Penguatan Kapasitas Pengawas Partisipatif Menuju Pemilu 2029 yang Bermartabat di Kabupaten Semarang
|
Ungaran - Kepala Sekretariat Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Semarang, Marjiono, S.H., hadir sebagai narasumber utama dalam kegiatan Pendidikan Pengawas Partisipatif yang diselenggarakan pada hari Rabu, 22 Juli 2026. Acara penting ini bertempat di Aula Dharma Satya Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Semarang, Jalan Diponegoro Nomor 14, Ungaran. Kehadiran para peserta dari berbagai elemen masyarakat menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam menyongsong pesta demokrasi masa depan.
Dalam pemaparannya, Marjiono menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam mengawal setiap tahapan pemilu secara berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa pengawasan partisipatif tidak boleh hanya dimaknai sebagai kehadiran fisik saat hari pencoblosan semata. Lebih dari itu, pengawasan harus dimulai sejak tahap awal proses kepemiluan guna memastikan integritas demokrasi tetap terjaga dengan baik.
Diskusi interaktif tersebut juga menyoroti pentingnya sinergi antara lembaga pengawas pemilu dengan berbagai pemangku kepentingan di daerah. Marjiono menyebutkan bahwa kolaborasi melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, organisasi kemasyarakatan, mahasiswa, hingga pemilih pemula sangat krusial. Melalui jejaring yang kuat, pengawasan terhadap potensi pelanggaran pemilu dapat dilakukan secara lebih komprehensif dan tepat sasaran.
Selain aspek teknis pengawasan, materi yang disampaikan juga mengupas tuntas empat level pengembangan pengawasan partisipatif yang menjadi acuan kader. Mulai dari level terlatih, terbentuk, berfungsi, hingga level bergerak, masing-masing tahapan memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem pengawasan yang mandiri. Peserta yang hadir, yang sebagian besar merupakan representasi generasi muda, diarahkan untuk mampu naik level melalui aksi nyata di tengah masyarakat.
Marjiono turut mengingatkan para peserta mengenai sejarah panjang perjalanan pemilu di Indonesia sejak tahun 1955 hingga era reformasi dan pemilu serentak saat ini. Pemahaman sejarah ini diberikan agar para kader pengawas memiliki kesadaran historis betapa mahalnya nilai sebuah demokrasi yang bersih dari kecurangan. Transformasi pengawasan dari era orde lama hingga era reformasi menuntut keterlibatan publik yang semakin substansial.
Berbagai bentuk pengawasan partisipatif konkret seperti sosialisasi, pembentukan forum warga, pojok pengawasan, hingga patroli siber turut dipaparkan secara mendalam. Bawaslu Kabupaten Semarang sendiri telah menginisiasi banyak program kolaboratif, termasuk penandatanganan nota kesepahaman dengan berbagai instansi pendidikan dan organisasi kewanitaan. Langkah ini membuktikan komitmen kelembagaan dalam memperluas jangkauan partisipasi publik di seluru wilayah Kabupaten Semarang.
Mengakhiri materi utamanya, Marjiono menyampaikan pesan inspiratif yang melekat di benak peserta bahwa langkah kecil kaum muda hari ini akan menentukan arah integritas demokrasi esok hari. Antusiasme peserta terlihat jelas dari banyaknya pertanyaan kritis yang diajukan selama sesi diskusi berlangsung. Hal ini mencerminkan tingginya kesadaran kolektif untuk mewujudkan Pemilu 2029 yang lebih bermartabat dan berintegritas.
Kegiatan Pendidikan Pengawas Partisipatif ini ditutup dengan sesi foto bersama serta penyerahan penghargaan kepada peserta aktif. Pihak penyelenggara berharap, melalui pembekalan materi yang komprehensif dari Kepala Sekretariat Bawaslu Kabupaten Semarang ini, para peserta dapat menjadi agen perubahan yang membawa semangat pengawasan jujur dan adil di lingkungan masing-masing.
Penulis : Ravi Cahya