nanti."
"Siap, komandan!" Karin menggoda Siwi yang sedang semangat.
Mereka melanjutkan gerilya dengan terburu-buru karena Pemilos akan digelar siang nanti sepulang sekolah. Seluruh kelas sudah mereka masuki. Mereka terus beraksi dengan hati-hati. Jangan sampai Acong dan Bondan mengetahui aksi mereka.
Siangnya, semua anak berkumpul di aula. Acong dan Pedro duduk di depan. Acong kelihatan sangat percaya diri sementara Pedro terlihat biasa saja.
"Nah anak-anak, silahkan memilih Ketua OSIS yang menurut kalian baik dengan aplikasi e-voting yang sudah kita sampaikan kemarin." Pak Anwar memberi arahan dan memimpin jalannya Pemilos.
Riuh rendah suara anak mengeluarkan handphone masing-masing. Mereka membuka aplikasi dan menentukan pilihan. Di layar yang terbentang di depan mulai nampak perolehan suara dari Acong dan Pedro. Siwi nampak tegang.
"Kok Kamu yang tegang sih?" Karin mencolek Siwi pelan.
"Nggak tahu nih. Aku gemes sama Acong soalnya. Masak kita mau dipimpin anak kayak gitu. Mau jadi apa OSIS kita nanti."
"Iya sih. Mana anaknya nggak pinter, belagu lagi."
"Itulah. Semoga teman-teman nggak terpengaruh sama cokelat ya."
"Aamiin..."
Belum ada satu jam, proses pemilihan selesai. Terpampang jelas di layar hasil perolehan kedua calon Ketua. Siwi melonjak kegirangan.
"Alhamdulillah. Nggak sia-sia kita beraksi tadi."
"Iya. Kita tim sukses yang keren ya." Karin tidak kalah gembira.
Sementara itu di depan Pedro hanya senyum-senyum. Semua menyelamatinya. Kecuali Acong dan Bondan tentu saja. Acong menyeret Bondan keluar aula. Dia ngomel-ngomel tak keruan.
“Kok bisa begini gimana sih. Katanya dah kamu bagiin cokelatnya tadi. Kenapa aku jadi kalah?” Acong mendamprat Bondan habis-habisan.
“Ya mana aku tahu. Kan tadi dah kubilang. Aku sukses bagiin cokelat. Dan mereka juga bilang mau milih kamu.”
“Gimana ini. Mana tabunganku dah habis lagi buat beli cokelat. Huh... dasar anak-anak nyebelin. Mau cokelatnya nggak mau milih.”
“Apa kamu bilang Cong? Jadi buat Pemilos ini kamu nyuap teman-temanmu?” Tiba-tiba Pak Anwar sudah berdiri di depan mereka berdua.
Tentu saja mereka kaget bukan kepalang. Akan panjang urusannya kalau sampai Pak Anwar tahu.
“Eh nggak, Pak. Kami nggak melakukan itu.” Acong berusaha berkilah.
“Lha yang kamu bicarakan sama Bondan apa tadi?” Pak Anwar terus mendesak. Dia tidak mau ada yang tidak jujur di Pemilos kali ini.
Acong dan Bondan hanya terdiam dan saling pandang.
“Iya Pak. Mereka bagiin cokelat tadi sama anak-anak.” dengan lantang Siwi mengadu ke Pak Anwar. Dari tadi memang dia mencari-cari Acong sama Bondan. Tak tahunya sudah ketahuan sama Pak Anwar. Kebetulan sekali, pikirnya. “Tadi pagi mereka mencoba membagi cokelat ke semua anak pak. Ke saya juga. Tapi saya nggak mau.”
“Benar Cong? Ayo ngaku aja!” kata Pak Anwar.
“Hmm... iya Pak. Maafkan kami!”
“Kalau gitu kalian berdua ikut Bapak ke kantor!” perintah Pak Anwar dengan tegas.
Acong dan Bondan hanya mengangguk pasrah. Tak tahu deh apa jadinya nanti. Sementara itu Siwi dan Karin tersenyum lega penuh kemenangan. Kali ini mereka berhasil mencegah politik cokelat. He..He..
Cerpen (12) berjudul “Politik Cokelat” karya Tri Astuti Tri Winarti diambil dari buku antologi cerpen “Titipan – Untuk Pemilu yang Berintegritas”, yang diterbitkan Bawaslu Kabupaten Semarang bersama Keluarga Penulis Ungaran (Kelingan) tahun 2019.
#ayoawasibersama #hut4Bawaslu #bawaslu4u #bawaslumengawasi #siapawasi2024