Cerpen (6) : "Bijak Memilih"
|
Mural karya Rawaksara dalam acara Mural Kawal Pemilu 2019
“Balik… balik… balik” teriak Nanda. Sambil berlari dengan ngos-ngosan, Nanda terus berteriak agar berbalik dari jalan menuju pusat kecamatan.
“Ada apa to?”
“Pokoknya balik dah. Ndak usah tanya-tanya.” ucap Nanda.
“Lha, napa harus balik?” tanyaku kepo. Sambil ikut Nanda berlari, kubertanya terus apa yang menjadi alasan harus berbalik jalan.
Setiba di posko ujung gang Nanda pun berkata “Itu lho, ada tawuran.”
“Lha, sopo sing tawuran?”
“Anak motor kampung Bengkung dengan anak motor kampung Langgeng Asri.”
“Langgeng Asri, kampung kita?” tanyaku pada Nanda.
“Ya, mana ada kampung Langgeng Asri selain kampung kita.” jelas Nanda.
“Masalahe opo to?”
“Itu lho, gara-gara si Ujang yang ngamuk di posko anak motor kampung Bengkung.”
“Wis, sabar sik. Ayo minum dulu.” Kutawarkan minum air mineral di posko pada Nanda.
Sembari menenangkan Nanda, tiba-tiba datang si Komang.
“Ngol… Bongol…, tolong aku.” Dengan pincang si Komang berlari menuju arah posko. Rupanya dalam kerusuhan tadi, ia tidak berhasil meloloskan diri.
“Lha kamu kenapa?” tanyaku pada Komang.
“Itu lho aku habis ikut tawuran lawan anak motor kampung Bengkung. Nah pas tarung rupanya mereka jumlahnya terus bertambah, belum lagi masyarakat sekitar ikut lawan kelompok kita.”
“Jadi kamu tadi sama-sama Nanda?”
“Ya, cuman sudah kubilang ke Komang agar tidak usah ikut tarung.” sahut Nanda.
“Ya, betul.” tegas Komang.
“Piye to duduk perkaranya?”
“Gini lho, si Ujang dengar dari si Agus kalau anak motor kampung Bengkung sudah mendukung caleg nomor 1 dari Partai Pelangi yang Poskonya di ujung Jalan Mangga.”
“Trus?” tanyaku kepo.
“Katanya kalau anak geng motor kampung Bengkung berhasil menangkan caleg tersebut di tiga kampung, maka mereka akan dapat imbalan Rp 1.000.000 per orang anggota geng motor itu.” jelas Komang.
“Lha kalau cuman begitu kok harus tawuran?”
“Gini masalahnya, caleg itu juga janjikan ke Ujang kalau mereka juga akan beri uang Rp 800.000 per anggota kelompok kita kalau berhasil menangkan caleg itu di tiga kampung.” tambah si Nanda.
“Kan cuman selisih Rp 200.000 kok diributin?” memang dasar aku orang kepo maka terus kutanya saja.
“Tapi menurut si Agus, anak geng motor kampung Bengkung mau ambil kawasan kampung Mujur, sementara kampung Mujur kan masuk kawasan kekuasaan kita. Anak geng motor kampung Bengkung tahu kan kita yang sudah jadi penguasanya. Lha kok mereka mau menguasainya juga?” jelas Komang.
“Emang bener kalau anak motor kampung Bengkung mau ambil kekuasaan kita?”
“Ndak tahu, Ujang bilang A1 menurut Agus.” balas Nanda.
“Trus menurut kamu Mang?”
“Menurutku sepertinya A1.”
“Emang kalian punya bukti?” tanyaku penasaran.
“Ada kok, itu di WA grup kita kana da foto mereka lagi bagi bingkisan dan pasang poster di simpang sawah.” Jelas Nanda. “Kamu tidak baca?” tanya Nanda.
“Belum. Kalian tahu dari mana kalau foto di WA grup kita itu A1?”
“Dari Ujang” ucap Nanda dan Komang serentak.
Tidak lama, tiba-tiba Ujang datang dengan motor sport-nya. Dengan wajah lebam, Ujang meringis kesakitan. Sontak ku berlari dan menolongnya untuk berbaring di posko. Aku dan Nanda coba membersihkan luka-lukanya. Sambil membersihkan luka-lukanya, kutanya Ujang “Jang, ini Kamu korban tawuran juga ya?”
“Lha dia sih bukan korbanya, tapi provokator kita. Dia yang ngajak kita tawuran.” sahut Komang.
“Piye to kok bisa kalian tawuran dengan anak motor kampung Bengkung?” tanyaku pada Ujang.
“Itu lho, Agus bilang anak motor kampung Bengkung mau ambil daerah kekuasaan kita.” Ujang kemudian menjelaskan bagaimana asal mula mengapa ia menyerang anak motor kampung Bengkung. Dengan sedikit emosional ia bercerita dan seolah-olah akan kembali membalas mereka.
Tak lama, Agus datang “Hai, kenapa wajahmu pada lebam, Mang?”
“Kau penyebabnya, tuh Ujang juga lebih parah?” balas Komang.
“Kok sampai para gitu?”
“Ujang nyerang anak motor kampung Bengkung.” sahut Nanda. “Katanya menurut kamu, anak motor kampung Bengkung mau ambil kekuasaan kita. Mangkanya si Ujang marah dan nyerang mereka. Soalnya kalau kita tidak berhasil menangkan caleg nomor 1 itu, kita tidak dapat Rp 800.000 per orang.”
“Kamu dapat berita itu dari mana?” tanyaku pada Agus.
“Dari Feri, menurut Feri itu berita A1.”
“Lha emang sudah kau cek kebenarannya?” tanyaku pada Agus.
“Ya, menurut Feri kan A1. Ya udah tidak usah dicek. Menurut Feri, kalau kita bisa menangkan caleg itu di lebih dari tiga kampung, malahan kita bisa dapat lebih dari Rp 800.000.”
“Trus sekarang Feri ada di mana?” tanya Nanda.
“Kata tentangganya, si Feri lagi pulang kampung.”
“Inilah, masalahnya kita buat perkara dengan orang kampung sebelah tanpa tahu kejelasan informasinya. Harusnya cek dulu ke Feri, baru ambil langkah.” jelasku pada mereka.
“Yo, wis pulang istirahat sik.”
Kami pun pulang dalam cemas takut anak motor kampung bengkung tiba-tiba datang untuk menyerang.
****
Keesokan harinya sepulang dari sekolah, kami pun ngumpul di posko untuk bicarakan kasus dengan anak motor kampung Bengkung. Tiba-tiba Ujang datang dengan semangatnya. “Ngol, Mang, Gus, aku baru dapat tawaran dari caleg nomor 5 partai Gagak. Kalau kita berhasil menangkan dia di enam kampung maka kita akan dapat Rp 6 juta tiap orang. Ayo siapa mau ikut?”
“Moh… kalau ujung-ujungnya bonyok aku moh…” balasku.
“Menurutku itu tawaran bagus, bagaimana Gus kita join dengan Ujang?” ucap Komang.
“Oke kalau itu A1.” balas Agus. “Ayo Ngol, kita join.”
“Tidak ah, malas, takut kejadian kayak kalian kemarin.”
“Aman kok.” ucap Ujang.
“Piye to, kemarin dukung caleg nomor 1 Partai Pelangi, sekarang malah dukung caleg nomor 5 Partai Gagak? Coba seperti aku, pilih dukung caleg nomor 1 dari partai Bunga Matahari.”
“Ngol, caleg nomor 1 Partai Bunga Matahari itu ndak bagus. Dia dari suku Dayak, masak orang Dayak mau mewakili orang-orang kita?” balas Ujang.
“Emang, kita milih suku atau milih orang berdasarkan kinerjanya?” tanyaku pada mereka.
“Ah itu tidak penting, sing penting kita dapat uang. Mau mereka kinerjanya bagus atau tidak, sing penting kita dapat amplopnya.” jelas Agus dengan semangat.
“Oke… oke, gini saja kesimpulannya aku, Agus, dan Komang yang kerjakan.” ucap Ujang. “Bongol tidak ikut. Kalau gitu jangan ngiri ya kalau tidak dapat bagian. Ayo kita temui calegnya.” Ujang, Komang, dan Agus pun pergi mengurus kampanye caleg nomor 5 Partai Gagak itu.
Selama dua bulan mereka terus kampanye dan ribut dengan anak motor kampung Bengkung maupun kampung lainnya. Dalam hati aku hanya merenung jangan-jangan mereka hanya bermain dengan berita bohong dan politik uang.
****
Satu bulan setelah usai pemilihan umum, Ujang, Komang, dan Agus kembali ke posko. Sambil kumenonton pertandingan Liga 1, mereka dengan gembira datang dengan motor barunya.
“Piye, calegmu menang?” tanyaku pada mereka.
“Menang to, ini buktinya kubeli motor paling keren.” sahut Agus.
“Iya ini juga kubeli motor baru ganti motor butut yang lalu.” ucap Komang.
Tampak hanya Ujang yang tidak membawa motor baru. Lantas kutanya, “Jang mana motor barumu?”
“Belum kuambil dari dealer.”
“Kok belum?”
“Lha calegnya belum ngasih aku uang.”
“Trus itu si Agus dan Komang kok sudah dapat motor?” tanyaku pada mereka.
“Kami kan akan dapat uang dari caleg itu, jadi ku jual motor lama untuk DP dan nanti kreditnya dari uang hasil kampanye.” Jelas Agus dengan semangat.
Tidak lama tiba-tiba Feri datang. “Hai, kudengar kalian berapa bulan ini tawuran terus dengan anak motor kampung sebelah?”
“Ya, gegara kamu tuh ngasih kabar tidak jelas.” Ucap Ujang sambil memukul kepala Feri.
“Emang betul berita itu Fer.” Tanyaku pada Feri.
“Tidak jelas kok. Aku dapat foto dari caleg nomor 3 Partai Bunga Matahari kok. Tidak pasti bener atau tidak.” Jelas Feri. “Tapi kalai ini, kalian mau dapat berita bagus tidak?” ucap Feri.
“Yakin A1?” tanyaku pada Feri.
“Yakin, coba lihat berita di TV Semarang.”
Bergegas ku pindah chanel tayangan dari pertandingan favoritku ke berita TV Semarang. Sontak saja kami terkaget karena caleg nomor 1 dari Partai Pelangi diperkarakan Bawaslu karena politik uang. Tidak lama kemudian, diberitakan caleg nomor 5 partai Gagak ditangkap karena OTT Kasus Suap petugas PPS dan kasus korupsi dana bansos.
“Jang, piye iki? Caleg kita ditangkap?” ucap Agus.
“Iya, piye iki Jang. Motorku baru DP. Kreditnya piye?” balas Komang.
“Lha buntug semua kalian to? Kok mau diapusi? Katanya A1 sekarang calegmu bermasalah. Sudah capek-capek kerja, bonyok karena tawuran akitab berita bohong, sekarang uang serupiahpun kalian tidak dapat.” ucapku pada mereka sambil tertawa.
“Kalau mereka batal jadi anggota dewan, wah batal deh aku dapat motor baru dan lamar si Mawar. Duitnya habis untuk kampanye mereka.” ucap Ujang.
“Memang kalian sudah bonyok, bunting lagi. Makanya hati-hati dengan berita bohong dan politik uang. Tidak ada politikus yang tulus jika sudah main politik uang. Pilih yang kerjanya sudah pasti-pasti saja. Lihat tuh pilihanku terpilih tanpa harus main uang dan berita bohong.”
Politik memang penting tetapi ketika ada kebohongan dan politik uang maka itu menjadi kejam. Kupikir, di masa mudaku kuharus belajar menjadi bijak untuk memilih.
Cerpen (6) berjudul “Bijak Memilih” karya Putu Ayub diambil dari buku antologi cerpen “Titipan – Untuk Pemilu yang Berintegritas”, yang diterbitkan Bawaslu Kabupaten Semarang bersama Keluarga Penulis Ungaran (Kelingan) tahun 2019.
#ayoawasibersama #hut4Bawaslu #bawaslu4u #bawaslumengawasi #siapawasi2024