Lompat ke isi utama

Berita

Bawaslu Kabupaten Semarang Goes to School: Kenalkan Demokrasi Lebih Dini kepada Gen Alpha

Anggota Bawaslu Kabupaten Semarang, Koordinator Divisi SDMO dan Diklat, Fithriyah, saat menyampaikan materi pendidikan demokrasi dan pengawasan dalam kegiatan Pendalaman Demokrasi dan Pengawasan Pemilihan Ketua OSIS SMP Negeri 2 Pabelan, Sabtu (31/10/2026).

Anggota Bawaslu Kabupaten Semarang, Koordinator Divisi SDMO dan Diklat, Fithriyah, saat menyampaikan materi pendidikan demokrasi dan pengawasan dalam kegiatan Pendalaman Demokrasi dan Pengawasan Pemilihan Ketua OSIS SMP Negeri 2 Pabelan, Sabtu (31/10/2026).

Ungaran – Generasi Z dan Generasi Alpha memiliki peran penting dalam menentukan wajah demokrasi Indonesia di masa mendatang. Di tengah perkembangan teknologi informasi dan derasnya arus komunikasi digital, generasi muda tidak hanya dituntut mampu menggunakan hak pilih, tetapi juga perlu memiliki pemahaman tentang demokrasi, kemampuan berpikir kritis, serta kesadaran untuk menjaga integritas setiap proses pemilihan.

Kesadaran tersebut perlu dibangun sejak dini melalui pendidikan demokrasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu ruang pembelajaran yang dapat dimanfaatkan adalah Pemilihan Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), yang memberikan pengalaman langsung kepada pelajar dalam mengenal proses memilih dan menentukan pemimpin.

Hal tersebut menjadi bagian dari materi yang disampaikan Anggota Bawaslu Kabupaten Semarang, Fithriyah, dalam kegiatan Pendalaman Demokrasi dan Pengawasan Pemilihan Ketua OSIS SMP Negeri 2 Pabelan bertema "Memilih Pemimpin yang Berakhlak dan Berkualitas", Sabtu (31/10/2026).

Dalam penyampaiannya, Fithriyah mengajak para siswa memahami bahwa mereka merupakan bagian dari generasi yang kelak akan menentukan arah kehidupan demokrasi. Generasi Z dan Generasi Alpha perlu dipersiapkan tidak hanya sebagai pengguna teknologi dan penerima informasi, tetapi juga sebagai generasi yang mampu menilai informasi secara bijak serta memahami hak dan tanggung jawab dalam kehidupan demokratis.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital membawa peluang sekaligus tantangan bagi generasi muda. Kemudahan memperoleh dan menyebarkan informasi harus diimbangi dengan kemampuan memilah informasi yang benar, mengenali berita bohong, serta tidak mudah terpengaruh oleh ajakan maupun tekanan yang dapat memengaruhi kebebasan menentukan pilihan.

"Adik-adik merupakan generasi yang akan menjadi bagian penting dalam demokrasi ke depan. Karena itu, sejak sekarang perlu belajar bagaimana menentukan pilihan secara bijak, mengenali calon pemimpin berdasarkan kualitas dan integritasnya, serta menghargai perbedaan pilihan. Jangan sampai pilihan hanya didasarkan pada popularitas atau karena ikut-ikutan teman," jelas Fithriyah.

Ia menekankan bahwa pemilihan Ketua OSIS dapat menjadi laboratorium demokrasi bagi para pelajar. Melalui kegiatan tersebut, siswa dapat mempraktikkan prinsip langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (LUBER JURDIL). Prinsip tersebut bukan hanya berlaku dalam pemilu, melainkan dapat diterapkan dalam setiap proses pemilihan pemimpin, termasuk di lingkungan sekolah.

Lebih dari sekadar belajar memilih, siswa juga diajak memahami makna kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya dikenal atau populer, tetapi harus memiliki akhlak, tanggung jawab, kemampuan, serta komitmen untuk menjalankan amanah. Oleh karena itu, para pemilih perlu mengenali visi, misi, dan program kerja setiap calon sebelum menentukan pilihan.

Fithriyah juga mengingatkan bahwa demokrasi memberikan ruang bagi setiap orang untuk memiliki pilihan yang berbeda. Perbedaan tersebut harus disikapi dengan kedewasaan, bukan menjadi alasan untuk saling mengejek, memaksakan kehendak, ataupun memutus hubungan pertemanan.

Di sisi lain, kesadaran pengawasan partisipatif juga perlu tumbuh di kalangan generasi muda. Menurutnya, menjaga demokrasi bukan hanya menjadi tanggung jawab penyelenggara pemilihan maupun lembaga pengawas, tetapi membutuhkan kepedulian seluruh pihak.

"Siswa juga bisa mengambil bagian dalam menjaga demokrasi. Mulai dari hal sederhana, seperti tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, tidak memaksakan pilihan kepada teman, berani mengingatkan jika ada tindakan yang tidak sesuai aturan, serta menghormati hasil pemilihan," ungkapnya.

Pembelajaran tersebut menjadi semakin relevan bagi Generasi Z dan Generasi Alpha yang tumbuh di tengah ekosistem digital. Keduanya perlu dibekali literasi demokrasi agar mampu menjadi generasi yang tidak hanya aktif di ruang digital, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kehidupan demokrasi di lingkungan sekitarnya.

Bagi Bawaslu Kabupaten Semarang, pendidikan demokrasi di sekolah merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran pengawasan partisipatif secara berkelanjutan. Penanaman nilai demokrasi tidak harus menunggu seseorang memiliki hak pilih dalam pemilu. Pemahaman tentang kejujuran, keadilan, kebebasan, dan tanggung jawab dapat mulai dibentuk melalui pengalaman sederhana di lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan ini, Bawaslu Kabupaten Semarang berharap para pelajar tumbuh menjadi generasi yang kritis dalam menerima informasi, bijak dalam menentukan pilihan, serta berani mengambil bagian dalam menjaga proses demokrasi.

Sebab, masa depan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh generasi yang datang ke tempat pemungutan suara, tetapi juga oleh generasi yang memiliki kesadaran untuk merawat kejujuran, menghormati perbedaan, dan memastikan setiap proses pemilihan berlangsung secara berintegritas.

Humas Bawaslu Kabupaten Semarang