Lompat ke isi utama

Berita

Cerpen (2) : "Dongeng Kong Kalikong"

Cerpen (2) : "Dongeng Kong Kalikong"
Mural karya Rawaksara dalam acara Mural Kawal Pemilu 2019

Terik matahari cukup menyengat menembus kulit tropisku. Siang itu aku kembali berjalan menyusuri jejak langkah yang sama saat aku berangkat ke sekolah pagi ini. Jarak rumah dengan sekolahku cukup dekat. Perjalanan menuju sekolah, cukup dengan berjalan kaki saja. Setiap hari aku selalu melewati rumah Engkong Kalikong. Rumah yang berdiri di atas sepetak tanah berukuran 4 x 4 m² terlihat mungil tetapi cukup rapi. Engkong Kalikong tinggal sendiri. Nama asli Engkong Kalikong adalah Bijak Darmawan, Kalikong adalah julukan yang disematkan oleh masyarakat karena kemampuannya melakukan negosisasi jika terdapat masalah yang terjadi di desaku. Siang ini aku menyempatkan mampir ke rumah Engkong Kalikong. Tampak hadir Ahsan dan Yudha.

“Sudah lama, San, Yud?” sapaku kepada mereka.

“Lumayan, sekitar lima menitan.” jawab Ahsan. Kami bertiga duduk dibangku kayu jati kuno di teras rumah Engkong. Tak berapa lama, Engkong keluar sambil membawa sebuah cangkir di tangan kiri dan piring seng berisi ketela rebus.

“Ayo, ini ketela rebusnya! Jangan dibiarkan merana karena tak disentuh!” kata Engkong Kalikong.

“Iya, Kong. Aku siap merampok semua ketela rebusnya.” celetuk Yudha terkekeh-kekeh.

“Hush, nggak ada bahasa yang lebih baik, Yud? Melahap misalnya.” seruku ketus.

“Sudah, sudah! Tentang rampok merampok, Engkong punya cerita nih.” seru Engkong. Jika Engkong Kalikong sudah memberi ultimatum seperti ini, kami langsung terdiam bersiap menanti cerita seru Engkong. Pokoknya masalah bercerita, Engkong Kalikong jagonya.

“Baiklah, Engkong akan mulai bercerita….“

“Pada suatu hari....” jawab kami serempak memotong kata Engkong.

“Hahaha...nggaklah. Engkong tidak akan memulai cerita dengan kata pada suatu hari. Sudah umum!” jawab Engkong sambil terkekeh.

“Begini ceritanya. Ada sebuah negara bernama Gloos. Letak negara Gloos sangat unik. Tidak sembarang manusia dapat menemukan lokasi negara ini baik di peta maupun teknologi GPS sekali pun. Negara ini dikelilingi oleh hutan lebat, lebih lebat dari hutan Amazon maupun belantara Kalimantan. Tak heran jika banyak yang awam dengan keberadaan negara ini.

            Kondisi negara Gloos yang jauh dari peradaban manusia saat ini, tidak serta merta membuat negara tersebut terbelakang. Justru sebaliknya, negara ini telah memiliki peradaban yang sangat tinggi terutama dalam bidang teknologi. Salah satu teknologi yang tidak ada di negara belahan mana pun yakni Glasgow, sebuah kacamata tembus pandang.”

“Wah, tembus pandang, Kong? Bisa melihat isi dompet Ahsan dong?” selaku.

“Tidak seperti itu, Glasgow memiliki kemampuan melihat dua dunia yakni dunia astral yang dihuni makhluk halus dan dunia kasat mata dengan manusia sebagai penghuni utamanya. Teknologi ini ternyata mampu menyatukan hubungan dua jenis makhluk yang berbeda ini. Mereka dapat hidup berdampingan dan saling berinteraksi satu sama lain di berbagai bidang.”

“Apa tidak serem, Kong? Melihat makhluk halus? Hiii...!”

“Eh, sebentar. Apa yang membuat manusia ketakutan melihat hantu?” tanya Yudha.

“Karena hantu menyeramkan.” jawabku.

“Salah, karena kalian nggak pernah melihat hantu. Coba kalau kalian terbiasa melihat hantu pasti nggak bakal takut deh. Hahaha...” celoteh Yudha dilanjutkan dengan gelak tawa kami semua.

“Bagaimana? Engkong lanjutkan nggak ceritanya?” tanya Engkong Kalikong.

“Iya, Kong.” jawab kami serempak.

            “Masih tentang negara Gloos. Negara ini terdiri dari beragam golongan dari dua dunia. Yakni dunia astral dan dunia kasat mata. Dunia astral dihuni oleh golongan Kunti, Pocong, Genderuwo, tuyul dan para siluman sedangkan manusia tinggal di dunia kasat mata. Negara ini dipimpin oleh seorang presiden. Sesuai dengan undang-undang dasar negara tersebut, presiden dipilih dari calon yang diajukan oleh tiap wakil golongan dua dunia. Dengan demikian maka golongan makhluk halus pun dapat menjadi presiden melalui pemungutan suara setiap lima tahun sekali. Memimpin warga negara Gloos gampang-gampang susah. Karakter dan sifat masing-masing warga sudah masuk pada taraf individualisme akut. Teknologi yang berkembang ternyata mampu mengubah pola perilaku sosial masyarakat Gloos. Perilaku ini merata dari anak-anak hingga dewasa. Bagi mereka yang paling penting dalam hidup adalah bertahan hidup atas kemampuan diri sendiri. Mereka tak lagi membutuhkan orang lain, toh dengan sebuah alat canggih kebutuhan mereka terpenuhi. Anak-anak selalu asyik dengan game online-nya, para wanita asyik dengan toko online dan sosialita dunia maya, sedangkan para lelaki bekerja atas kehendak masing-masing.”

“Kayak Ahsan ya, Kong. Kalau sudah pegang gawai, dunia serasa milik dia saja. Dipanggil pun tak akan menengok.” kata Yudha.

“Memang kamu tidak, Yud? Sama saja.” balas Ahsan.

“Sudah, sudah! Kalau begini terus ceritanya nggak bakal selesai ini.” kata Engkong.

“Baik, Engkong lanjutkan ya. Meskipun demikian sebuah negara tentu membutuhkan pengelola yakni pemerintah. Tahun ini merupakan tahun politik. Pemilihan presiden bakal digelar menjadi pesta warga negara Gloos. Berbagai golongan bersiap menyediakan calon pemimpin. Kunti, pocong, genderuwo, tuyul, para siluman bahkan manusia telah memiliki calonnya masing-masing.”

“Kong, apakah pemilihannya sama seperti pemilihan umum di negara kita?” tanyaku kepada Engkong.

“Hampir sama tetapi ada perbedaan cara memilihnya. Negara Gloos memiliki teknologi yang sangat canggih. Oleh karena itu pemungutan suara dilakukan secara online melalui telepon genggam masing-masing. Warga tidak perlu beranjak dari tempat tinggalnya. Cukup melakukan polling dari aplikasi yang telah disediakan oleh PPDB.”

“Apa PPDB itu, Kong?” tanya Ahsan.

“PPDB ialah Panitia Pemilihan Dunia Bersama. Ya, kalau di negara kita fungsinya mirip KPU. Baik tugasnya maupun kewenangannya.” jelas Engkong Kalikong.

“Bukan hanya pemilihannya saja, tata cara kampanye pun dilakukan dengan teknologi. Calon presiden cukup memiliki channel video di internet. Dari channel tersebut, mereka dapat menyampaikan program kerjanya. Video dalam channel tersebut disebarkan melalui media yang ada di negara Gloos.”

“Wah, keren. Pasti calon presidennya akan bilang jangan lupa klik tombol subscribe, like, share karena subscribe itu gratis....tis, enjoyyy!” celetuk Yudha kembali.

“Huuuu...” timpalku bersama Ahsan.

“Kong, kenapa mereka melakukan cara kampanye dengan video seperti itu, Kong? Nggak seperti di negara kita yang menghadirkan banyak orang di tengah lapangan.” tanyaku kepada Engkong.

“Namanya saja negara dengan peradaban teknologi tinggi, Jul. Mereka tidak mau repot dan sangat efektif dalam hal pemanfaatan waktu. Pun jika melalui internet, jika terjadi perselisihan paling hanya sebatas kata-kata komentar bukan adu fisik di lapangan,” terang Engkong Kalikong.

“Baiklah, lalu siapa kandidat calon presidennya, Kong?”

“Kandidat calon presiden ada 3 makhluk. Yakni pocong, tuyul dan manusia. Pocong diusung oleh golongan kunti dan genderuwo, tuyul diusung oleh para siluman dan bangsa tuyul sendiri, sementara manusia diusulkan oleh bangsa manusia. Singkat cerita, ketiganya mulai melakukan kampanye secara online. Badan pengawas pemilihan terus memantau perkembangan jalannya kampanye. Jika terjadi pelanggaran, mereka tinggal menghapus konten para kandidat maupun simpatisannya karena Bawas ini memiliki akses penuh untuk mengendalikan media yang digunakan untuk kampanye.”

“Wah, seandainya...” celetuk Yudha.

“Seandainya, apa!” kata Ahsan sambil mengepalkan tangannya kepada Yudha.

“Akhirnya siapa yang jadi, Kong?” tanyaku tidak sabar.

“Setelah dilakukan pemungutan suara melalui aplikasi, akhirnya diputuskan bahwa tuyullah yang mendapatkan suara paling banyak.” kata Engkong.

“Lho, tuyul yang berbadan kecil seperti itu kok bisa memenangkan pemilihan suara, Kong? Bagaimana bisa?” protes Ahsan.

“Tuyul sangat cerdik. Ia mampu memainkan strategi berdasarkan jumlah penduduk negara Gloos. Ia tahu bahwa penduduk yang menduduki populasi tertinggi di negara itu adalah manusia. Tuyul tahu bahwa kelemahan manusia ada pada harta. Sesuai dengan kemampuan tuyul mendapatkan uang pada saat fajar didukung oleh sifat manusia yang serakah maka strategi itu berhasil dilakukan. Jika tuyul menawarkan uang kepada para makhluk astral maka mereka pasti akan menolak karena kunti, genderuwo, siluman, pocong hanya doyan kemenyan bukan uang jajan.”

“Hahaha...” kami tertawa bersama-sama.

“Jadi, akhirnya tuyul jadi presiden ya, Kong!” tanyaku.

“Ya, betul. Tuyul ditetapkan oleh PPDB menjadi presiden tanpa melalui persidangan di MKDB sebab tidak ada yang menyanggah hasil pemilihan suara berdasarkan hasil terakhir.”

“MKDB itu...” tanyaku kepada Engkong tetapi dipotong langsung oleh Ahsan.

“Mahkamah Konstitusi Dunia Bersama! Betul, Kong?”

“Ya, benar.”

“Tetapi tuyul kan curang, Kong. Ia menggunakan uang untuk membeli suara dari para manusia. Apakah tidak ada yang melaporkan?” protesku kepada Engkong.

“Tidak ada. Para manusia saat itu berpikir sangat praktis. Bagi mereka yang paling penting adalah uang yang saat ini bisa dirasakan. Masa bodoh dengan siapa pun yang akan jadi presiden. Toh, mereka tetap hidup dan mencari makan sendiri!” jawab Engkong.

“Bagaimana nasib penduduk setelah tuyul jadi presiden, Kong?”

“Nah, ini yang menarik. Sejak tuyul menjadi presiden, banyak rakyat kehilangan uangnya. Hampir setiap malam uang yang mereka simpan hilang selembar demi selembar. Rakyat menjadi semakin sengsara dan menderita. Tahukah kalian siapa yang suka mencuri uang rakyat itu?”

“Tuyul!” jawab kami serempak.

“Hahaha, kalian memang cerdas. Hanya para  tuyullah yang pandai mencuri uang tanpa ketahuan. Begitulah jika ada calon pemimpin yang melakukan cara dengan membeli suara rakyat. Ia pasti akan berpikir untuk mengembalikan uang yang telah diberikannya dan syukur bisa menambah jumlah yang ada.”

“Untung ya, Kong. Negara kita tidak ada pemimpin yang melakukan cara-cara seperti tuyul tadi.” kataku kepada Engkong.

“Benar. Satu hal yang tak kalah penting adalah kita sebagai rakyat jangan mau dibeli suaranya oleh para tuyul itu!”

“Tetapi, Kong. Jika ternyata di negara kita ada calon pemimpin yang melakukan cara seperti tuyul tadi bagaimana, Kong?” tanya Ahsan.

“Berarti dia...?”

“Tuyul...!” jawab kami serempak.

Cerpen (2) berjudul “Dongen Kong Kalikong” karya Estu Pitarto diambil dari buku antologi cerpen “Titipan - Untuk Pemilu yang Berintegritas”, yang diterbitkan Bawaslu Kabupaten Semarang bersama Keluarga Penulis Ungaran (Kelingan) tahun 2019.

#ayoawasibersama #hut4Bawaslu #bawaslu4u #bawaslumengawasi #siapawasi2024