Cerpen (4) : "Amanah di Balik Amplop"
|
Mural karya Rawaksara dalam acara Mural Kawal Pemilu 2019
Kegaduhan terdengar dari beberapa kelas yang berderet pada suatu kompleks bangunan bertingkat tiga. SMA Bina Dharma digegerkan oleh pengumuman yang baru saja disuarakan dari pengeras suara pusat. Beberapa siswa bahkan tampak sudah mulai memenuhi koridor dan meninggalkan kelas masing-masing.
“Ta, besok ke Setos yuk! Mumpung dapat libur.” Nova menyenggol bahu Gita berusaha menarik perhatian sahabatnya itu di tengah keriuhan kelas XII MIPA 6.
“Duh, nggak bisa deh kayaknya, Nov. Aku kan besok harus udah di rumah. Ini juga mau langsung cari tiket buat pulang.” Raut Gita menampilkan sorot penyesalan karena terpaksa menolak ajakan sahabatnya.
“Yah, sekali aja deh Lo nggak pulang pas libur.”
“Nggak bisa, Nov. Kali ini emang harus pulang, aku nggak mau melewatkan momen pertamaku.”
Nova memberengut mendengar keteguhan Gita. Gadis sebayanya itu memang bukan warga asli kota ini. Sebenarnya mereka berdua sama-sama anak kos yang berasal dari luar kota. Gita dari Semarang. Sudah jadi kebiasaan Gita pula untuk mudik setiap masa libur tiba.
“Emang kenapa sih harus buru-buru? Besok kan Jumat, kita ada jatah libur sampai Minggu. Kenapa Lo nggak balik Sabtu aja?” Nova masih berusaha membujuk sahabatnya itu.
“Nggak bisa, Nova,” jelas Gita dengan nada sedikit lelah.
Mendengar ucapan Gita membuat Nova akhirnya menyerah dan melempar ekspresi kecewanya. Gita jadi tidak enak hati, tapi mau bagaimana lagi? Dia tidak mungkin bisa memenuhi permintaan sahabatnya itu kali ini.
“Aku balik ke sini hari Sabtu siang deh. Malam Minggu aku temani Kamu ke Setos.”
Nova menarik sudut bibirnya yang sempat turun dan menggantung. Kedua mata sipitnya berbinar mendengar keputusan Gita. Sebelum mata itu kembali meredup. “Tapi malam Minggu besok gue pengin ke tempat lain?”
“Ke mana?”
“Gue ada janji sama Devan di Light Garden.” Nova tampak merona saat mengatakannya. Gita tahu sahabatnya itu sedang dirayu monyet, eh mengalami cinta monyet.
“Oh, ya udah kalau gitu aku balik Minggu sore aja. Biar bisa lebih lama perbaikan gizi pakai masakan nyokap,” kata Gita sembari menggendong tas punggungnya. Sedari tadi mereka memang masih di kelas, membereskan peralatan sekaligus menunggu euforia kawanan manusia jarang libur yang kelewat bahagia saat mendapat pengumuman hari libur.
Nova mengikuti Gita menggendong tas selempangnya. “Jangan gitulah, temanin gue. Masa iya gue ketemu Devan sendirian. Nanti timbul fitnah gimana? Kan kami bukan mahram,” ujar Nova kemudian. Gita hanya memutar bola matanya menanggapi ocehan Nova.
Mereka kemudian melangkah beriringan meninggalkan ruang kelas. SMA Bina Dharma tetap saja ramai meski anjuran untuk langsung pulang sudah digaungkan oleh para guru. Kebanyakan siswa lelaki masih asyik bermain basket atau futsal, sedangkan beberapa gerombol siswi tampak mengobrol di pinggiran lapangan yang cukup teduh. Ngakunya jarang dapat libur, giliran dapat libur malah nognkrong di sekolah. Dasar bocah sekarang, batin Gita saat melewati lapangan dan berjalan ke gerbang.
“Jadi Lo mau balik jam berapa?” Nova menyenggol siku Gita yang berjalan di sampingnya.
“Jam empatan kali ya? Aku mau mandi sama nyuci baju dulu biar besok balik sini tinggal nyetrika aja.” Gita menghentikan langkahnya sesaat. “Emang kenapa?” imbuhnya sambil menghadap Nova.
“Gue antar nanti, mau naik bis apa kereta?”
“Uluuuhh baiknya... Kamu mau nganter pakai apa, Bambang? Motor aja kita nggak ada.”
Nova menggetok pelan kepala Gita sembari memberengut kesal. “Kan ada taksi online, Jubaedah! Gue nggak tega kalau Lo ke terminal atau stasiun sendiri. Pasti banyak yang mudik juga, gue nggak mau aja sahabat gue kenapa-kenapa terus nggak jadi nemanin gue ngebucin.”
“Siapa bilang aku mau nemenin Kamu ngebucin?” Gita mengangkat sebelah alisnya. Gadis berkuncir ekor kuda dengan tahi lalat kecil di pelipis kirinya itu tersenyum jail, menunjukkan satu lesung pipit di pipi kanannya.
“Ta...”
Gita hanya tertawa dan mendahului langkah Nova. Gerbang kos mereka sudah tampak beberapa meter di depan. Nova yang saat itu mengenakan flat shoes sedikit kesulitan menyusul langkah Gita. Gadis bertubuh sedikit tambun itu menyelipkan poninya yang mulai panjang ke belakang telinga sambil memanggil Gita.
****
Malam sudah menggantikan posisi senja saat Gita memasuki gerbang desanya. Setelah menempuh tiga jam perjalanan menggunakan bus dan berjalan kaki dari pinggir jalan besar hingga ke desanya. Sayup-sayup terdengar keramaian pemuda desa mempersiapkan tenda dan beberapa papan penunjuk lokasi.
Masih dengan langkahnya di bawah siraman lampu jalan, Gita dikagetkan oleh panggilan seorang lelaki. Seorang pemuda yang cukup mengenalnya. Gita berhenti di mulut gang, menunggu pemuda yang memanggilnya mendekat.
“Ada apa ya, Mas?” tanya Gita saat pemuda itu berada di depannya.
“Baru pulang? Kemarin aku tanya Bulik katanya Kamu nggak pulang.”
“Ya benar, kan Gita pulangnya sekarang, bukan kemarin, Mas.” Gita terkikik melihat ekspresi cengo pemuda di depannya. “Emangnya kenapa Mas Anwar nyari Gita?”
“Nanti saja habis bantuin anak-anak masang tenda, aku ke rumah ya?”
“Oke. Kalau gitu Gita pulang dulu ya, Mas.” Gita melangkah memasuki gang meninggalkan Anwar yang juga segera kembali ke lokasi pemasangan tenda.
****
Sesampainya di rumah, Bapak dan Ibu menyambut Gita dengan sangat antusias. Terutama Randy, adiknya yang masih duduk di bangku TK itu langsung minta gendong.
“Mbak biar mandi dulu, Nang. Randy sama Ibu dulu ya.” Ibu berusaha mengambil alih Randy dari gendongan Gita yang masih menggendong tasnya. Gita terkekeh saat adiknya itu menolak uluran tangan ibunya.
“Turun dulu, ya. Mbak mau mandi nih bau asem.” Gita mencoba menjelaskan pada adiknya. Dengan muka masam akhirnya Randy mengalah dan turun dari gendongan Gita.
“Mandi dulu, Nduk. Terus makan malam, jangan sampai mag-mu kambuh.”
“Nggih, Pak.” Gita pun segera masuk kamar, meletakkan tas dan meraih handuk merah kesayangannya.
Selesai mandi dan berganti baju, Gita merasa lebih segar. Rambut sebahunya ia biarkan tergerai dengan sisa titik air di ujungnya. Ia menikmati santap malam sembari bercengkerama dengan kedua orangtuanya juga menikmati ocehan Randy yang menceritakan aksinya di sekolah tadi.
Masih asyik guyon dengan sang adik, suara ketukan pintu terdengar dari depan. Gita perlahan bangkit dan membukakan pintu. Sementara Bapak dan Ibu masih meladeni Randy.
“Siapa, Nduk?” tanya Ibu beberapa saat kemudian.
“Mas Anwar, Bu.”
“Oalah, diajak masuk sini aja, biar main sama Randy sekalian.”
“Ndak usah, Bu. Anwar cuma sebentar kok.”
Gita kemudian menyilakan Anwar duduk dan menawarinya minum, tetapi dengan halus Anwar menolaknya. Anwar duduk di salah satu sudut kursi kayu ruang tamu itu diikuti Gita di seberangnya. “Ada apa, Mas?”
“Jadi, gini. Kemarin aku niatnya antar undangan pemilih buatmu tapi kan Kamu belum pulang, jadi aku titipin Bulik. Nah, ini aku mau ngasih penjelasan sedikit buat pemilu besok, Kamu kan pemilih pemula nih, apa lagi besok pemilu serentak yang cukup ribet,” terang Anwar langsung ke duduk permasalahan. Perannya sebagai ketua KPPS juga harus bisa memberi edukasi ke pemilih-pemilih pemula seperti Gita.
“Oke, Gita dengerin.”
Anwar melanjutkan penjelasannya. Ia bahkan membawa tiga contoh surat suara yang berbeda. Pada intinya ia menjelaskan bagaimana tata cara memilih yang baik dan sesuai dengan asas pemilu. Selebihnya Anwar mewanti-wanti agar tidak termakan issue hoax apa lagi sampai terlibat dalam politik uang. Anwar memperkirakan sekitar tengah malam atau justru subuh nanti akan ada ‘serangan amplop’ yang harus Gita hindari.
Gita hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Anwar. Sedikit-banyak ia paham dengan penjelasan Anwar. Untuk lebih jelasnya nanti Gita berencana tanya ke Bapak atau Ibu, sekaligus meminta undangan dan kartu pemilihnya.
Tak lama, Anwar pamit. Gita mengantar pemuda itu sampai ke depan pintu kemudian menutupnya saat Anwar mejauh. Namun, baru beberapa langkah Gita meninggalkan pintu, ketukan kembali terdengar. Ia pun berbalik dan membukakan pintu. Rupanya Pak Santoso salah satu tetangganya yang bertamu. Gita kemudian mempersilakan Pak Ssntoso duduk dan mohon diri untuk memanggil Bapak.
Gita memilih berdiam di ruang tengah bersama Randy saat Bapak dan Ibu menemui Pak Santoso, sampai kemudian Ibu memanggilnya.
“Dalem, Bu?”
“Duduk sini, Pak Santoso mau matur sesuatu.”
Gita menurut dan duduk di samping Ibu sambil memangku Randy. Raut wajahnya penuh tanda tanya, mengingat Pak Santoso sebenarnya cukup tertutup dan jarang main ke rumah tetangga. Tumben saja malam ini Pak Santoso mampir dan malah ingin ngobrol dengannya.
“Begini saja, Bapak, Ibu, dan Gita, ini saya ada sedikit amanah,” ujar Pak Santoso sembari mengeluarkan tiga lembar amplop putih.
Seketika Gita teringat pesan Anwar beberapa waktu lalu. Ia melempar pandangan pada Bapak yang kebetulan sedang memandangnya juga. Tatapan mereka bertemu kemudian Gita menggeleng kecil. Bapak paham maksud anaknya itu.
“Maksudnya gimana ya, Pak?” Bapak menanggapi awalan dari Pak Santoso.
“Begini, Pak. Ini ada amanah dari...” Pak Santoso menghentikan ucapannya sejenak untuk membuka satu contoh surat suara seperti yang tadi Anwar bawa. Dengan ujung jari telunjuk Pak Santoso menunjuk satu foto lelaki berpeci yang cukup semringah. “Pasti Njenengan mpun paham maksudnya.” Pak Santoso kembali melipat surat suara tersebut.
“Ngapunten nih, Pak. Tanpa mengurangi rasa hormat saya dan keluarga, tapi kami sekeluarga tidak suka dengan hal-hal seperti ini. Biarlah kami menentukan pilihan kami sendiri. Jika memang pilihan ini tepat, kami yakin ke depannya kehidupan negara ini jauh lebih baik. Dengan saya menerima amplop ini, apa bukan berarti saya justru memilih tanpa nurani? Belum tentu besok ketika dia terpilih akan ingat dengan saya atau pun Njenengan.” Bapak menimpali kemudian beranjak dari duduknya. Satu sikap yang Bapak tujukan untuk mengusir halus Pak Santoso dan maksud buruknya.
Tanpa berujar apa-apa Pak Santoso berpamitan dengan muka merah. Entah menahan kesal atau pun malu.
“Besok pilih satu calon yang memang Kamu paham tujuannya dan latar belakangnya ya, Nduk. Sekarang udah canggih, mau cari tahu latar belakang, visi, misi, bahkan pendukung calon yang mau Kamu pilih sudah bisa lewat hape. Jangan sampai malah golput,” pesan Ibu saat Gita menutup dan mengunci pintu.
“Nggih, Bu. Makanya Gita pulang. Gita ingin suara Gita turut berarti untuk nasib negeri ini. Walau banyak teman-teman Gita yang memilih golput dengan alasan tidak kenal atau tidak tahu dengan siapa dan bagaimana latar belakang calon yang mau mereka pilih.”
Ibu mengusap kepala Gita lembut. “Justru kalau golput, surat suaranya bisa disalahgunakan. Bisa dimanfaatkan sama oknum-oknum yang ingin calonnya memenangkan pemilu.”
“Iya juga ya, Bu. Gita tadi mau jelasin ini ke Nova kok lupa.”
“Lho, Nova golput juga?”
“Iya, alasannya karena kehabisan tiket pulang ke Bogor.”
Ibu geleng-geleng kepala mendengarnya. “Padahal bisa saja dia ajukan diri ke RT kosanmu, Nduk. Jadi salah satu daftar pemilih tambahan, ndak usah pulang ke daerah asal.”
Gita manggut-manggut mendengar penuturan ibunya. Ia mencerna ucapan ibunya dan berniat mencarinya di laman internet nanti. Sekarang ia sudah diserang rasa kantuk dan memilih berisitirahat di kamar.
Cerpen (4) berjudul “Amanah di Balik Amplop” karya Kirachusnul diambil dari buku antologi cerpen “Titipan – Untuk Pemilu yang Berintegritas”, yang diterbitkan Bawaslu Kabupaten Semarang bersama Keluarga Penulis Ungaran (Kelingan) tahun 2019.
#ayoawasibersama #hut4Bawaslu #bawaslu4u #bawaslumengawasi #siapawasi2024