Lompat ke isi utama

Berita

Situasi Dilematis Antusias Pemilih, Bawaslu Dorong Warga Tetap Percaya pada Demokrasi

Ketua Bawaslu Kabupaten Semarang, Agus Riyanto (kaos abu) saat berkonsolidasi demokrasi dengan warga perumahan randugunting, Selasa 24 Februari 2026

Ketua Bawaslu Kabupaten Semarang, Agus Riyanto (kaos abu) saat berkonsolidasi demokrasi dengan warga perumahan randugunting, Selasa 24 Februari 2026

Ungaran – Menurunnya antusiasme sebagian masyarakat terhadap pemilu menjadi salah satu dilema sekaligus tantangan besar dalam menjaga kualitas demokrasi. Kondisi tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam kegiatan diskusi dan konsolidasi demokrasi yang dihadiri Ketua Bawaslu Kabupaten Semarang, Agus Riyanto, bersama warga Randugunting, Kecamatan Bergas, Selasa 24 Februari 2026.

Dalam forum tersebut, Agus menyampaikan bahwa berbagai informasi mengenai dugaan pelanggaran, kecurangan, hingga sengketa hasil pemilu yang muncul di ruang publik sering kali memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap proses demokrasi. Tidak sedikit warga yang kemudian merasa pesimis dan mempertanyakan efektivitas pemilu sebagai sarana mewujudkan pemerintahan yang baik.

Menurut Agus, fenomena tersebut perlu disikapi secara bijaksana. Ia mengakui bahwa berbagai persoalan dalam pemilu memang masih menjadi tantangan yang harus terus diperbaiki. Namun demikian, keberadaan mekanisme pengawasan dan penyelesaian sengketa justru menunjukkan bahwa demokrasi memiliki sistem koreksi yang terus bekerja.

“Ketika ada dugaan pelanggaran atau sengketa yang dibawa ke Mahkamah Konstitusi, itu menunjukkan bahwa demokrasi menyediakan ruang penyelesaian secara konstitusional. Artinya, sistem tetap berjalan dan terus melakukan perbaikan,” jelasnya.

Agus menambahkan bahwa menurunnya antusiasme masyarakat juga dipengaruhi oleh persepsi negatif terhadap dunia politik secara umum. Banyak warga yang merasa politik tidak lagi menjadi sarana perjuangan kepentingan rakyat, melainkan lebih identik dengan transaksi dan kepentingan kelompok tertentu.

Menurutnya, persepsi tersebut harus diluruskan melalui pendidikan politik yang berkelanjutan. Masyarakat perlu diberikan pemahaman bahwa kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh kualitas partisipasi warga negara. Semakin banyak masyarakat yang terlibat secara aktif dan kritis, maka semakin kuat pula fondasi demokrasi yang dibangun.

Dalam kesempatan itu, Agus juga mengaitkan persoalan kepercayaan publik dengan maraknya kasus korupsi yang menjadi perhatian masyarakat. Berbagai kasus yang muncul telah memperkuat rasa kecewa sebagian warga terhadap para pemimpin yang terpilih melalui proses demokrasi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kekecewaan tidak boleh berubah menjadi sikap apatis. Justru masyarakat perlu mengambil peran lebih besar dalam mengawasi jalannya pemerintahan dan proses politik agar menghasilkan pemimpin yang berkualitas dan berintegritas.

“Demokrasi membutuhkan partisipasi. Ketika masyarakat tetap terlibat, mengawasi, dan menggunakan hak pilihnya secara bertanggung jawab, maka peluang lahirnya pemimpin yang amanah akan semakin besar,” katanya.

Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut diwarnai berbagai pertanyaan dan masukan dari peserta mengenai kondisi demokrasi saat ini. Warga berharap ruang-ruang dialog seperti ini terus diperbanyak agar masyarakat memiliki kesempatan untuk menyampaikan aspirasi sekaligus memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai kepemiluan dan pengawasan partisipatif.

Melalui konsolidasi demokrasi yang menyentuh langsung masyarakat, Bawaslu Kabupaten Semarang berupaya memperkuat optimisme publik bahwa demokrasi tetap menjadi instrumen terbaik untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih, akuntabel, dan berpihak kepada kepentingan rakyat.

Penulis : Noor M Nasyar