Tanamkan Demokrasi Sejak Bangku Sekolah, Fithriyah : Pemilihan Ketua OSIS Jadi Laboratorium Demokrasi bagi Pelajar
|
Ungaran – Demokrasi tidak semestinya hanya dipahami sebagai mekanisme pergantian kepemimpinan melalui pemilihan umum. Lebih dari itu, demokrasi merupakan proses pembelajaran tentang tanggung jawab, kesetaraan, kebebasan menentukan pilihan, serta penghormatan terhadap hak setiap warga negara. Nilai-nilai tersebut perlu diperkenalkan sejak dini, salah satunya melalui penyelenggaraan Pemilihan Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).
Pemilihan Ketua OSIS menjadi salah satu ruang pembelajaran demokrasi yang paling dekat dengan kehidupan pelajar. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya belajar menentukan siapa yang akan memimpin organisasi sekolah, tetapi juga memahami bagaimana sebuah proses pemilihan harus dilaksanakan secara tertib, terbuka, dan berintegritas.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok bahasan yang diangkat oleh Bawaslu Kabupaten Semarang dalam kegiatan Pendalaman Demokrasi dan Pengawasan Pemilihan Ketua OSIS SMP Negeri 2 Pabelan yang mengangkat tema “Memilih Pemimpin yang Berakhlak dan Berkualitas”, Sabtu, 31 Oktober 2026. Materi yang disampaikan menekankan pentingnya mengintegrasikan prinsip-prinsip pengawasan pemilu ke dalam pelaksanaan pemilihan ketua OSIS.
Dalam materi tersebut, anggota Bawaslu Kabupaten Semarang, Fithriyah menjelaskan bahwa pemilihan ketua OSIS bukan sekadar rutinitas tahunan untuk mengganti kepengurusan organisasi siswa. Kegiatan ini dapat menjadi sarana praktik demokrasi langsung bagi seluruh siswa. Dengan demikian, sekolah memiliki kesempatan untuk memperkenalkan nilai-nilai demokrasi melalui pengalaman nyata, bukan hanya melalui pembelajaran teori di dalam kelas.
"Salah satu prinsip yang perlu ditanamkan adalah LUBER JURDIL, yakni langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Prinsip tersebut menjadi fondasi penting agar setiap siswa memahami bahwa hak memilih harus dihormati, pilihan tidak boleh dipaksakan, dan seluruh proses pemilihan harus berlangsung tanpa kecurangan" ujar Fithriyah.
Lebih lanjut, Fithriyah juga menyampaikan bahwa pembelajaran demokrasi melalui pemilihan Ketua OSIS juga memiliki dimensi pembentukan karakter. "Siswa diajak memahami bahwa menjadi pemimpin bukan semata-mata memperoleh jabatan atau popularitas, melainkan menerima amanah dan tanggung jawab untuk menjalankan organisasi serta memperjuangkan kepentingan bersama" lanjutnya.
Demikian pula bagi siswa yang menggunakan hak pilihnya. Mereka perlu dibiasakan untuk menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan yang rasional, antara lain dengan melihat kemampuan, integritas, visi, misi, dan program kerja calon. Pilihan tidak seharusnya ditentukan hanya karena kedekatan pertemanan, tekanan kelompok, ataupun popularitas kandidat.
Melalui proses tersebut, siswa dapat belajar bahwa perbedaan pilihan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjatuhkan atau merusak hubungan antarsiswa. Sebaliknya, setiap pihak harus mampu menghargai hasil pemilihan sebagai bagian dari kesepakatan bersama yang lahir melalui mekanisme demokratis.
Fithriyah juga menempatkan pengawasan sebagai unsur penting dalam membangun demokrasi sekolah. "Sebuah proses pemilihan yang baik membutuhkan pengawalan agar berjalan sesuai ketentuan dan dapat dipertanggungjawabkan. Pengawasan tidak hanya dimaknai sebagai upaya mencari kesalahan, tetapi lebih jauh sebagai langkah pencegahan agar potensi pelanggaran tidak berkembang menjadi persoalan" tegasnya.
Pengalaman demokrasi di sekolah diharapkan menjadi bekal bagi para pelajar ketika kelak memasuki kehidupan bermasyarakat dan menggunakan hak pilih dalam pemilu yang sesungguhnya. Mereka tidak hanya diharapkan menjadi pemilih yang menggunakan hak suaranya, tetapi juga menjadi warga negara yang memahami pentingnya menjaga integritas proses demokrasi.
Pemilihan Ketua OSIS dengan demikian memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar agenda organisasi sekolah. Kegiatan tersebut merupakan ruang pembentukan kesadaran politik yang sehat, penguatan karakter kepemimpinan, serta penanaman tanggung jawab sebagai warga negara.
Melalui pendidikan demokrasi sejak bangku sekolah, generasi muda diharapkan tumbuh dengan pemahaman bahwa kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang terpilih, tetapi juga oleh bagaimana proses pemilihan itu dilaksanakan.
Penulis : Noor M Nasyar
Dokumentasi : Farhan Aditya P