Bawaslu Kabupaten Semarang Ikuti Literasi Pojok Pengawasan Edisi 14
|
Ungaran - Dalam rangka memperkuat tata Kelola kelembagaan serta menghadapi era modernisasi dalam hal pengawasan pemilu dan pemilihan, Bawaslu Kabupaten Semarang kembali mengikuti kegiatan literasi pojok pengawasan volume 14 yang diselenggarakan oleh Bawaslu Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan yang mengangkat tema “Pengembangan Literasi Pengawasan di Era Digital” ini dilaksanakan pada Senin 8 Juni 2026 melalui aplikasi daring zoom.
Dalam kegiatan ini, Ketua Bawaslu Provinsi Jawa Tengah, Muhammad Amin mengatakan bahwa pengembangan liteasi pengawasan menjadi topik yang menarik. “Hal ini disebabkan karena kita selalu mengikuti perkembangan zaman terlebih juga Bawaslu juga mempersiapkan segala proses tahapan pemilu yang nantinya akan segera bergulir”. buka Amin.
Amin juga menyebutkan giat literasi pojok pengawasan ini sangat bermanfaat bagi semua pihak. “Tren kedepan kita harus segera beradaptasi dan beralih ke pengawasan digital dari yang sebelumnya pengawasan konvensional. Sehingga kita harus bisa meningkatkan kemampuan dari masing-masing individu” jelas Amin
Amin juga menekankan mengenai potensi pelanggaran melalui ruang lingkup digital. “Ada banyak potensi yang bisa dilakukan di era digitalisasi. Terutama potensi yang berkaitan dengan praktik politik uang. Biasanya potensi politik uang melalui cara konvensional, saat ini ada potensi transaksi yang lebih kompleks melalui cashless uang elektronik. Selain itu tren digital kemarin juga lebih kepada penyebaran isu hoax. Bawaslu meskipun sudah bekerjasama dengan beberapa pihak, namun memang ada kesulitan-kesulitan tersendiri dalam melakukan penindakan tersebut".
Anggota Bawaslu Provinsi Jawa Tengah, Muhammad Rofiudin yang bertindak sebagai keynote speaker juga menyoroti literasi pengawasan di era AI. “Era yang biasanya dipraktekkan oleh media-media suepertinya sudah tidak berlaku lagi saat ini dan mulai beralih ke era dimana kita berdiskusi dan menyerahkan tugas kepada AI” buka Rofi.
Lebih lanjut, era digital ini menurut Rofi adalah bagian dari pengembangan saja. “Basis sebenarnya adalah berbicara, tulisan, suara, gambar. Ini hanya pengembangan-pengembangan yang sudah dlakukan di zaman evolusi ini" lanjut Rofi
Ia menambahkan bahwa ada perbedaan antara digital dengan AI. “Digital itu sifatnya seperti perpustakaan raksasa sedangkan AI lebih kepada perpustakaan yang bisa diajak diskusi hingga menyelesaikan pekerjaan” jelas Rofi
Sementara itu Pegiat Pemilu dari Akademi Pemilu dan Demokrasi, M. Abdul Karim Mustofa menjelaskan mengenai pemaknaan dari literasi pengawasan pemilu. “Jadi literasi pengawasan pemilu adalah kemampuan individu dan masyarakat untuk memahami, mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan menggunakan informasi kepemiluan secara kritis guna mendukung pengawasan pemilu yang demokratis, jujur, adil dan berintegritas" jelas Abdul Karim
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa dalam dunia digital pengawasan pemilu ada peluang dan ancaman di era digital pemilu saat ini. “Peluangnya yaitu informasi kepemiluan cepat diakses. Masyarakat bisa mengikuti tahapan pemilu langsung dan berpartisipasi aktif sebagai “mata dan telinga” demokrasi. Sedangkan ancaman politiik juga yang harus diwaspadai adalah hoaks politik, disinformasi, ujaran kebencian, politik identitas, propaganda digital hingga serangan buzzer mennjadi ancaman serius kualitas demokrasi di era digitalisasi pengawasan pemilu” sambungnya.
Disisi yang lain, Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Humas Bawaslu Kabupaten Grobogan, Amal Nur Ngazis menyatakan bahwa literasi digital menjadi sangat penting di era saat ini. “Literasi digital sangat penting karena informasi yang tersebar saat ini sangatlah cepat dan mampu mempengaruhi opini jutaan orang dalam waktu yang singkat. Selain itu, banyaknya modus pelanggaran pemilu yang muncul di ruang maya juga menjadi acuan mengapa literasi pengawasan itu penting untuk disampaikan kepada Masyarakat. Sehingga dari memperbanyak literasi ini, diharapkan menciptakan pemilu yang luber dan jurdil pada pemilu mendatang” ucap Amal.
Momentum literasi pojok pengawasan edisi 14 ini menjadi salah satu momentum penting bagi Bawaslu untuk terus beradaptasi dalam menyesuaikan tugas fungsi dan pokok dengan zaman digital saat ini. Agar nantinya pengawas pemilu dapat menggunakan teknologi terkini dengan lebih bijak dan menghasilkan kualitas pengawasan pemilu yang baik.
Penulis : Noor M Nasyar