Cerpen (1) : "Rekening Gendut "
|
Mural karya Rawaksara dalam acara Mural Kawal Pemilu 2019
“Hai, lagi lihat apa Kamu? Dari tadi asyik sendiri dengan gadget!”
“Emm…” Yang ditanya hanya asyik scroll layar gadget dengan mulut mengunyah bakso.
Novi terbiasa dengan kebiasaan teman kuliahnya satu ini, kebiasan buruk Aldi. Bermain gadget kapan pun di mana pun bila ada waktu. Seperti saat ini dia asyik dengan dirinya sendiri, kebisingan di kantin kampus tidak akan bisa membuyarkan konsentrasinya dari layar gadget.
Tiba-tiba Aldi mendongakkan kepala dan matanya teralih dari layar beralih menatap tajam Novi yang tepat berada di depannya. Yang dipandang bersikap masa bodoh, asyik dengan sepiring nasi rames.
“Nov, Kamu tahu nggak sebentar lagi pemilihan kepala daerah yang biasa disingkat pilkada itu loh.” Aldi menunggu respon Novi dengan gemas, tapi yang diajak bicara malah asyik-asyik saja dengan nasi di piringnya “Hai, jawab dong!”
Terlihat wajah jengkel dari raut Novi. Lagi enak-enak makan malah dipaksa menjawab sesuatu yang semua orang juga sudah tahu kalau sebentar lagi akan ada pilkada. “Iya, lalu?” jawab Novi.
“Kok Kamu keliatan nggak antusias sih?”
“Lha aku harus ngapain? Lagian juga belum tahu siapa yang akan maju.”
“Bukan masalah siapa yang akan maju. Tapi dengan adanya pilkada ini rekening kita bisa menggendut.” jelas Aldi.
“Maksud Kamu?”
Aldi menjawab dengan menaikkan bahu dan berwajah songong.
****
Sepanjang mata memandang selalu ada spanduk bahkan baliho yang sudah terpasang berjejeran di sepanjang jalan. Ada tiga warna dominan. Warna Merah, Kuning dan Hijau, tepat persis seperti traffic light. Untung yang ikut kali ini hanya ada 3 kandidat pasangan kalau lebih, bisa seperti pemilihan daerah. Terlalu banyak yang maju tapi tidak tahu apa prestasi yang sudah ditorehkan untuk daerahnya masing-masing.
Tidak masalah siapa saja yang maju, toh semua warga negara Indonesia, mulai berumur 17 tahun sudah boleh mengajukan diri sebagai calon. Namun, yang membuat Novi gerah dari tadi adalah adanya pemasangan spanduk yang ditempelkan di pohon. Pemasangan spanduk yang tidak sesuai dengan peraturan, asal dipaku di pohon.
Tiba di rumah, Novi mengecek handphone siapa tahu ada chat penting. Ternyata hanya dari Aldi “Sudah lihat spanduk-spanduk di jalan kan? Besok setelah jam kuliah pertama temui aku di lapangan basket ya. Gak usah di bales, aku lagi sibuk. See you.”
Wajah Novi tampak sangat kelelahan. Dengan padatnya jadwal kuliah dan masih ditambah kelakuan Aldi, Novi perlahan-lahan menutup mata, merasakan punggung nyaman di atas kasur.
****
Malam hari di lingkungan rumah Novi tak seperti biasa, di depan jalan sudah terpasang tenda yang cukup panjang. Panjang tenda bisa untuk menampung lebih dari satu RT, bila berdiri berjajar berimpit-impitan. Tampak ibu-ibu dan remaja bergotong royong menata tikar dan sound system yang biasa untuk pengajian.
Ibu Novi melihat Novi hanya berdiri di depan pintu memperhatian kegiatan warga.
“Kakak, sini loh bantu ibu nyiapin tempat. Jangan malah bengong di depan pintu!” panggilnya.
Novi segera menghampiri ibu dan tak lupa menutup pintu. “Bu, ini ada apa sih?”
“Akan ada penyuluhan pilkada.”
“Penyuluhannya itu nanti kita disuruh mengenali orang-orang yang maju pilkada ya, Bu.”
“Iya to paling, Ibu nggak tahu.”
“Lha terus ngapain coba dikumpulkan kalo nggak tahu?” Novi mengejar jawaban.
“Daripada Kamu banyak tanya, sana ganti baju dulu, terus ke sini! Duduk dekat Ibu! Dengarkan penyuluh mau bilang apa!” Sudah tak tahu harus jawab apa lagi, yang memang sedari kecil selalu mengejar jawaban yang benar-benar jawaban.
Tampak sudah selesai penataan jalan yang disulap menjadi tempat layak rapat. Para bapak, ibu-ibu, dan remaja telah berganti baju. Serasa sedang menunggu orang penting.
Tak beberapa lama orang yang disebut-sebut akan memberi penyuluhan pilkada datang. Seorang laki-laki dan seorang perempuan menggunakan baju tren saat ini. Bukan seorang paruh baya, mungkin seumuran Novi.
Seperti penyuluhan pada biasanya kenapa harus menggunakan hak suara dan tidak boleh golput. Dari penjelasan yang cukup mendayu-dayu dari tadi hanya menyebutkan satu nama calon. Seperti penggiringan opini.
“Sudah paham ya kenapa tidak boleh golput! Untuk itu bagi warga sini bila memilih calon ini per rumah akan mendapat sembako. Juga uang tanda terima kasih tidak melakukan golput sebesar Rp 50.000.” kata penyuluh laki-laki.
“Tapi, ada syaratnya. Setiap warga yang sudah memilih harap memfoto lembar pilih atau nanti kumpulkan KTP di RT saja. Ngonten geh, Pak RT!” tambah penyuluh perempuan.
Acara yang tadinya senyap tiba-tiba riuh, ada warga yang tergoda dengan sembako dan tergoda uang.
“Pak, itu uang Rp 50.000 untuk setiap rumah atau setiap KTP?”
Bapak mata duitan ini memang terkenal kritis kalau soal uang, satu sen saja akan dicari jika hilang. Ada guratan senyum kecil di ujung bibir Novi, lantaran pertanyaan si bapak itu juga yang dia tunggu.
“Setiap KTP dapat Rp 50.000 jadi kalau satu keluarga ada hak pilih 5 orang, ya dikalikan saja!” jawaban manis, diakhiri senyuman bisnis. Sempurna.
Novi mengerti sekarang, tujuan diadakan rapat dadakan yang mengumpulkan semua warga.
****
Seperti waktu yang dijanjikan, pertemuan Novi dan Aldi di lapangan basket setelah mata kuliah pertama. Sebelum Novi sempat melangkahkan kaki ke pintu, tiba-tiba tangannya digeret Aldi menuju ruang BEM. Selalu begitu bila berjanji, berubah sewaktu-waktu tergantung mood.
BEM merupakan ruangan yang bisa dikatakan tenang buat negosiasi. Ruangan yang sudah terkenal sebagai ring tinju untuk para kritis. Orang-orang yang jago debat. Apalagi Novi ketua BEM.
“Baiklah, apa yang mau Kamu bicarakan? Bila ini nanti tidak mutu, Kamu harus mentraktir aku bakso selama seminggu full!” jutek Novi. Tanda dia mulai bosan.
“Huuuu saya takut nyonya.” Aldi menjawab konyol. “Baiklah aku mau berbisnis denganmu. Tolong jangan sela dulu apa yang kubilang. Pemilihan sebentar lagi, otomatis setiap calon akan membutuhkan banyak suara. Dari situ aku ingin berbisnis denganmu. Saat ini aku sedang memegang calon nomor 3.”
Aldi berhenti sejenak untuk mengetahui reaksi Novi.
“Terus!” Novi melipat tangan di depan dada.
“Oke, aku terusin. Kamu kan ketua BEM, otomatis Kamu punya power besar untuk menggerakkan teman-teman mahasiswa. 70% mahasiswa asli orang sini.”
Novi diam cukup lama, menunggu apa lagi yang akan Aldi katakan, tapi kelihatan justru Aldi yang menunggu reaksi Novi.
“Hanya ini? Kamu buang-buang waktuku!”
Saat Novi akan beranjak, “Tunggu dulu!” Telapak tangan Aldi terulur ke depan, meminta Novi tak pergi.
“Nilai bisnisnya, bila Kamu bisa mengumpulkan 1 suara Kamu bisa mendapatkan Rp 75.000. Jadi kalau dikalikan jumlah mahasiwa yang menggunakan suaranya, Kamu bisa bayangkan berapa uang yang akan masuk ke kita. Belum lagi kalau kita juga masuk ke RT dan komunitas. Setiap RT dan ketua komunitas akan mendapatkan fee tersendiri. Tidak akan mempengaruhi pendapatan kita. Menarik kan? Rekening kita akan sangat menggendut.”
“Rekening gendut!” Jari-jari lentik Novi mengetuk-ngetuk meja. “Cukup menarik.”
Seakan angin surga, Aldi merasa telah bisa mempengaruhi Novi. Ya, sama saja, pikirnya, Novi bisa tergiur uang.
Namun, “Tidak usah bahas uang yang besar dulu. Ambil contoh, warga menerima uang Rp 50.000 , tapi nantinya mereka mempertaruhkan 5 tahun pemerintahan di tangan orang yang tidak jelas trade record. Bila pilihan salah maka kota ini tidak akan pernah maju, bisa saja mundur. Susah mencari pekerjaan, angka kemiskinan meningkat, dan parahnya akan meningkat angka kriminal. Pernah berpikir sampai situ, Aldi?”
“Hah kenapa Kamu berpikir sejauh itu? Yang penting rekening kita.” elak Aldi.
“Mau sampai kapan Kamu akan seperti ini? Kamu tidak berpikir, sebentar lagi lulus. Dan orang-orang yang tidak tepat sedang menikmati jabatan. Apa Kamu yakin uang yang dijanjikan turun?”
Enggan berlama-lama mendengarkan argumen Aldi, Novi beranjak pergi dari ruangan. “Oh ya, coba Kamu cari nama calon yang Kamu usung. Aku baru saja lihat dunia maya sedang memperbincangkan dia atas ketidakbecusannya mengelola perusahaan sampai banyak pegawai yang belum dibayar selama 3 bulan.”tambahnya, sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.
Ting! Suara chat masuk. “Mau rekening gendut? Kerja yang bener dan coba belajar saham!”
Cerpen (1) berjudul "Rekening Gendut" karya Agustina Dwi Jayanti diambil dari buku antologi cerpen “Titipan - Untuk Pemilu yang Berintegritas”, yang diterbitkan Bawaslu Kabupaten Semarang bersama Keluarga Penulis Ungaran (Kelingan) tahun 2019.
#ayoawasibersama #hut4Bawaslu #bawaslu4u #bawaslumengawasi #siapawasi2024