Lompat ke isi utama

Berita

Cerpen (14) : "Black Campaign Akbar"

Cerpen (14) : "Black Campaign Akbar"
Mural karya Rawaksara dalam acara Mural Kawal Pemilu 2019

Entah kenapa tingkah laku Ben terasa aneh akhir-akhir ini. Biasanya dia mau-mau saja kuajak pulang sekolah lewat jalan memutar jauh dari jalur pulang menuju rumahnya. Bukannya tanpa pamrih sih. Ben sengaja mau barengan pulang sekolah denganku karena pengin diajari main Mobile Legend. Di rumah dia tidak boleh mainan game itu oleh orangtuanya.

Ya kan, hari gini masak cowok tidak bisa main Mobile Legend. Ben malu sekali ketika teman-teman asyik mabar (main bareng) dan saling berteriak ‘savage’, ‘double kill’ dan istilah-istilah dalam Mobile Legend lainnya sedangkan dia hanya diam saja tak tahu apa-apa.

Papa dan mama tidak pernah melarangku main game Mobile Legend karena selama ini prestasiku di sekolah baik-baik saja. Predikat juara kelas selalu ada di tanganku meskipun aku jarang belajar. Bukannya menyepelekan pelajaran sih. Aku lebih senang secepat mungkin menyelesaikan membaca tuntas semua pelajaran cepat-cepat agar bisa segera mainan game kesukaanku. Itu saja.

Aku sih senang-senang saja Ben main ke rumahku, jadi seru banget ada teman untuk mainan bareng di rumah. Biasanya papa dan mama belum pulang dari kantor saat aku sampai di rumah. Kehadiran Ben lumayanlah, aku jadi tidak sendirian di rumah. Kalau nggak ada dia, uwwwhhh… rumah rasanya kosong banget. Nungguin papa dan mama pulang dari kantor tuh serasa seabad lamanya.

Nah, setelah berminggu-minggu ditemani Ben, rasanya aneh banget ketika dia pelan-pelan mulai menjauhiku. Entah kenapa ya kok bisa begitu. Mau tanya ke Ben langsung kok kayaknya nggak enak.

“Rik, Kamu yakin bakalan menyampaikan hal ini di pidatomu nanti?”

Ah, lamunanku buyar ketika Pandu menanyakan sesuatu padaku. Dia menanyakan apakah aku serius ingin menyampaikan tentang pentingnya fasilitas internet bagi kemajuan prestasi murid-murid di sekolah. Terutama dukungan sekolah untuk murid-murid yang ingin jadi atlet E-sport.

“Ada yang salah, Bro?”

“Nggak ada yang salah Rik, tapi apa kamu yakin hal itu bisa memberikan nilai tambah bagimu sebagai calon Ketua OSIS di pemilihan nanti?” Pandu masih terus mencecarku.

What’s wrong? Lihat dong, di kancah nasional maupun internasional, cabang olahraga E-sport ini makin mendapatkan perhatian pemerintah. Sudah difasilitasi loh.”

“Apa guru-guru juga bakalan setuju?”

Entahlah. Rasanya memang rada susah ya menyampaikan pendapat kepada mereka yang memiliki pendapat konvensional seperti Pandu. Apakah mungkin nanti para guru juga sepemikiran dengan Pandu?

Sesaat kulihat Ben lewat tak jauh dari tempatku berbincang dengan Pandu. Cepat-cepat kualihkan pandangan dari wajah Pandu. Kuikuti gerakan Ben yang berjalan menghindariku. Aku sudah berdiri dan berniat memanggilnya. Tapi….

Gerakanku seperti freezing ketika kulihat Ben berbicara dengan Akbar. Mereka berdua sepertinya tau kalau aku melihat dan sengaja secepat mungkin menjauh.

Akbar adalah kandidat ketua OSIS selain diriku. Aku tak begitu mengenal Akbar, hanya tahu kalau dia anggota klub Paskibra di sekolah. Badannya tinggi tegap, kulit kecoklatan, dan satu lagi yang paling menonjol: idola cewek-cewek di sekolah.

Hmmm.. aku sebenarnya minder kalau harus bersaing dengan Akbar. Namun teman-temanku dari klub robotic dan para guru menyemangati. Mereka meyakinkan bahwa aku juga punya kemampuan untuk mencalonkan diri.

Ya sudahlah akhirnya aku mewakili kelasku dalam pencalonan Ketua OSIS ini. Papa dan mama juga bangga sekali sepertinya ketika kuceritakan perihal ini. Jadi aku pun merasa semangat untuk ikutan proses keorganisasian di sekolahku.

Yang tak kusangka tuh ya, justru di saat-saat seperti ini Ben malah tidak ada di sisiku. Dia yang kuanggap sudah menjadi teman baikku malah menjauh tanpa sebab yang jelas. Bikin penasaran deh. Aku harus mencari tau tentang hal ini.

****

“Iya, sekarang Erik jadi sombong ya setelah ikutan Pemilos alias Pemilihan Ketua OSIS itu.”

“Nah, apa kubilang Ben. Dia tuh obsesi banget pengin jadi ketua. Temannya pun bakalan dia singkirkan kalau tidak sependapat dengan dia.”

“Maksudmu gimana, Bar?” tanya Ben pada Akbar.

“Lihat aja kamu sendiri. Dia jadi nggak mau main sama kamu lagi yang tidak pinter nge-game kayak dia kan? Denger-denger sih dia pengin memajukan dunia E-sport. Menurut dia yang jago nge-game, kamu bakalan nggak cocok dijadikan teman.”

****

Ngapain Kamu di sini?”

Kulihat Ben kaget ketika melihat diriku sudah berada di teras rumahnya. Aku datang bersama Pandu ke sana dan bermaksud meluruskan permasalahan yang terjadi di antara kami.

Tadi kami berdua sudah sempat berbincang-bincang dengan ibunda Ben dan diberitahu bahwa akhir-akhir ini Ben uring-uringan terus di rumah. Marah-marah tak jelas dan sering menyendiri di kamar. Ibunda Ben bilang kalau Ben merasa dikhianati oleh Erik.

What? Mengkhianati dia dalam hal apa? Ini benar-benar di luar dugaan.

“Boleh bicara sebentar, Ben? Nanti kalau setelah bicara kau masih tak suka padaku, it’s fine,” ujarku mencoba untuk bersabar.

“Kayaknya nggak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku capek. Mau tidur.”

“Kok sebelumnya Kamu nggak capek main Mobile Legend di rumahku?”

“Itu dulu. Dulu sebelum kamu berubah.”

Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya itu, sepertinya Ben kaget. Merasa seperti keceplosan.

Hal ini tidak kusia-siakan. Dengan cepat kutarik lengan Ben dan kami berhadapan saling menatap mata satu sama lain.

“Aku mau tanya. Apa coba yang berubah dariku? Bukannya kamu yang sengaja menjauh dariku? Apa gara-gara Pemilos itu aku harus kehilangan kamu teman baikku? Oke. Aku akan mengundurkan diri sebagai kandidat kalau memang itu maumu.”

Pandu pun bangkit dari duduknya dan menengahi kami berdua.

“Sudah… sudah. Bukan kayak gitu tadi rencana kita lho Rik. Ben, ayo duduk dulu. Kebetulan aku mendengar pembicaraanmu dengan Akbar tadi di Lab. Aku belum bilang sama Erik sih, nunggu langsung ketemu sama kamu dulu,” ucap Pandu seraya menyuruh kami berdua untuk duduk dan tidak berdiri saling menantang seperti tadi.

Aku dan Ben yang sama-sama menahan marah pun terpaksa duduk. Aku sendiri kaget ternyata Pandu memiliki informasi yang tidak disampaikan kepadaku sebelumnya.

“Ndu, kok Kamu nggak bilang apa-apa sama aku tadi?” tanyaku.

Dengan kalemnya Pandu menjawab, “Harus ketemu langsung dengan Ben biar cocok konfirmasinya.”

Ben sepertinya juga bingung dengan kelakuan misterius Pandu ini.

“Apa sih, aku nggak ngerti,” celetuk Ben.

Pandu pun melanjutkan aksi sok misteriusnya. Diangkatnya kaki kanan dan ditumpangkan ke kaki kirinya. Diletakkannya lengannya di atas kaki kanan tersebut sembari menutup sedikit mulutnya. Tampangnya serius banget.

Asli, kalau pas tidak kondisi genting begini pengin banget kulempar sepatu mukanya yang menyebalkan ini.

“Apa benar Akbar bilang ke Kamu kalau Erik tak menganggapmu teman gara-gara Kamu nggak jago nge-game?”

Whaattt…. Astaga, berasa kesamber geledek aku mendengar pertanyaan Pandu pada Ben itu.

Ganti kutatap Ben dengan rasa tak percaya. Beneran tak percaya ada kejadian seperti ini.

“Iya.”

Jawaban pendek Ben membuatku lemas. Ah, ternyata itu penyebabnya. Ben dan aku rupanya menjadi korban black campaign yang dilancarkan oleh Akbar terkait Pemilos. Tak kusangka. Benar-benar tak nyangka.

“Terus Kamu percaya sama Akbar dibandingin Erik yang sudah lama jadi teman baikmu?” cecar Pandu.

Ben tak menjawab. Dia memandangku ragu-ragu.

Aku pun menatap Ben. Tentu saja dengan pandangan kesal. Bisa-bisanya loh dia lebih percaya pada Akbar dibandingkan denganku.

“Akbar juga bilang kalau Kamu jadi Ketua OSIS nanti, bakalan ada club E-sport yang khusus untuk anak-anak pintar nge-game. Aku nggak bakal dipilih karena baru mulai belajaran.”

Astaga, Beeeennn… Kok ya mudah percaya begitu saja sih dengan omong kosong seperti itu.

Sudah jelas sekarang duduk perkaranya. Kulihat Pandu memberikan kode padaku agar aku sabar dan tidak marah pada Ben.

“Rik, beneran kamu bakalan gitu kalau kepilih jadi Ketua OSIS?” tanya Pandu.

“Ya nggak-lah. Tak mungkin aku melakukan hal omong kosong seperti itu. Ini ya, misal Ben bilang aku harus mundur dari Pemilos pun bakalan kulakukan. Lebih baik aku nggak ikutan Pemilos sialan itu daripada kehilangan sahabatku,” jawabku menggebu-gebu.

“Sudah, santai aja, Bro,” bujuk Pandu menyabarkanku.

Kulihat Ben jadi salah tingkah di ujung sana. Antara merasa bersalah tapi malu mengakuinya.

Lama kami bertiga diam, saling memandang tanpa bicara apa-apa. Akhirnya aku berdiri dan menghampiri Ben.

“Jadi gimana Ben, menurutmu aku masih harus lanjut ikutan Pemilos atau berhenti sampai di sini agar masih tetap menjadi temanmu?”

Ben tersenyum dan mengajak aku salaman.

“Kapan kita mabar lagi, Rik?” jawabnya sembari mengajak salaman.

Kami bertiga pun tertawa terbahak-bahak. Aku sudah mendapatkan jawaban atas permasalahan yang terjadi antara aku dan Ben.

Cerpen (14) berjudul “Black Campaign Akbar” karya  Uniek Kaswarganti diambil dari buku antologi cerpen “Titipan – Untuk Pemilu yang Berintegritas”, yang diterbitkan Bawaslu Kabupaten Semarang bersama Keluarga Penulis Ungaran (Kelingan) tahun 2019.

#ayoawasibersama #hut4Bawaslu #bawaslu4u #bawaslumengawasi #siapawasi2024