Lompat ke isi utama

Berita

Cerpen (10) :"Titipan"

Cerpen (10) :"Titipan"
Mural karya Rawaksara dalam acara Mural Kawal Pemilu 2019

Sejak Biyanto datang ke rumahnya tiga hari yang lalu, Karto tidak bisa tidur nyenyak. Lazimnya setiap kembali dari rumah, Biyanto membawa pulang seadanya hasil kebun buat  tambahan ongkos. Kali itu Biyanto justru meninggalkan titipan.

“Tolong njih, Pakde, dibagi-bagikan.”

“Ini apa, Le?”

“Titipan.”

Tumpukan amplop yang terikat karet gelang itu diletakkan Biyanto di atas tikar. Karto ingat perasaan senangnya ketika Biyanto dulu dititipkan di rumahnya. Ibunya Biyanto sudah tua, semua anaknya sudah bisa diajak ke ladang atau mengurus sapi, jadi menambah satu bayi lagi di rumah cuma akan merepotkan saja. Karto sendiri juga sudah tua, Marni tidak juga hamil. Biyanto diurus Marni sampai dia pamit meninggalkan rumah selepas SMP.

Karto menatap jemari Biyanto yang kini dipakaikan cincin batu. Dalam enam bulan sejak bertemu terakhir kali, gaya Biyanto berubah. Biyanto yang biasanya bersandal karet, sekarang pakai sepatu olahraga. Biasanya datang pakai kaos lungsuran, sekarang pakai baju yang gambarnya menyolok mata. Yang paling mengagetkan, Biyanto muncul di rumahnya pakai mobil, padahal dulu sepeda saja pinjam punya Karto.

“Menurut data, di dusun sini ada 29 rumah. Itu sudah saya lebihkan satu buat Pakde. Jadi totalnya ada 30.  Hitung-hitung ongkos repot bagi-bagi.”

Lha memangnya ini amplop buat dibagi ke siapa?”

Senyum Biyanto membayang. Senyum yang sama sekali berbeda ketika Karto mendapati Biyanto menyapa gadis yang dulu disukainya. Kini Biyanto tersenyum kepada satu perempuan di sebelahnya. Perempuan paling wangi yang pernah ditemui Karto. Marni pernah sewangi ini, waktu hari ijab kabul.

“Ini buat dibagi ke warga sini, Pak. Bantuan sedikit buat tambah-tambah beli beras.”

Bukan Biyanto yang menjawab, melainkan perempuan itu. Tadi Biyanto mengenalkan namanya: Merpati Sundari, SE, SH, MM, Msc. Tangan Karto jadi tersentuh sedikit ujung jemari berhias warna merah tua itu. Dingin dan lembut seperti es serut.

Karto sebetulnya sungkan menerima perempuan sewangi itu di rumahnya yang reyot. Cangkruk bambu yang baru saja selesai dibuatnya tidak cukup untuk duduk empat orang. Lagi pula dengan pakaian sebagus itu, tidak pantas dipakai duduk-duduk di cangkruk atau di bagian mana pun dari rumahnya.

Untungnya Merpati Sundari, SE, SH, MM, Msc, tampak biasa saja ketika duduk di atas tikar. Teh yang disuguhkan juga langsung dia minum tanpa ragu. Merpati Sundari, SE, SH, MM, Msc, bahkan memuji peyek kacang tolo yang dihidangkan Marni.

Tapi dalam suasana yang seakan wajar itu justru Karto yang merasa tidak nyaman. Biyanto terus menerus memuji-muji Karto. Mengatakan bahwa dia adalah peternak sapi perah paling sukses di dusunnya. Meskipun itu benar, kalau dihitung dari jumlah sapinyalah yang terbanyak, tetap saja membikin Karto sungkan.

Belum lagi Marni memandangi Merpati Sundari, SE, SH, MM, Msc, seolah tanpa berkedip. Membatin, apakah kalung yang menjuntai sampai dada itu dari emas asli, atau plastik seperti yang pernah dibelinya di pasar. Marni diam-diam merasa malu karena hanya punya satu giwang emas saja untuk dipakai ke kondangan. Itu pun warisan dari maknya.

Dengan bibir merona segar, dan bulu mata melengkung tinggi, Merpati Sundari, SE, SH, MM, Msc, adalah perempuan paling cantik yang pernah dilihat Marni secara langsung. Ingin rasanya bertanya di mana dia bisa mendapatkan lipstik yang merahnya menyala indah seperti itu. Lipstik pasar seharga lima ribu malah bikin bibir Marni gatal-gatal. Marni jadi kapok pakai lipstik.

Kalau saja Marni tahu harga tas yang ada di pangkuan Merpati Sundari, SE, SH, MM, Msc, bisa dibuat membeli seluruh sapi di kandang Karto.

“Tapi warga dusun baru saja dapat beras,” jawab Karto santun.

“Ya buat apa sajalah, De,” sambar Biyanto.

Merpati Sundari tersenyum, jemarinya yang lentik nyaris menyentuh ujung jari Karto lagi.

“Anggap ini perkenalan dari saya, Pak. Nanti ke depannya kita bisa bekerja sama lagi.”

Karto tidak paham kerjasama seperti apa yang mungkin dia lakukan bersama Merpati Sundari SE, SH, MM, Msc. Apa bisa Merpati Sundari menebas rumput, atau memerah sapi seperti Marni?

Sepeninggal Merpati Sundari, SE, SH, MM, Msc, tumpukan amplop itu tak tersentuh, cuma dipindahkan Karto ke atas lemari.

“Lik! Lik! Ada telepon!”

Itu suara Karsiman, keponakan Marni. Karto tahu kalau Karsiman sudah punya ponsel. Di awal tahun dia menjual salah satu sapinya. Buat beli tivi, ponsel, sama motor bekas. Berkat motor itu Karsiman tampak punya banyak waktu luang. Buktinya dia sering kelihatan melintasi jalan-jalan di dusun di hari-hari orang biasanya sibuk mencari rumput atau mengurus sapi.

Berkat motor itu pula Karsiman akhirnya beralih profesi jadi tukang ambil susu di dusun. Koperasi desa mempekerjakannya. Sejak punya gaji bulanan, Karsiman menitipkan satu-satunya sapi yang tersisa pada Karto.

“Paklikmu di kandang, Man!” seru Marni dari balik dinding dapur.

Matanya perih kena asap. Tapi hari ini lumayan dia dapat pesanan peyek kacang tolo dua blek. Hatinya masih berbunga membayangkan pujian dari Merpati Sundari SE, SH, MM, Msc akan peyek kacangnya. Bagaikan berkah juga setelah bertemu Merpati Sundari SE, SH, MM, Msc, Marni dapat pesanan ini. Dia bayangkan dirinya jadi pengusaha peyek kacang tolo. Siapa tahu dalam waktu dekat bisa membeli kalung emas panjang seperti Merpati Sundari SE, SH, MM, Msc.

“Eh, Man, sini dulu! Nanti kalau Kamu pulang, Bulik nitip peyek kacang ini ya. Ini pesenannya Bu Trisno. Nanti kamu tak kasih persenan.”

“Wah, Bulik jadi pedagang peyek to sekarang.”

Senyum Marni merekah.

“Ya sedikit-sedikit, syukur pas dapat modal.”

Dimodalin Paklik?”

Wah, yo ora. Paklikmu itu kan cuma percaya sama sapi. Mana mau modalin aku bikin peyek.”

Marni tahu kalau Karto bukan orang miskin. Sapinya saja ada empat. Belum lagi sapi-sapi yang dititipkan padanya. Uang untuk makan sehari-hari memang selalu cukup, tapi Karto hampir tidak pernah memberi uang lebih untuk Marni, atau membelikan Marni pakaian, perhiasan, juga alat-alat kecantikan yang kadang sangat ingin Marni miliki.

Karto kadang lupa kalau istrinya masih bisa dibilang muda. Umurnya saja beda hampir dua puluh tahun. Dari dulu memang Karto terlalu sayang sama sapi, sampai lupa menikah. Umurnya sudah tiga puluh delapan waktu meminang Marni. Tapi setelah menikah sampai judeg Marni harus bersaing mendapatkan perhatian Karto dengan sapi.

Untungnya ada Biyanto, Marni jadi punya teman dan kesibukan. Marni juga jadi yang paling kehilangan ketika Biyanto pamit meninggalkan rumah. Marni tahu Biyanto tidak suka sekolah. Dia mau kerja jadi buruh pabrik supaya bisa dapat duit.

“Lik, ini Mas Biyanto mau nelepon sebentar lagi. Katanya ada perlu penting.”

Karto yang sedang membersihkan ekor sapinya mengulurkan tangan. 

“Ehm, cuci tangan dulu, Lik.”

Baru selesai Karto menaruh ember, ponsel Karsiman berlagu.

“Mau memastikan itu lho, De, apa titipan dari Ibu Merpati Sundari SE, SH, MM, Msc, sudah disampaikan?”

“Belum, Le.”

Terdengar Biyanto mendesah. “Apa masih kurang, Pakde?”

Tiba-tiba Karsiman menjengit hampir bersamaan dengan bunyi aneh dari ponselnya.

“Lik, ini hapenya mau mati ayo cari colokan dulu!”

Karsiman setengah menggeret Karto ke rumah.

“Eh, sek Le, ini Karsiman mau nyari colokan,” ujarnya sambil tergopoh mengikuti langkah Karsiman.

Karsiman akhirnya berhasil menyolok kabel ponsel yang katanya mau mati itu di colokan listrik satu-satunya di dalam rumah Karto. Colokan itu ada di balik lemari tempat menaruh radio. Karsiman mengisyaratkan Karto untuk mendekat sambil menyodorkan ponselnya lagi.

“Ibu Merpati Sundari SE, SH, MM, Msc itu kalau menang, pasti akan lebih banyak lagi yang dikasih beliau buat dusun, dan buat Pakde juga. Jadi segera dikirimkan njih, Pakde, titipannya.”

“Iya, iya, Le.”

Pose Karto sungguh tak nyaman, menerima telepon dengan kepala miring tertambat di balik lemari.

“Sebentar lagi ibu Merpati Sundari SE, SH, MM, Msc itu perlu dukungan dari Pakde dan seluruh warga desa, supaya bisa memajukan desa, ngaten lho.”

“Iya, iya.”

“Pakde kan lihat sendiri, kalau ibu Merpati Sundari SE, SH, MM, Msc itu orangnya sudah cantik, baik lagi.”

“Iya.”

“Saya sudah bilang ke Lik Karsiman, supaya mau ngantar Pakde keliling dusun. Jadi nanti Pakde diantar pake motor, ndak capek.”

Perhatian Karto beralih ke Karsiman. Jempolnya sudah teracung di depan mukanya.

Keesokan hari setelah selesai memerah sapinya, Karto mengambil tumpukan amplop yang terikat karet gelang itu dari atas lemari.

Ketika itu baru Karto sadari, kalau di setiap amplop terdapat foto Merpati Sundari SE, SH, MM, Msc, yang cantik, dan sederet huruf di bawahnya. Tapi Karto tidak lancar membaca.

Karto mulai menghitung. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Demikian diulanginya berkali-kali.

Lho, kok kurang,” gumamnya.

Meski tidak lancar membaca, Karto bisa berhitung. Jelas dalam ingatannya kalau Biyanto menitipkan 30 amplop.

Sekonyong-konyong kepala Karsiman nongol dari balik pintu.          

                        “Lik, monggo, saya sudah siap mengantarkan titipan.”

Karto masih menghitung amplop-amplop yang terserak di atas tikar. Karsiman menyusul berjongkok di sebelahnya.

“Apa ini, Lik? Waah foto siapa ini, ayu banget.” Karsiman memelototi wajah Merpati Sundari SE, SH, MM, Msc, di foto yang sengaja dijepret bersama amplop.

“Ya ini titipannya.”

“Merpati tak pernah ingkar janji,” gumam Karsiman sambil mengingat-ingat. “Dia ini kan yang sering saya lihat di spanduk-spanduk, Lik.”

“Ya ini yang kemari sama Biyanto. Duduk di sini disuguhi teh sama peyek Bulikmu.”

Karsiman tidak bisa membayangkan perempuan secantik Merpati Sundari SE, SH, MM, Msc, duduk di tikar lusuh PakLiknya.

“Orangnya kayak gimana, Lik?”

“Wangi.”

Lha ini isinya apa?”

“Mungkin undangan.”

“Eh, jangan dibuka!”

“Kata Biyanto ini titipan buat warga dusun sini, tho. Berarti yang satu ini buat saya.”

Keduanya lalu terperangah menatap lembaran biru yang muncul dari sobekan amplop.

            “Lha kok, isine duit, Man....”

Karsiman tertegun. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya.

Tiba-tiba Karsiman bergerak panik.

“Lik, ini bahaya. Amplop-amplop ini harus disingkirkan.” Tangannya meraup amplop-amplop yang berserakan. “Cari plastik, Lik. Jangan sampai amplop ini dilihat orang.”

Lho lha kenapa to?”

Karsiman yang berkeliling ruangan menemukan plastik berisi kemasan terigu di sudut lemari.

“Di simpan di sini aja.”

Buru-buru Karsiman menjejalkan amplop-amplop itu ke dalam plastik. Wajah Merpati Sundari SE, SH, MM, Msc jadi kisut.

“Lik amplop-amplop itu bahaya. Kalau ketahuan kita semua bisa ditangkap polisi.”

Karsiman dengan dramatis menceritakan semua tentang pembicaraan orang-orang di koperasi susu, soal lurah yang mau diganti, juga soal orang yang ditangkap polisi karena bagi-bagi minyak goreng yang ditempeli stiker sama dengan foto Merpati Sundari SE, SH, MM, Msc.

Wajah Karto jadi kecut. Kalau dia sampai dipenjara, siapa yang akan mengurusi sapi-sapinya? Kalau sapi-sapi itu telat diperah sebentar saja, mereka sudah gelisah. Apalagi kalau bertahun-tahun. Marni memang bisa memerah sapi, tapi kan tidak bisa mencari rumput, membersihkan kandang, apalagi memandikan sapi.

“Tapi...., bukannya titipan harus diantarkan, Man?”

“Tapi ini namanya nyogok, Lik.”

“Dikembalikan saja, kalau begitu.”

“Kalau dikembalikan juga sama bahayanya. Nanti kalau ibu Merpati Sundari SE, SH, MM, Msc, ini sampai jadi lurah betulan, dusun sini bisa tambah susah, Lik. Bisa-bisa listrik di sini dicabut sama dia.”

Makin kecutlah wajah Karto. Kalau listrik dicabut, Marni tak akan bisa mendengar sandiwara radio yang dia sukai itu lagi setiap jam sepuluh pagi. Dan lagi Karto juga bercita-cita memberikan Marni televisi sama seperti punya Karsiman. Biar Marni tidak kesepian karena Karto sepanjang hari mengurusi sapi. 

“Tapi nanti kalo Biyanto tanya, saya harus jawab apa?”

“Bilang saja sudah.”

Karto ingat terakhir kali berbohong berakhir dengan maklumat dari Bapaknya buat tidur bersama sapi selama tiga hari. Selama tiga hari Karto melihat sapi mulai dari bangun sampai tidur sampai bangun lagi. Membersihkan kandangnya, memandikan, memerah susunya, sampai hidung Karto kebas dengan aroma sapi.

Karto tidak pernah membayangkan kalau dalam hidupnya dia harus berbohong sekali lagi. Tangannya menggenggam erat plastik berisi titipan wajah-wajah Merpati Sundari SE, SH, MM, Msc.

“Terus uangnya ini buat apa?”

“Disembunyikan saja, biar dimakan tikus.”

Ponsel Karsiman berlagu.

“Lik, ini Biyanto.” Karsiman menyodorkan ponselnya. “Ingat kata-kata saya tadi, lho.”

Jemari Karto gemetar menerima ponsel Karsiman. Dia terbayang sapi-sapi kesayangannya di kandang.

Cerpen (10) berjudul “Titipan” karya Winda Oei diambil dari buku antologi cerpen “Titipan – Untuk Pemilu yang Berintegritas”, yang diterbitkan Bawaslu Kabupaten Semarang bersama Keluarga Penulis Ungaran (Kelingan) tahun 2019.

#ayoawasibersama #hut4Bawaslu #bawaslu4u #bawaslumengawasi #siapawasi2024