Cerpen (16) : "Bahaya Golput"
|
Mural karya Rawaksara dalam acara Mural Kawal Pemilu 2019
“Leksi...! Udah jam 6 kok belum persiapan entar telat lho!” Kalimat yang hampir setiap hari dinyanyikan ibu.
”Geb!”
“Ya, Mam.“
“Adikmu dah bangun belum sih?”
“Sudah, Mam.“
“Papa mana?”
Kebiasaan papa kalau pagi suka kebablasan baca koran. Jika tak dipanggil mama, tidak beranjak dari kursi kesayangannya.
“Papa…! Piye ta? Ini kan dah jam 6 lewat 15 menit!” nada mama agak naik, yang sontak membuat papa terperanjat.
“Lah emang kenapa?” jawab papa tak bersalah.
“Apa tidak ke kantor? Gimana sih setiap pagi mesti diingatkan! Emangnya mama ini apaan! Mana Mama belum mandi! Ah!”
Entah kenapa pagi ini mama begitu sensi,
“Geby...! Leksi…!”
“Ya, Mam!”
“Ayoo pada sarapan! Ya Allaaaah, kok belum persiapan sih!“
“Mam istriku sayang, ini kan hari Minggu! Jadi nggak ada yang ke kantor dan ke sekolah!” timpal Papa bijak.
Mama hanya diam, lantas berlalu ke kamar mandi. Kebiasaan mama, memang, setiap pagi mengurusi kami. Ya, entah bagaimana kami jika tak ada mama.
“Gimana? Udah ada pilihan?” tanya Papa memecah keheningan.
Mereka berdua hanya menggeleng.
”Lho kok belum?”
Papa menyeruput kopi buatan mama. “Bentar lagi lho, kita mesti gunakan hak suara untuk daerah ini ke depan.”
“Geby bingung, Pa!”
“Leksi gimana?”
“Kakak aja bingung apalagi Leksi, Pa!”
“Lah kalian kan sering mendatangi kampanye calon gubernur, kok masih binggung?”
“Leksi golput aja, Pa!“
“Lah kok golput?”
“Iya nih Adik, tapi emang Leksi kan masih ada kesempatan di tahun-tahun berikutnya! Kalau Papa mau pilih yang mana?” tanya Geby.
“Ya pilihan Papa pasti nomor 1.” sahut Mama yang baru keluar dari kamar mandi. ”Kalian pilih itu aja! Dah jelas orangnya, kiprahnya dan pastinya tidak mengecewakan.”
“Lho, lho, kok anak-anak diintimidasi! Biarkan mereka memilih sendiri ta, Mam!”
“Ya nggak bisa begitu ta, Pa. Mereka harus diarahkan. Jika tidak, mereka akan salah pilih. Mau jadi apa bangsa ini jika rakyat salah pilih. Kalian jangan golput lho!”
”Ya, Mam.“ jawab kami serentak, agar kemarahan mama tidak memuncak. Karena sejak pagi sudah membara.
“Terus pemilihan ketua senat di kampusmu gimana, Geb?” tanya papa.
“Senin, Pa, pemilihannya.“
Hemmm, tampak papa bergumang sambil mengunyah.
“Mbak ikutan jadi kandidiat?“
“Mbak nggak ikutan, Dik, tapi terpilih.”
****
“Hai, Geby!” sapa Sasti, teman sebangku Geby yang sejak tadi berada di loby atas. Sasti bergaun batik melambaikan tangan, agar Geby mengarah padanya. “Gimana kabar pagi ini?”
“Alhamdulilah baik, Sas.” senyum manis khas Geby menghambur ke seisi kelas, membuat semua temannya tersenyum sambil melambaikan tangan.
”Hari ini Pak Lutfi hadir nggak?“
“Hadirlah, tadi saya lihat mobilnya.”
“Wah bakal membosankan lagi nih.”
“Kenapa?”
“Saya sebenarnya malas dengan pelajarannya.” jawab Rudy.
“Ada apa dengan Pak Lutfi, kok pada tidak suka?“
“Geby manis, Pak Lutfi itu kalau menjelaskan hanya untukmu bukan buat kami.”
“Hahahaah... cie...cieee… cembokur nih yeee!” seisi kelas tertawa.
”Kok bisa?”
“Kamu nggak nyadar? Apa kura-kura dalam perahu?” Rudy menaikan keningnya di depan Geby, yang duduk di bangku paling depan persis di depan meja dosen.
Geby baru menyadari perkataan Rudy. Pak Lutfi menjelaskan materi, pandangannya selalu mengarah ke dirinya, mahasiswa semester 3 yang kerap mengenakan baju kuning, dan berjilbab hitam. Sehingga membuat wajahya seperti bulan di tengah malam.
Siang itu suasana kampus cukup sibuk, banyak kelas yang mengikuti pemiliahan ketua senat,
“Geb! Kamu dah siap mengikuti pencalonan?“
“Insya Allah Siap, Fer!“
“Ayooo, tuh dipanggil Pak Lutfi!” teriak Susi dengan berlari.
Semua serba tergesah-gesah memang. Beginilah jika akan ada pemilihan, semua sibuk dan berlomba mengutarakan pendapatnya, Geby menggeleng-gelengkan kepala, “Ya Allah berilah hamba-Mu ini kemudahan!”
“Hadirin, Sudara Saudari yang kami hormati....” terdengar suara protokol d iatas panggung. Sekitar 10 calon ketua senat telah berdiri di atas pannggung, di antaranya Geby. Dari 10 nanti akan diambil 3 calon.
****
“Rin, saya kok nggak sreg ya sama kandidat- kandidatnya.”
“Lah kenapa?”
“Sepertinya mereka hanya pasang nampang aja.”
“Lah kemari-kemarin Kamu ke mana saat mereka kampanyae?”
“Saya mau golput aja ah.”
“Lho jangan! Suaramu itu penting untuk kelangsungan kampus kita.”
“Lagian kan nggak ada pegaruhnya jika saya nggak milih.”
“Ya tetap adalah!”
“Masak?” jutek Friska.
“Fris, bayangin ya jika 10 orang seperti kamu, maka kita akan kehilangan 10 suara, nah kalau 20 suara baigaiman? Penting sekali bagi kita untuk memilih, kan dari jauh-jauh hari dah ada kampanye. Kita udah bisa melihat visi misi mereka, Kita juga tahu kehidupan mereka, jadi apa yang membuat Kamu harus golput? Jangan sampai hanya karena ego lho!”
“Tapi banyak kok teman- teman yang pengin golput!”
“Haah, beneran?”
“Iyalah!”
“Bentar ya, Fris!”
Rini lari ke atas panggung, dan terlihat membisikan sesuatu ke Pak Lutfi, dan kemudian “Saudara Saudari yang terhormat.” Serentak suasana di pendopo kampus hening. “Sebagai seorang mahasiswa tentunya kalian sudah sangat memahami arti dari pemilihan, rekan-rekan kalian yang berada di depan kalian ini adalah bakal jadi wakil kalian untuk menyalurkan aspirsi kita semua.” Pak Lutfi terlihat serius, “Oleh karena itu manfaatkan hak suara kalian untuk memilih ketua senat, sungguh disayangkan jika ada di antara kalian memilih abstain.”
Para mahasiswa saling bertatapan. “Saudara saudari,”lanjut Pak Lutfi, “Saya yakin Anda-Anda tahu dan paham betul bahaya jika kita membiarka golput ada di antara kita. Jika tingkat golput semakin tinggi, maka esensi demokrasi luntur. Pemilu adalah jantungnya demokrasi, perwujudan dari kedaulatan rakyat yang akan memilih. Teman-teman kalian terdahulu, para senior dan kalian telah memperjuangkan demokrasi, jadi jangan kalian nodai dengan memilih abstain!”
Friska mencubit Rini “Aduh sakit.“
“Rasain!”
Pak Lutfi masih semangat menjelaskan. ”Maka berjuanglah terus untuk memberantas golput, selain itu sangat berbahaya jika hak-hak kita dipergunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang bisa memanipulasi suara. Mempergunakan suara kita untuk kepentingan calonnya yang kita tidak tahu kiprahnya. Untuk itu kami minta Saudara Saudari memanfaatkan hak suara kepada calon yang sudah Anda kenal kiprahnya. Dan sebentar lagi kita juga akan mengadakan pesta rakyat memilih Gubernur, semoga kalian bisa memerangi golput dan bisa mensosilisasikan ke masyarakat soal bahaya golput!”
Pak Lutfi berpidato panjang lebar, suasana kian hening. Tak satu pun mahasiswa yang bersuara, semua seakan terhipnotis oleh Pak Lutfi, yang saat itu menggunakan batik coklat lurik dengan kacamata hitam, sehingga kewibaannya semakin terpancar. Dengan lesung pipinya yang manis, jelas-jelas tak pernah terlihat marah. Suara riuh tepuk tangan.
“Hai, Sas! lamunin apa toh kok senyum-senyum sendiri?“
“Ah, tidak.” Sasti terbata-bata, terkejut ketahuan bengong.
”Cie...cieee… kesengsem Pak Lutfi ya? Ayo ngaku!” Rini menyenggol bahu Sasti yang tersipu malu.
Pemilihan senat berakhir pada pukul 22.00 WIB, Ada tiga kandidit yang memperebutkan kursi ketua senat. Protokol pun menutup acara penentuan kandidiat ketua Senat, yang akan dilanjutkan minggu depan.
****
“Sampai jam berapa pemilihannya, Geb?” tanya Papa di sela makan pagi.
Pagi itu Mama tumben tak ngomel. Rasanya ada yang kurang, tidak dengar omelan mama,
“Pa!”
“Hhem.”
“Mama ke mana? Kok sepi?“
“Mamamu dah berngkat.”
“Berangkat ke mana, Pa?“
“Mama terpilih menjadi tim bawaslu pemilihan gubernur untuk kecamatan kita.“
“Wahhh Mama keren.”
“Leksi, tahun ini Kamu kali pertama memilih. Gunakan hakmu ya, jangan godput!”
“Iya, Pa. Leksi juga akan kampanye ke teman-teman supaya tak golput.”
“Bagus, kita harus memberantas golput, terutama dari diri sendiri, kelurga baru mayarakat.“
“Setuju!“ teriak Geby dan Leksi.
Cerpen (16) berjudul “Bahaya Golput” karya Rahmatan diambil dari buku antologi cerpen “Titipan – Untuk Pemilu yang Berintegritas”, yang diterbitkan Bawaslu Kabupaten Semarang bersama Keluarga Penulis Ungaran (Kelingan) tahun 2019.
#ayoawasibersama #hut4Bawaslu #bawaslu4u #bawaslumengawasi #siapawasi2024