Lompat ke isi utama

Berita

Cerpen (13) : "Cinta Black Campaign"

Cerpen (13) : "Cinta Black Campaign"
Mural karya Rawaksara dalam acara Mural Kawal Pemilu 2019

Fayla Arundhati adalah gadis impian semua cowok di SMA Beringin. Wajahnya teduh kayak Kota Ungaran jika sedang digelayuti awan mendung. Semua yang ada di wajahnya simetris dan bikin semua klepek-klepek kayak lagu dangdut koplo Via Vallen, saat melihatnya.

Rambutnya tergerai lurus sepunggung tanpa ternodai pewarna rambut apalagi catok ajaib. Hitam berkilau tanpa zat adiktif. Ia juga ramah dan tidak pernah melengos jika disapa siapa pun. Pembawaannya kalem tapi ia juga bisa terbahak-bahak mendengar lelucon temannya. Siapa yang tidak jatuh hati dengan gadis bak model Asia's Next Top Model, namun membumi?

Fayla Arundhati adalah kita, begitu motto diam-diam para cowok satu sekolahan. Sayangnya, hingga saat ini tak ada yang mengklaim kepemilikan cowok bermata bulat dan bening dengan bibir ombre merona merah ala Korea.

Tanpa disadari, ada kompetisi diam-diam di antara para siswa cowok di sekolah untuk memperebutkannya. Masing-masing berusaha menampakkan kelebihannya di depan gadis berkulit cemerlang dan beralis tebal alami tanpa disulam itu.

Aryandaru yang bapaknya pengusaha terkenal, berusaha memamerkan mobil sedan sport terbaru hadiah sunatan eh naik kelas  dari bapaknya. Ia berhenti di depan halte BRT Trans Semarang berusaha mengajak gadis itu naik ke mobilnya dan mengantarnya pulang.

"Terima kasih Aryan, tapi aku sudah janjian dengan Dulcie mau bikin tugas di rumahnya," balas gadis itu halus.

Aryan tersenyum kecut. Fayla memang bukan gadis biasa. Tak terbuai dengan Mercy. Apalagi ayahnya juga pejabat tinggi. Sudah biasa dengan mobil bagus.

Kali ini, Farrel yang mendekatinya. Cowok berwajah tampan sedikit gelap bak Kai Exo dengan kearifan lokal itu berusaha menggunakan pesonanya, senyum memikat yang bikin cewek satu sekolah plus ibu-ibu guru di sekolah  terpikat.  Farrel yang selebgram dengan follower 10.001 itu percaya ia akan mudah menggaet Fayla dengan ketenarannya yang tersohor di Kabupaten Semarang dan sekitarnya.

Malangnya, Fayla biasa-biasa saja menghadapi Farrel. Boro-boro tertarik, ya, ia  membalas sapaan plus bonus senyumnya yang bikin deg deg splash. Tapi, Fay menolak saat Farrel minta  ditemani pemotretan barang endorse obat pemutih ketek di taman belakang sekolah.

"Lagian ngajak cewek tuh ke kafe, bioskop, minimal mal atau Pusat Perbelanjaan Luwes, kek. Lah ini ngajak pemotretan barang untuk endorse dikebun belakang, dia sudah curiga bakal dimanfaatkan habis-habisan,  disuruh motretin atau nyisirin jambulmu," omel Dohwa cowok peranakan Korea sahabat Farrel, gemas.

Gila, sobatnya ini berasa member EXO beneran kali ya? Masa mengajak cewek yang ditaksirnya pemotretan obat pemutih ketek? Pede abis! Rasanya Dohwa ingin menjitak ubun-ubun Farrel, gemas. Mending dia saja yang mengajak Fayla! Huh.

Tak hanya kedua jomblo berkualitas itu, Gani, cowok paling pintar dan berperut six pack di kelas sebelah juga naksir Kayla. Ia dengar dari Dulcie, sahabat Fayla, kalau ia ingin rutin berolahraga biar lebih bugar. Tapi, Fayla bosan renang. Gadis itu sudah jadi atlet renang sejak SD. Sedangkan Dulcie, gadis imut itu lebih memilih rebahan daripada menemani Fay olahraga.

Tring! Lonceng di otak Gani berbunyi kencang. Langsung deh Gani mengambil peluang emas itu dengan mendadak muncul di teras rumah Fayla pada hari Minggu pagi.

"Pagi, Fayla, aku kebetulan sedang olahraga di sekitar sini. Aku iseng mampir ke sini mengajakmu lari pagi. Mau tidak?"

Kayla yang saat itu belum cuci muka tapi nampak glowing kaget, tapi menyambut antusias ajakan cowok berbaju olahraga itu.

"Mau, mau! Kok Kamu tahu sih aku pengen jogging? Aku ganti baju dulu ya!"

Gani tersenyum lebar sekali hingga kedua kuping. Hahaha. Gadis itu juga pasti kaget sekali kalau tahu rumah Gani sekitar 15 km dari sana tapi ia sudah standby dengan wajah gantengnya pagi buta! Habis ngeronda, Gan?

"Demi cinta…" ujar Gani yang keringatan karena harus naik-turun angkot berkali-kali demi tiba di rumah Kayla. Soalnya, motornya mendadak dipinjam Bapak dan Ibu buat ke pasar. Motor Bapak mendadak mogok.

Keduanya adu kuatmengelilingi jogging track di lapangan dekat perumahan Fayla yang lumayan mewah. Setelah itu, Fayla mengajaknya ke gym masih di kompleks perumahan yang sama.

"Maaf ya, Gani, Kamu jadi repot. Nanti kita jogging dekat sekolah saja biar Kamu nggak capek ke sini," Ujar Fayla memperbaiki kaus longgarnya.

Ia senang karena akhirnya ada teman untuk olahraga bareng. Teman-teman ceweknya sukanya mager. Lebih suka rebahan daripada cari keringat dengan olahraga. Padahal cita-cita mereka mulia, pengin kurus kabeh! Huuu, Eotteoke?

"Tenang saja. Olahraga di sini tiga kali sehari aku pun bersedia dan sanggup, kok," sahut Gani mengusap keningnya yang semulus kening Uri Leader Suho EXO, si serbuk berlian. Hanya beda nasib saja, hihi.

Fayla tertawa. Mereka mengayuh sepeda statis berdua sambil mengobrol. Hati Gani berbunga-bunga. Rasa sukanya menjadi-jadi, mendekati jatuh cinta. Ia tak ingin hari ini berakhir..

***

Berbulan-bulan sudah,

Kedekatan keduanya mengundang tanda tanya anak satu sekolah. Tak jarang, Fay main basket bareng cowok-cowok. Tentu saja karena ada Gani. Di mana ada Gani, disitu ada Fayla, bidadari timeline eh sekolah.

Melihat itu, Aryandaru panas bukan kepalang. Ia tak menyangka, cowok semiskin Gani bisa melunakkan Fay. Nggak pakai mobil mewah, hanya bermodalkan ongkos 3500 naik Trans Semarang! Diskon pakai akun Gopay lagi 50%, huh!

Ia tidak rela. Outfit yang ada di tubuh Gani tak seujung kuku dengan apa yang ia pakai saat ini. Masa, kaus oblong Gucci miliknya yang kembaran dengan Kai Exo bisa kalah memesona dari kaus diskon seratus ribu tiga di Matahari Simpang Lima yang dikenakan Gani? Apakah Fayla menderita rabun akut?

Masa, parfum mahal dari butik di Semarang yang ia pakai kalah bersaing dari cologne 15 ribuan yang dipakai Gani? Kok bisa, Fayla tertawa-tawa tanpa bersin dekat cowok misqueen itu?

Aryan teringat percakapan selintas lalu yang ia dengar secara tak sengaja dua minggu lalu di kelas. Saat itu, ia tak ambil pusing tapi kalau dipikir kembali, pasti ada maksud buruk Gani mendekati Fayla!

"Aku sudah bekerja dan menabung sejak lama untuk biaya kuliah. Aku juga sedang berusaha mencari beasiswa dan menanti kabar. Aku harus usaha apa lagi ya?" Keluh Gani, lesu.

"Minta tolong pada Fayla. Papanya kan pejabat di kampus incaranmu," sahut cowok di depan Gani.

Gani menggeleng.

Hm, pasti saat itu Gani mendadak ide untuk mendekati Fayla, agar bisa mendekati Papanya, entah dengan cara bagaimana agar bisa lolos jurusan idamannya! Dasar cowok licik!

****

Ia mendekati Lubna gadis manis yang sudah lama naksir Aryan yang sedang mengobrol dengan Inggrid, sahabatnya yang tukang gosip.

"Menurut kalian, bagaimana Fayla dan Gani?"

"Gani tuh cakep dan pintar, cocok banget dengan Fay. Lagian semoga Fay cepat mengakhiri kejombloannya biar kita nggak ada saingan berat," Inggrid mengibaskan poninya, bersemangat.

"Iya, mereka serasi, seperti kita..." Lubna tersipu melirik Aryan.

"Aku kasihan pada Fayla. Tahu tidak,  Gani sebenarnya mendekati Fayla karena ayah gadis itu adalah pejabat tinggi di kampus yang diincar Gani di Jakarta. Bukan rahasia lagi kalau Gani terobsesi pengen masuk kampus nomor satu di Indonesia itu."

Lubna dan Inggrid terpana tak percaya.

Nilai rapor Gani memang memuaskan, kegiatan ekstrakurikulernya pun keren, Gani punya segudang prestasi di bidang olahraga dan debat Bahasa Inggris tingkat Jateng tapi, jurusan kuliah yang ingin dimasuki cowok itu butuh biaya besar.

Sedangkan pekerjaan ayah ibunya hanya pedagang sayuran sederhana di Pasar Karangjati, Ungaran. Gani harus punya backing kuat agar bisa kuliah di kampus idamannya. Ia sedang melamar berbagai beasiswa namun belum ada kabar.

"Jangan bilang kalau info ini dari aku ya, aku dengar sendiri Gani ngobrol sama sahabatnya Rayyan di kelas dua Minggu lalu setelah itu Gani mulai akrab dengan Fayla.”

Lubna dan Inggrid mengangguk patuh.

"Kamu bisa memercayaiku, Yan!" Kata Inggrid dengan wajah berseri, tak sabar menyebarkan berita menggemparkan ini, ia menarik lengan Lubna, yang tak rela menjauh dari Aryan. Aryandaru tersenyum licik ala sinetron Indonesia.

****

Seperti sudah diduga,

Kabar itu menyebar cepat. Dengan tambahan infonya dari sumber terpercaya. Fayla berusaha menemui Gani, mengonfirmasi kabar burung yang beredar luas. Cowok itu menemuinya dengan muka pias.

"Aku memang sempat ngomong tentang cara agar bisa lulus di kampus idaman dengan Rayyan, tapi aku tidak bilang kalau aku mendekatimu untuk kenalan dengan Papamu. Aku tidak selicik itu," Gani duduk di depan Fayla yang nyaris menangis.

"Aku sudah biasa, Gan. Cowok dan cewek mendekatiku karena ada maunya. Tapi, aku tak menyangka, Kamu yang nampak tulus dan baik, ternyata berbuat itu. Aku kira, Kamu sayang aku,"

Gani makin pias. "Aku memang sayang Kamu, Fay!"

Fayla berdiri tiba-tiba. "Aku senang mendengarnya Gani, tapi tak tahu apakah kata-katamu tulus, maafkan aku!" Fayla berlari keluar kelas. Air matanya bercucuran. Gani hanya bisa mematung. Separuh jiwanya serasa melayang pergi..

****

"Gani, aku tahu Aryan yang melakukan black campaign tentangmu. Aku sudah menginterogasi Lubna dan Inggrid, dari merekalah desas-desus itu bermula. Walaupun mereka bilang dari sumber terpercaya, yang dimaksud adalah Aryan yang juga mencintai Fayla. Kamu harus bicara pada Fayla! Ia menyayangimu!" Bujuk Rayyan.

Gani menggeleng. "Namaku sudah telanjur rusak karena black campaign dan hoax yang disebarkan Aryan, Lubna dan Inggrid. Kredibilitasku sudah hancur di mata Fayla, Yan. Percuma dijelaskan. Ia lebih percaya desas-desus daripada perkataanku."

"Katanya cinta, kok tak diperjuangkan!" Rayyan mengguncang bahu sahabatnya, gemas.

"Ya, tapi cinta butuh kepercayaan. Kalau Fayla percaya black campaign dan hoax tentangku, berarti ia kurang tulus mencintaiku," ujar Gani sendu. "Aku tuh kayak caleg yang tidak dipercaya oleh pemilihnya, untuk apa semua kuperjuangkan?"

"Ya, karena cinta perlu diperjuangkan. Seperti caleg, kamu harus berjuang untuk dipercaya pemilihmu, dan harus kamu buktikan janjimu pada mereka! Sama kayak cintamu pada Fayla, butuh perjuangan dan pembuktian!" Balas Rayyan yang cita-citanya masuk kuliah Jurusan Politik kelak.

Gani terdiam. Ya, ia harus membuktikan pada Fayla bahwa cintanya tulus, tak kalah oleh black campaign dan hoax ciptaan Aryan. Ia harus memperjuangkan cintanya!

"Fayla, aku akan ke kelasmu, jangan pulang dulu!" Teriak Gani menelpon Fayla. Ia lalu berlari mengejar cintanya di kelas paling ujung, di lantai tiga.

Rayyan tersenyum puas, berhasil membujuk Gani. Cowok berkacamata itu bangga, ia berbakat jadi politikus, merayu masyarakat untuk memilihnya….

Tamat

Cerpen (13) berjudul “Cinta Black Campaign” karya Dewi “Dedew” Rieka diambil dari buku antologi cerpen “Titipan – Untuk Pemilu yang Berintegritas”, yang diterbitkan Bawaslu Kabupaten Semarang bersama Keluarga Penulis Ungaran (Kelingan) tahun 2019.

#ayoawasibersama #hut4Bawaslu #bawaslu4u #bawaslumengawasi #siapawasi2024