Lompat ke isi utama

Berita

Cerpen (17) : "Pak Lukas Jono Keren"

Cerpen (17) : "Pak Lukas Jono Keren"
Mural karya Rawaksara dalam acara Mural Kawal Pemilu 2019

Sore itu seperti sore-sore biasa yang lain pada bulan Januari, cuaca mendung. Hujan gerimis mewarnai sore di Kota Ungaran. Isa dan adiknya, Rakai, berada di rumah Tante Christin. Tante Christin, adik kandung Ayah mereka, tinggal satu kompleks perumahan. Hanya beda blok. Mereka datang menghadiri undangan ulang tahun Vima, putri tunggal Tante Christin.

Teman-teman sekompleks sudah banyak yang hadir, termasuk teman-teman satu kelas Vima dari SD Assalam. Rumah Tante Christin nyaris tak bisa menampung mereka. Padahal rumah itu termasuk  paling besar di kompleks Perumahan Bukit Asri. Rumah berlantai dua. Ruang tamunya dua kali luas rata-rata rumah di kompleks. Terlebih lagi ruang tengah. Ruangan yang cukup besar, berlantai kotak-kotak dari keramik mahal berukuran raksasa. Ada pilar kukuh di tengah-tengah ruangan. Dan pilar itu kian berwibawa dengan terpasangnya foto sketsa Om Siregar berukuran 68 x 88 cm. Om Siregar merupakan paman Isa dan Rakai, juga Vima, karena ia adik kandung Tante Christin. Ia calon legislatif tingkat kabupaten dari Partai Matahari. 

Vima berdiri di ujung ruang tengah di antara kedua orang tuanya, Tante Christin dan Om Bagus. Mereka menghadap meja kecil. Kue tar berukuran 30 x 20 sentimeter dengan duabelas lilin menyala di atas meja tersebut. Isa dan Rakai berdiri bareng teman-teman yang lain, berbaris mematung di hadapan Vima, Tante Christin, dan Om Bagus.

“Anak-anakku semua, terima kasih ya telah hadir pada acara ulang tahun keduabelas Vima. Tante bangga pada kalian semua. Hujan-hujan, tapi tetap berangkat ke sini.” Tante Christin mengedarkan pandangan kepada teman-teman Vima. Kemudian dia menoleh ke putri cantiknya. “Nah, Sayang! Sekarang tiup lilinnya!”

Nggak nunggu Om Siregar, Ma!”

Nggak usah kelamaan!” tukas Om Bagus.

Vima mengangguk. Lantas Isa, Rakai, dan segenap teman-teman Vima, serempak meneriakkan, “Tiup...! Tiup...! Tiup...!”

Saat Vima meniup lilin satu per satu, teman-teman mendendangkan happy birthday to you. Dan, seusai lilin keduabelas padam, tepuk tangan pun menggemuruh di ruangan besar itu. Lantas Vima memotong kue tar itu menjadi bagian kecil-kecil. Ia membagikan kepada Tante Christin, Om Bagus. Selang beberapa detik kemudian teman-teman yang lain menghambur mendekati meja kecil tersebut, mengambil potongan kue tar seraya menyalami Vima.

Vima, anak perempuan Tante Christin, yang memakai pakaian tidak biasanya tak henti mengulas senyum bahagia. Ya, tidak sebagaimana biasa. Roknya mengembang lebar dan kedua lengan gaunnya juga menggelembung. Seperti sedang pentas orkes melayu saja. Ia menerima uluran tangan dan ucapan selamat dari teman-temannya, satu per satu. Dan tepat giliran Isa, Vima melengos. Pun kepada Rakai. Senyum mengembangnya mendadak lenyap.

Rakai berbisik tak mengerti kepada kakaknya. Dan tepat saat itu, terdengar derum suara mobil di halaman.

“Ma, itu Om Siregar datang!” seru Vima.

Dan memang benar, Om Siregar beserta Tante Mira masuk. Terulas senyum semringah di bibir mereka. Tampak segar. “Hallo, Sayang, maaf kami telat! Selamat ya, Vim! Tambah pintar pokokmen.” kata Om Siregar. Berikut ia dan istrinya menyalami Vima, Tante Christin, Om Bagus, dan segenap yang memadati ruangan. “Anak-anak, Om pesan, jangan lupa bilang pada papa mama kalian untuk memilih Om ya! Oke!” lanjut Om Siregar.

“Siap, Om!” serempak teman-teman Vima.

Setelah selesai berfoto, teman-teman berpamitan. Mereka berhamburan ke luar sambil menenteng tas kertas mungil berisi cokelat. Tinggal Isa dan Rakai yang masih bertahan di sana.

“Mas Isa titip ini buat Ayah Ibu ya!” tangan halus Tante Christin menyerahkan amplop putih  kepada Isa.

Kemudian, “Ini!” ketus Vima mengangsurkan tas kertas mungil pada Isa dan Rakai. Rakai hanya bisa menatap sedih pada Isa. Ia cepat-cepat menarik tangan kakaknya untuk undur diri.

***

Bola matahari telah menenggelam di cakrawala. Semburat matahari yang memudar usai hujan pelan-pelan menghilang dari pandangan. Cahaya keemasan yang sempat nongol juga sedikit berangsur menjadi keremangan. Dan, sebentar lagi gema azan magrib akan bersahutan.

Isa dan Rakai beriringan menyusuri jalan paving block di bawah lampu penerang tiap rumah warga kompleks menuju rumah.

Assalamu‘alaikum.” Isa dan Rakai bersamaan menyapa saat berdiri di ambang pintu rumah mereka.

Wa‘alaikum salam,” sahut Ibu yang sedang duduk di ruang tamu.

“Wah, bawa apa itu, Nak?” tanya Ayah yang keluar dari ruang dalam.

“Cokelat, Yah,” jawab Rakai.

Isa dan Rakai bergantian mengulurkan tangan, bersalaman dan mencium punggung tangan kedua orang tua mereka.

“Ayo, Kak, buka tasnya!” Rakai tampak tak sabar ingin segera menikmati cokelat istimewa dari keluarga Vima.

“Sabar ta, Dik! Oh iya, Bu, Ayah, ini ada titipan dari Tante Christin.”

“Sama anu, Yah, tadi Om Siregar pesan supaya Ayah Ibu nanti mencoblos Om Siregar. Hah, amit-amit! Padahal aslinya kita nggak akan memilih Om Siregar ta, Yah?” jelas Rakai.

“Huss! Anak kecil tahu apa!” timpal Isa.

“Lha, Ibu bilang gitu kok, Kak! Ayah Ibu akan milih Pak Lukas Jono.” sahut Rakai. “Dan ah iya, Adik jadi tahu sekarang, kenapa tadi Vima begitu sama kita!”

“Emang kenapa Vima?” tanya Ibu.

“Ya, jutek gitulah!” jawab Rakai seraya mengunyah cokelat.

“Sudah, sudah! Yuk kita lihat isi amplop ini saja!” Ayah menyobek ujung amplop putih itu. Ditariknya kertas surat. Dan tidak hanya berisi surat, tapi ada lima lembar uang seratusan ribu. “Coba Ibuk yang baca isi suratnya!”

Salam…

Mas, maaf banget sebelumnya! Saya telah kehabisan kata untuk bilang apa lagi pada Njenengan. Begini, singkat saja, saya dan Mas Bagus bersepakat sekiranya Njenengan dan Mbakyu tetap kukuh memilih Lukas Jono, yang jelas-jelas bukan saudara, teman pun bukan, maka kami akan memutus hubungan persaudaraan. Njenengan kan tahu, Siregar itu adik kandung kita. Ia pengin berderma pada masyarakat. Terus kenapa Njenengan tetap pilih Lukas? Apa karena ia mantan ketua serikat tani?Oh iya, itu ada titipan dari Siregar. Moga berkenan.

Wassalam!

Adikmu

Christina Restu Sasongko

“Lha, Yah, kok Dik Christin sampai tega ngancam gini ke kita?” keluh Ibu.

Biarin aja! Usah kita tanggepin. Lagian si Christin itu juga salah. Ia kan kerja kantoran, di kepegawaian daerah. Jelas ndak boleh begitu. Seorang pegawai negeri mesti netral. Apalagi ini,” sembari mengibas-ngibas lembaran uang, lima lembar seratus ribu itu, “Ini bisa diadukan sebagai tindak kejahatan kelas kakap. Bisa masuk bui dia!

***

Detak jam terus bergulir. Sudah pukul 22.00. Ayah, Ibu, dan Rakai sudah tertidur. Namun, Isa belum bisa memejamkan mata. Dia masih terjaga. Dia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia belum bisa menerima kenyataan Vima, ikut-ikutan membencinya hanya gara-gara Tante Christin berseberangan dengan ayahnya. Benaknya berkecamuk. Dia membayangkan betapa panas suasana pemilu tahun ini. Tante Christin yang ramah, cantik, mesti berjarak dengan ayahnya. Pun Vima, jadi turut membencinya.

Ah, alangkah tak mengenakkan. Isa menyayangi Vima. Isa terkesan dengan tingkah tomboi putri semata wayang Tante Christin itu. Terlebih Vima anak yang cerdas. Ia ingat Vima pernah mengutarakan niatnya untuk mendaftar di SMP Semesta, sekolah unggulan di Kota Ungaran. Dan memang tak sembarang siswa bisa menembus sekolah itu, sekira tak benar-benar pintar. Dan Isa berharap, impian Vima, yang tinggal tiga bulan lagi bakal meninggalkan SD Assalam, terkabul.

“Lo, Sayang, belum tidur?” suara Ibu tiba-tiba dan sontak membuyarkan lamunan Isa.

Isa hanya menggeleng campur kaget. Dia tak menyadari ibunya bangun. Vima dan kehidupan keluarganya yang semula menari dalam benak Isa serta-merta melayang lenyap.

“Ayo tidur, Sayang! Udah hampir pukul sebelas tuh!” bujuk sang ibu.

***

Pagi yang cerah. Matahari telah menyorot penuh dari ufuk. Cahayanya membias pada papan-papan reklame sepanjang Jalan Pattimura, Ungaran. Isa duduk di belakang ibunya, berkendara sepeda motor menuju SMP 1 Ungaran. Pagi itu, mereka turut memadati jalan raya. Berebut kecepatan dengan para pengguna jalan menuju tempat tujuan masing-masing.

Sementara Rakai, berangkat ke SD 5 Lerep bareng Ayah.

“Kenapa berhenti, Bu?” tanya Isa.

“Ada yang nelepon.” Ibu menepi, kemudian merogoh saku mengambil ponsel. “Ya, Vim! Isa… ya ada!” Kemudian Ibu menyerahkan ponsel ke Isa.

Nggak papa, Vim! Ya, nanti Rakai kubilangin. Yap, see you!” Isa mengembalikan ponsel ke Ibu. “Vima minta maaf, Bu. Kita akan tetap bersaudara walau beda pilihan.”

“Ya, baguslah, Nak! Habis nganter kamu ini, Ibu juga mau ke rumahnya. Ketemu Tante Christin dan Om Bagus. Ibu mau ngembaliin uang lima ratus ribu mereka.”

Tepat pukul 07.05, mereka memasuki halaman parkir SMP 1. Pelataran parkir itu lengang. Ya, mereka memang sudah telat kurang-lebih setengah jam dari kebiasaan.

 “Udah ya, Bu,” seru Isa seraya mencium tangan sang ibu. “Assalamu‘alaikum.”

Wa‘alaikum salam,” jawab Ibu sembari mengangguk dan mengulas senyum kepadanya.

“Eh, sebentar, Nak!” seru Ibu menghentikan langkah Isa. “Ada pesan buat Vima nggak? Sabtu dia libur kan!”

“Bilang aja padanya: Pak Lukas Jono keren!”

Ungaran, 01/12/2019

Cerpen (17) berjudul “Pak Lukas Jono Keren” karya Kafha diambil dari buku antologi cerpen “Titipan – Untuk Pemilu yang Berintegritas”, yang diterbitkan Bawaslu Kabupaten Semarang bersama Keluarga Penulis Ungaran (Kelingan) tahun 2019.

#ayoawasibersama #hut4Bawaslu #bawaslu4u #bawaslumengawasi #siapawasi2024