Lompat ke isi utama

Berita

Cerpen (5) : "Pemilu Kelabu"

Cerpen (5) : "Pemilu Kelabu"
Mural karya Rawaksara dalam acara Mural Kawal Pemilu 2019

Asap rokok terus mengepul dari mulutnya. Matanya nanar, memandang langit yang sedang tidak bersinar. Wajahnya gundah tak bergairah. Pikirannya melayang, bersama mentari yang kian menghilang. Kopi panas dan gorengan yang terhidang tak lagi menarik perhatian.

            “Kena PHk bukannya cari kerja lagi, malah bengong.” Di depan laki-laki paruh baya itu sudah berdiri seorang perempuan dengan wajah masam.

            “Sabar to Bune, ini juga lagi jalan keluar.” Laki-laki itu masih tetap menatap langit yang semakin gelap.

            “E..ladalah, nggak doyan kopi to?“ Sekonyong-konyong diminumnya segelas kopi itu sampai tandas, hanya tinggal ampas.

            “La kok dihabiskan to, Bu?”

            “Yo ben, kapok !”

Perempuan itu kemudian kembali masuk rumah dengan tetap memperdengarkan suara merdunya. Laki-laki itu hanya pasrah. Menganggap omelan istrinya seperti sampah yang membuatnya semakin resah.

****

            “Bu, Minggu depan Andi Ulangan Tengan Semester.”

            “Ya belajar to Le, agar nilanya bagus.”

            “Maksud Andi bukan itu.”

Dikeluarkannya selembar kertas buram dari tasnya dengan wajah muram.

            “Ini gara-gara bapakmu males, Kamu jadi nunggak SPP.”

Perempuan itu bergegas  mencari suaminya ke halaman, meninggalkan setumpuk cucian. Tubuhnya yang tidak lagi langsing, membuat gerak tubuhnya tidak bisa selincah gangsing.

            “Paaak...!” suara baritonnya mulai menggema.

            “Ada apa to Bune?“

Pak Harjo yang tengah memberi makan ayam bergegas menemui istrinya, sebelum wajahnya semakin kelam. Dengan seksama ia dengarkan ceramah meskipun sejatinya telinganya sudah memerah.

            “Sudah Bune?“ Pak Harjo bertanya dengan wajah tak bersalah.

            “Apanya yang sudah?“ volume suara Bu Harjo semakin meninggi.

            “Nesu-nesune. Bapak laper je!”

            “No...no...tidak ada sarapan gratis.” tegas dan lugas Bu Harjo menjawab. Tak dipedulikan wajah memelas suaminya.

            “Nanti kalau magku kumat, gimana?“ Pak Harjo masih terus berjuang agar mendapatkan sarapan.

            “Terserah.”

            “Bapak janji, habis makan terus cari kerja.” Pak Harjo mengalah demi menenangkan perutnya yang semakin keroncongan.

            “Bener?“  Bu Harjo mulai luluh meskipun ada gurat keraguan di wajahnya.

            “Suer Bune. Sama suaminya sendiri kok nggak percaya!”

            “Awas kalau ngapusi!“

Bu Harjo keluar dari dapur dengan membawa sepiring nasi. Pak Harjo menyambutnya dengan wajah berser-seri.

            “Monggo, Pak, silakan dinikmati sarapannya.“

Berulang kali Pak Harjo mengerjapkan mata, tak percaya dengan menu yang terhidang di hadapannya.

Sayur oblok-oblok maniingi...!” gerutunya dalam hati.

****

            Malam telah larut. Pak harjo yang seharian meninggalkan rumah telah pulang dengan wajah cerah, tak lagi carut  marut.

            “Ini Bune hasil kerja Bapak hari ini.” 

Lima lembar uang kertas warna merah ditunjukkan kepada istrinya dengan wajah penuh kebanggaan. Seketika mata Bu Harjo yang telah meredup kembali terbuka, bangkit dari kasur dengan wajah bergairah.

            “Bukan dari hasil mencuri atau menipu, kan?“ tanya Bu Harjo penuh selidik

            “Nggaklah Bune, suamimu ini masih waras.”

            “Terus, dari mana?“

            “Bapak dapat proyek. Kalau sukses, hasilnya bisa untuk biaya hidup 6 bulan.”

            “Proyek opo kuwi?“ Bu Harjo penasaran.

            “Mau tahu aja, atau tahu banget?“ Pak harjo bertanya dengan mimik menggoda.

            “Iiiih Bapak! Takcubit lho,” ucap Bu Harjo dengan suara manja.

            “Sini Bapak bisikin! Tapi,..ini masih rahasia.”

            “Jadi timses caleg, Pakne? Apa Kamu bisa?“

            “Husss...jangan keras-keras!” Pak Harjo menempelkan jari telunjuk di bibir istrinya.

Malam itu mereka tidur dengan bahagia. Terbayang gunungan rupiah yang akan diterima. Biarlah kena PHK, asal bisa kaya raya. Yah, tiga bulan ke depan mereka akan bergelimang harta. Bukan hanya mimpi, tapi benar-benar nyata.

****

“Bapak-Bapak warga RT 01 RW 15, Seminggu lagi masa kampanye terbuka akan tiba. Sesuai dengan kesepakatan, kita menerima caleg siapa yang ingin sosialisasi di wilayah kita. Namun kita menolak tegas politik uang.” Pak RT mengakhiri sambutannya.

            “Kalau ada warga yang ketahuan bagi-bagi uang bagaimana, Pak RT?“ tanya salah seorang warga.

            “Jika terbukti benar, akan kita laporkan kepada Panwas,” jawab Pak RT dengan tegas.

            “Tapi, ni kesempatan kita menambah kekayaan RT lho, Pak!” sahut warga yang lain.

            “Betul, Pak RT. Pemilu kemarin saja RT kita dapat kursi 100 buah dan lima plong tratak.”

Pak Harjo tak mau ketinggalan, angkat suara juga.

            “Lima tahun lalu, setiap orang malah dapat 200.000. Sayang kalau dilewatkan, Pak RT,“ ucap Pak Harjo lagi.

            “Ada lagi yang mau menyampaikan pendapat Bapak-Bapak?” Pak RT kembali memberi kesempatan kepada warga untuk menyampaikan aspirasinya.

            “Saya sepakat dengan Pak RT. Kita harus pilih caleg yang bersih dan jujur.” Pak Yadi menguatkan.

            “Betul sekali, Pak Yadi. Satu suara kita ini sangat berharga. Relakah Bapak-Bapak menjualnya hanya demi uang yang tidak seberapa?“ ucap Pak Rudi sekretaris RT.

            “Setelah itu kita ditinggalkan. Mending kita pilih caleg yang sudah kenal  dan terbukti banyak memberikan kemanfaatan.” Pak Yadi kembali berpendapat

            “Baik Bapak-Bapak. Saya sepakat dengan pendapat Pak Yadi dan Pak  Rudi. Marilah kita menjadi pemilih yang cerdas. Memilih caleg bukan karena uangnya, tapi dari kinerjanya.” Pak RT kembali memberikan himbauan untuk warganya.

            Rapat RT usai. Sebagaian warga masih melanjutkan obrolan tentang hiruk pikuk kampanye. Pak Harjo memilih pulang, menyusun strategi agar aksinya nanti berjalan lancar. Terbayang kembali pundi-pundi harta yang nanti akan memenuhi kantongnya. Dan itu membuat semangatnya semakin membara.

****

            “Ada apa to, Bune, pulang PKK kok wajahnya manyun?”

            “Sebel sama Bu RT.”

            “Ada apa dengan Bu RT?“ tanya Pak Harjo lagi.

            “Dia menghimbau warga agar tidak pilih caleg yang bagi-bagi uang,” Bu Harjo menjawab dengan wajah kesal.

            “Ya benar to, Bu, apa yang dilakukan Bu RT,” sahut Yanti anak sullung Bu Harjo calon pemilih pemula.

            “Huss...anak kecil nggak usah ikut-ikutan.”

            “Yanti bukan anak kecil lagi. Pemilu besok aku sudah punya hak pilih.”

            “Eeeh...berani sama orang tua. Kamu nanti harus pilih caleg yang didukung bapakmu.” Bu Harjo mulai mengintimidasi anaknya.

            “Yanti akan memilih sesuai dengan hati nurani. Yang jelas bukan caleg yang bagi-bagi uang,” kata Yanti sambil ngeloyor meningkah bapak dan ibunya.

            “Dinasihati orang tua malah jawab terus, bisa kualat Kamu.” Bu Harjo emosi.

            “Sudahlah, Bu! Yanti nanti jadi urusan Bapak.”

            “Gimana, Bapak sudah mencatat nama-nama tetangga yang mau mendukung caleg kita to?“

            “Pastilah, Bu. Bapak juga sudah melebarkan sayap ke RT lain.”

            “Suamiku ini memang jos gadhos.”

            “Mana catatan Ibu? “

            “Ini, ada 23 orang yang sudah berhasill kupengaruhi. Bahkan Yu Nah dan suaminya siap membantu kita.”

            “Kamu juga top markotop, Bu.” Pak Harjo memuji hasil kerja istrinya.

            “Target 250  suara di TPS kita pasti bisa kita dapatkan.“ Bu Harjo meyakinkan suaminya dengan penuh optimis.

Mereka pun menghentikan pembicaraan, ketika tetangga sebelah rumah datang memberikan undangan untuk mencoblos pada tanggal 17 April nanti.         

****

Minggu, 14 April 2019 puku 22.15 WIB....

Sepasang suami istri itu siap bergerak menjalankan aksinya. Setumpuk amplop berisi uang dan stiker siap mereka distribusikan. Keberlimpahan materi membuat mereka berani. Siap dengan segala resiko yang akan menghampiri. Mereka tak peduli, kenikmatan harta  telah membutakan mata hati.

            “Ayo Pak!” bisik Bu Harjo

            “Situasi aman?”

            “Yes, aman terkendali. Yu Nah dan suaminya sudah siap di posnya masing-masing.” Bu Harjo melaporkan keadaan terkini. Mereka menuju pintu. Pelan, tanpa suara mereka ke luar dari rumahnya. Tak ingin kedua anaknya, Andi dan Yanti terbangun.

            “Lek Harjo, mau ke mana?“ Terdengar suara yang sudah tidak asing dari arah belakang mereka. Tubuh  gemetar, jantung berdebar, pandangan  nanar. Namun tak sanggup untuk menghindar.

            “E...e...ehm...mau nengok simbok, Pak RT,“  jawab Bu Harjo dengan gagap.

            “Kok malam-malam?“

            “Njih, Pak. Baru saja dikabari sama Dek Marti.”

Nama adik iparnya yang tidak tahu apa-apa, terpaksa dibawa-bawa. Berharap Pak RT segera berlalu dari hadapan mereka.

            “Alhamdulillah, Pak RT tidak curiga,” ucap Pak Harjo lega. Seperti terlepas dari sebongkah batu yang mengimpit dada.

****

Siang, Rabu Wage, 17 April 2019....

Perhitungan suara hasil Pemilu Legislatif masih berlangsung.  Pak Harjo duduk manis di TPS  mengikuti dengan seksama. Pulpen dan kertas tidak lepas dari genggamannya. Bu Harjo menanti di rumah dengan wajah gundah dan hati gelisah. Bahkan makan pun tak bergairah. Serba salah, mau SMS suami tak ada nyali.

            Pukul 16.15 WIB Pak Harjo menginjakkan kaki kembali di rumah. Tergopoh-gopoh Bu Harjo menyambut kepulangan suaminya.

            “Bagaimana hasilnya, Pak?  Kok lemes?”

            “Lumayan, Bu.” Pak Harjo menjawab  lirih seperti tak berenergi.

            “Lumayan bagaimana?“ Bu Harjo Kepo.

            “Daripada nggak ada yang milih sama sekali.”

            “Pak Alex jadi nggak?“

            “Belum tahu Bu. Suaranya banyak yang jeblos.” Pak Harjo semakin lemes.

****

Lima  hari kemudian. Warga RT 01 RW 15 berbondong-bondong menuju Rumah Sakit Bina Kasih menengok Bu Harjo. Tifusnya kumat.

            “Bener nasehatmu, Yan. Nggak usah ikut-ikutan jadi timses. Malah jadi stress.” Yanti tersenyum sambil menyuapkan bubur ke mulut Bu Harjo.

            “Ibu tergoda sama iming-iming Bapakmu. La wong males kok diikuti yo, Yan. Ibu kok jadi pengen ngguyu kalau ingat polah tingkahe Ibu kemarin.”

            “Nggih, Bu, dapat dosa lagi.”

Azan magrib berkumandang, malam pun menjelang. Tak henti-hentinya Bu Harjo beristigfar, memohon ampun atas segala kekhilafan. “Gusti Allah, kula nyuwun pangapunten. Berilah kepada kami pemimpin yang amanah dan jujur.“

Rona bahagia  seakan menjalar ke seluruh raganya. Ia bersyukur Allah memberi kesempatan untuk bertaubat kepada-Nya.

Cerpen (5) berjudul “Pemilu Kelabu” karya Musyarofah A.R. diambil dari buku antologi cerpen “Titipan – Untuk Pemilu yang Berintegritas”, yang diterbitkan Bawaslu Kabupaten Semarang bersama Keluarga Penulis Ungaran (Kelingan) tahun 2019.

#ayoawasibersama #hut4Bawaslu #bawaslu4u #bawaslumengawasi #siapawasi2024