Lompat ke isi utama

Berita

Cerpen (11) : Andai Aku Bisa Menutupimu Dari Dunia

Cerpen (11) : Andai Aku Bisa Menutupimu Dari Dunia
Mural karya Rawaksara dalam acara Mural Kawal Pemilu 2019

Plak!

“Aduh! Apaan sih!” Deni mengelus kepalanya.

“Halah! Gausah ngeles!” maki Hardi. “Kamu yang kentut barusan kan?”

“Lah? Kok Aku sih. Emang cuma Aku yang bisa kentut!” Deni membela diri.

“Emang semua bisa…tapi cuma kentutmu yang baunya macam sampah yang belum diangkut seminggu!” Hardi menunjuk sengit wajah Deni.

“Apa buktinya??” jawab Deni tak mau kalah.

“Mana ada? Susah dong dibuktiin…ada bunyinya aja masih bisa bilang ‘bukan aku, dia kali’. Apalagi yang senyap tapi ninggal bau yang nggak hilang seminggu gini,” Hardi masih geram. Pasalnya bukan sekali ini saja terjadi.

“Lebay ah!” Deni ngakak.

“Nah kan!” cukup sudah ngakak Deni memberi bukti bagi Hardi.

“Huh! Enak saja!” Deni tidak terima. “Tapi kalau dipikir ini seperti berita kemarin ya?”

“Ngeles mulu!” komentar Hardi.

Nggak! Sensi amat! Cuma kentut aja kok. Itu lo pak Ilham…masa iya sih katanya ijasahnya beli. Padahal setahuku dia emang pinter lo. Intelek gitu,” jelas Deni serius.

“Apa yang terlihat kan belum tentu sebenarnya seperti itu,” jawab Hardi.

“Lah? Kamu percaya juga?” tanya Deni penasaran.

Nggak juga!” jawab Hardi.

“Gimana si? Bikin bingung aja. Plin plan!” vonis Deni.

“Nah ini. Anak kalau kurang wawasan ya seperti ini,” kata Hardi.

“Yeyy…enak aja! Sama aja tuh! Jangan asal nuduh!” balas Deni.

Nggak-lah. Kalau itu sudah sering terbukti,” Hardi nyengir. “Makanya jangan mudah percaya pada pernyataan atau apa kata orang. Tapi cari informasi dulu, benar nggak. Tahun 2019 udah mau berakhir lo! TV ada, radio ada, koran, majalah mau offline online ada semua, gawai apalagi. Pendek kata informasi begitu lengkap tersedia, masa iya percaya gitu aja tanpa cek kebenaran.”

“Eh tapi yang ngomong itu pak Irwan lo. Tahu kan? Orangnya pinter, baik dan rajin beribadah. Kayaknya nggak bakal dia bohong,” kata Deni membela diri.

“Terus dijamin setiap kata yang keluar dari mulutnya pasti benar?” tanya Hardi. “Dia masih manusia juga kan? Bukan Tuhan! Bisa saja khilaf.”

“Terus?” tanya Deni.

“Terus…terus…ya konfirmasi dong! Jangan asal nyebar berita! Udah nggak ada gunanya buat Kamu juga!” kata Hardi.

“Kepo doang,” pelan Deni masih membela diri.

“Kepo kalau pada tempatnya banyak manfaatnya. Nah kalau sekadar asal nyebar dan komen, itu nyinyir namanya! Nggak penting banget!” kata Hardi.

“Kamu pinter banget sih. Bangga jadi temanmu,” Deni bergeser memeluk Hardi nan mesra.

“Apaan sih! Jijik ah! Sana!” Hardi menepis bahu Deni dengan wajah keki. Deni malah makin merapat.

Plak!

“Aduh! Apaan sih?” Hardi mengelus kepalanya.

“Kali ini Kamu kan yang kentut!” tuduh Deni. “Jelas bukan Aku!”

“Enak aja! Kalau mau balas bilang aja!” Hardi mulai emosi. “Berarti yang tadi jelas Kamu kan?”

Meongg…

Kucing tetangga yang sedari tadi nangkring di jendela rumah Hardi melompat. Sepertinya jenuh dengan pertengkaran mereka, dua sahabat sejati.

“Har!” panggil Ibu.

“Ya, Bu!” sahut Hardi.

“Dicari Siska ni!”

“Iya, Bu, I am coming!” sahut Deni penuh semangat, dan dengan semangat empat lima pula segera beranjak. Tentu saja Hardi tidak tinggal diam. Ditariknya kerah baju Deni. Meski terjengkang, Deni berhasil meraih kerah baju Hardi pula. Perlu lebih dari lima menit bagi mereka hanya sekadar untuk meraih gagang pintu.

Begitu sampai di depan ibu dengan harapan melambung.

“Siska sudah pulang. Dia hanya menitipkan ini,” Ibu menyodorkan sebuah buku.

Hardi dan Deni saling pandang. “Apa pula ini,” batin mereka. Mereka sungguh yakin seyakin-yakinnya bahwa semua orang di dunia ini tentu paham kalau mereka berdua bukan pencinta buku. Apalagi termasuk golongan intelektual. Jelas ini bukan cara yang benar untuk mendekati mereka. Hampir bersamaan mereka geleng kepala. Ibu meraih tangan Hardi dan meletakkan buku itu dalam genggamannya. Lalu beranjak kembali ke dapur sambil geleng kepala juga.

Hardi dan Deni kembali saling pandang. Lalu duduk berdampingan dan mulai membaca deretan kata yang sepertinya tulisan tangan Siska sendiri.

Teman, kalian ingat lagu ini?

…dan akupun berharap, semoga kita tak berpisah dan kau maafkan segala yang telah kubuat…

Ya, benar. Itu lagu Reza artamevia yang pernah kamu nyanyikan dengan suara terbaikmu, Hardi. Sayang masih sumbang.

Teman, ingat juga lagu ini?

…Jika teringat tentang dikau jauh di mata dekat di hati…

Yes! Lagi-lagi kalian benar. Itu lagunya Ari lasso. Baiklah, begitu saja. aku pamit.

Yayang Siska

Perlu beberapa menit bagi otak mereka yang terbatas untuk mencerna dan akhirnya melompat cepat, berlari kuat, mencoba mengejar si manis, kekasih hati mereka.

Setelah terseok beberapa kali di tikungan, dimaki mak-mak yang nyaris terserempet dan hampir terjungkal karena ngerem mendadak, akhirnya mereka berhasil. Berhasil mendapatkan lambaian tangan sang kekasih hati, yayang Siska. Begitulah, mereka datang di saat yang tepat. Tepat saat Siska bersama keluarganya berangkat meninggalkan halaman rumah yang selama ini jadi tempat nongkrong mereka di malam minggu. Sungguh tragis!

Nasib Siska tak kalah tragis. Gara-gara isu ijasah palsu Pak Ilham, ayahnya, dia harus pindah. Ayahnya bangkrut. Rumah keluarga mesti mereka jual untuk menebus mahar politik yang tak sedikit. Beruntung masih ada rumah orang tua di kampung tempat mereka bisa pulang. Meski begitu kabarnya sang ibu sudah telanjur linglung. Tentu saja, hidup sebagai ibu ibu sosialita yang dilakoninya selama ini hilang begitu saja dalam sekejap. Riuh ibu-ibu temannya menggosip dan arisan berganti menjadi suara jangkrik yang setia menemaninya dalam sendiri.

“Ah! Andai Aku bisa menutupimu dari dunia…menguncimu dalam pandangku. Sehingga hanya ada Aku dalam pandangmu… .”

Plak!

“Aduh! Apaan sih??” Deni mengelus kepalanya.

Cerpen (11) berjudul “Andai Aku Bisa Menutupimu Dari Dunia” karya Rie diambil dari buku antologi cerpen “Titipan – Untuk Pemilu yang Berintegritas”, yang diterbitkan Bawaslu Kabupaten Semarang bersama Keluarga Penulis Ungaran (Kelingan) tahun 2019.

#ayoawasibersama #hut4Bawaslu #bawaslu4u #bawaslumengawasi #siapawasi2024