Lompat ke isi utama

Berita

Bawaslu Jabarkan Strategi Inovatif Tingkatkan Partisipasi Pemilih Pemula

Kegiatan Konsolidasi Demokrasi Bawaslu Kabupaten Semarang dengan KPU Kabupaten Semarang pada Rabu, 4 Maret 2026

Kegiatan Konsolidasi Demokrasi Bawaslu Kabupaten Semarang dengan KPU Kabupaten Semarang pada Rabu, 4 Maret 2026

Ungaran – Upaya meningkatkan kualitas demokrasi terus dilakukan oleh penyelenggara pemilu di Kabupaten Semarang. Melalui kegiatan Konsolidasi Demokrasi, Anggota Bawaslu Kabupaten Semarang sekaligus Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Hubungan Masyarakat, Muharom Al Rosyid, bersama Kepala Sub Bagian Pengawasan dan Humas, Widya Astuti, mengajak berbagai pihak untuk memperkuat strategi dalam menjaring dan meningkatkan partisipasi pemilih pemula pada setiap tahapan demokrasi.

Konsolidasi demokrasi ini digelar pada Rabu, 4 Maret 2026. Kegiatan yang berlangsung di KPU Kabupaten Semarang tersebut diterima oleh Ketua Divisi Perencanaan, Data dan Informasi KPU Kabupaten Semarang, Agus Setiyoko, didampingi Kepala Subbagian Perencanaan, Data dan Informasi, Ahmad Mauludini. Dalam forum tersebut, berbagai gagasan dan strategi dibahas guna memastikan generasi muda memiliki kesadaran politik yang baik sekaligus mampu berpartisipasi aktif dalam proses demokrasi.

Muharom menyampaikan bahwa pemilih pemula merupakan kelompok strategis yang akan menentukan arah demokrasi di masa depan. "Dengan rentang usia antara 17 hingga 21 tahun, kelompok ini memiliki jumlah yang cukup signifikan dan berpotensi menjadi kekuatan besar dalam menentukan kualitas penyelenggaraan pemilu maupun pembangunan daerah" buka Muharom.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi dalam menjaring pemilih pemula tidak hanya berkaitan dengan rendahnya tingkat partisipasi, tetapi juga masih terbatasnya literasi politik yang dimiliki sebagian generasi muda. Selain itu, derasnya arus informasi di media digital membuat pemilih pemula rentan terhadap penyebaran informasi yang tidak benar atau hoaks yang dapat memengaruhi cara pandang mereka terhadap demokrasi.

Maka untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan pendekatan yang lebih edukatif, kreatif, dan berbasis komunitas agar pesan-pesan demokrasi dapat diterima dengan baik oleh kalangan muda. Salah satu strategi yang menjadi perhatian adalah memperkuat edukasi politik yang relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini.

"Melalui sosialisasi yang dilakukan di sekolah, perguruan tinggi, maupun komunitas remaja, penyelenggara pemilu dapat memberikan pemahaman mengenai hak pilih, proses pemilu, serta pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menentukan masa depan bangsa. Penyampaian materi juga perlu dikemas menggunakan bahasa yang sederhana, komunikatif, serta didukung visual yang menarik sehingga lebih mudah dipahami oleh pemilih pemula" jelas Muharom

Selain edukasi secara langsung, pemanfaatan media sosial dinilai menjadi sarana yang sangat efektif untuk menjangkau generasi muda. "Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube menjadi ruang yang akrab bagi pemilih pemula sehingga dapat dimanfaatkan untuk menyebarluaskan informasi kepemiluan melalui konten-konten kreatif berupa video pendek, infografis, hingga materi edukasi yang ringan namun bermakna" lanjutnya

Dalam diskusi tersebut juga mengemuka pentingnya menggandeng figur publik maupun influencer lokal yang memiliki kedekatan dengan kalangan muda. Kehadiran tokoh yang mereka kenal dan ikuti dapat menjadi sarana efektif dalam menyampaikan pesan-pesan demokrasi serta mendorong tumbuhnya kesadaran politik yang positif.

Melalui kegiatan konsolidasi demokrasi ini, Bawaslu dan KPU Kabupaten Semarang berharap lahir generasi pemilih yang tidak hanya aktif menggunakan hak pilihnya, tetapi juga kritis, cerdas, dan bertanggung jawab dalam menyikapi berbagai dinamika politik. Dengan partisipasi pemilih pemula yang semakin meningkat, kualitas demokrasi di Kabupaten Semarang diharapkan akan semakin kuat dan mampu melahirkan proses pemilu yang berintegritas serta berkeadilan.

Penulis : Noor M Nasyar