Cerpen (15) : "Suara Kita Sangat Berharga"
|
Mural karya Rawaksara dalam acara Mural Kawal Pemilu 2019
“Bundaaa.,.kita sudah menerima undangan belum yaaa?” tanyaku setengah berteriak sambil mencari dan membolak-balik beberapa kertas yang tertumpuk rapi di atas meja di ruang tengah.
“Bundamu sedang ke tetangga sebelah sebentar, Aya.” suara Budhe Ndari dari arah ruang tamu mengagetkanku. Aku bergegas menuju ruang tamu.
“Kapan datang Budhe, Pakde? Maaf tidak tahu, dari tadi di kamar belakang.” sapaku seraya mencium tangan Budhe Ndari dan Pakde Jarwo.
“Baru saja, Nduk.” jawab Budhe Ndari sambil tersenyum.
“Undangan apa to, Aya?” tanya Pakde Jarwo.
“Itu lho, Pakde, undangan untuk ikut mencoblos di TPS. Besok kan pertama kali Aya ikut pemilu, jadi harus semangat dong, sudah tak sabar ingin segera ke TPS dan mencoblos kertas suara.” jawabku penuh semangat.
“Buat apa to, Nduk? Tak usahlah repot-repot pergi dan nyoblos di TPS!” kata pakde. “Pakde selama ini tak pernah tuh ikut nyoblos, percuma kita ikut pemilu, nggak ada pengaruhnya buat kehidupan kita. Kita tetap saja harus berjuang untuk hidup kita sendiri.” jawab Pakde Jarwo yang sontak membuat aku terkejut.
“Kok begitu, Pakde?” tanyaku terbelalak.
“Iya, Nduk, Budhe juga tak pernah menggunakan hak suara.” timpal budhe, semakin membuatku tambah terkejut.
“Lho, kok begitu, Budhe? Berarti Pakde dan Budhe golput dong?” gusarku tak tertahan. “Maaf Budhe dan Pakde, sebagai warga negara, kita harus ikut memberikan suara saat pemilu. Kata bu guru, suara kita sangat penting untuk pembangunan negara kita.” masih dengan nada gusar.
“Walaah! Tidak bener itu, Nduk. Dari dulu Pakde, sewaktu masih muda sampai sekarang, Pakde harus tetap berjuang sendiri untuk menghidupi keluarga. Tidak ada pengaruhnya sama sekali meskipun bupati dan presidennya ganti-ganti, Pakde tetap harus bekerja keras banting tulang.” sergah Pakde Jarwo.
“Itu om Mariman dan beberapa orang di kampung juga sama saja. Meskipun mereka pergi ke TPS, tapi mereka sama saja dengan Budhe dan Pakde, tidak mencoblos, karena saat di bilik suara, mereka mencoblos semua kandidat yang ada di kertas suara. Itu kan membuat kertas suaranya tidak sah juga. Buat apa mereka ke TPS kalau ujung-ujungnya kertas suara tidak sah. Rugi waktu dan tenaga kan? Masih mendingan Pakde dan budhe, yang sekalian tak datang ke TPS.” Budhe memperkuat pendapat Pakde Jarwo.
“Itu juga sama saja golput, Budhe! Golput terselubung. Wah, nggak benar itu! Sayang banget. Rugi dong hak suara kita.”
“Ya nggak rugi to, Nduk! Kan tadi sudah Pakde bilang, tak ada pengaruhnya buat kehidupan kita, apalagi yang rakyat biasa ini.” jawab Pakde Jarwo masih dengan nada santai, membuat diriku kian gemas.
“Maaf Pakde, Budhe, menurut Aya pendapat Pakde dan Budhe itu keliru besar. Coba deh Pakde dan Budhe analisa! Pakde dan Budhe pedagang pasar. Selama Pakde dan Budhe berjualan, kan harus mengikuti aturan-aturan yang ditetapkan pemerintah daerah. Aturan yang ditetapkan, itu kan juga tidak sembarangan, tapi sudah dirancang pemerintah daerah, yang kemudian diajukan ke DPR untuk disahkan. Nah, kalau pemimpin daerah bukan orang yang amanah dan tidak memiliki kemampuan memimpin, terus anggota dewan yang terpillih juga bukan orang-orang yang mampu dan tidak punya kualitas, bisa bahaya dong Pakde negara kita. Misal banyak masyarakat yang apatis, tak menggunakan hak pilih, sedang yang bersemangat menggunakan hak pilih adalah orang-orang yang lantaran dapat amplop, dan menang, kan bahaya Pakde, Budhe!.Sama artinya yang menang bukan orang baik. Bayangkan kalau semua orang baik apatis macam Pakde dan Budhe!”
“Hhmm, ada benarnya juga sih, Pak. Tapi, budhe masih ragu, Aya.” jawab Budhe Ndari sambil mengeryitkan dahinya ke Pakde Jarwo. Pakde Jarwo kemudian menghentikan membaca koran, raut wajahnya jelas lagi merenungkan sesuatu.
“Ayolah, Pakde, Budhe! Aya berharap banget Pakde dan Budhe ke TPS. Aya berharap minggu depan kita jalan bersama-sama. Aya tunggu pukul 9 pagi ya, Pakde, Budhe! Kita berangkat bersama-sama. Kita rayakan pesta demokrasi!” kataku yang mirip orang berdeklamasi. Semangat 45 pokoknya.
“Sedang apa sih, Aya? Kok berapi-api begitu. Sampai kedengaran dari pintu pagar lho.” sahut bunda, yang tiba-tiba muncul dari pintu depan.
“Eh, Bunda! Nggak apa-apa kok, Bunda, tenang aja! Peace!” jawabku sambil nyengir dan berpose dua jari di samping kepala. Bunda hanya tersenyum geleng-geleng kepala.
****
Segera kurapikan baju yang kupakai. Dadaku berdegup kencang, masih penuh harap bahwa Pakde Jarwo dan Budhe Ndari berubah. Usai merapikan kamar, aku bergegas keluar dan duduk di teras depan, berharap Pakde dan Budhe muncul dari gang. Sehingga bisa bareng-bareng ke TPS. Aku duduk dengan pandangan terus tertuju ke mulut gang sembari tak henti berdoa. Terus, dan terus berdoa. “Ah, kiranya Pakde Jarwo dan Budhe Ndari…!”
Cerpen (15) berjudul “Suara Kita Sangat Berharga” karya Listiani R diambil dari buku antologi cerpen “Titipan – Untuk Pemilu yang Berintegritas”, yang diterbitkan Bawaslu Kabupaten Semarang bersama Keluarga Penulis Ungaran (Kelingan) tahun 2019.
#ayoawasibersama #hut4Bawaslu #bawaslu4u #bawaslumengawasi #siapawasi2024