Cerpen (7) : "MoccaLatte"
|
Mural karya Rawaksara dalam acara Mural Kawal Pemilu 2019
Abahku dulu pernah berkata bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya manusia bodoh, yang ada hanyalah manusia yang tak yakin bahwa dirinya bisa. Yah, setidaknya kata-kata itu merupakan salah satu warisan yang pernah Abah berikan untukku. Hari ini aku gagal lagi dalam tes penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil. Ku-refresh halaman website itu berkali-kali, tak ada yang berubah. Kutinggalkan warnet dengan wajah murung, tak bersemangat. Dalam situasi seperti ini, biasanya aku punya ritual khusus. Seperti yang sudah-sudah, setiap kali suasana hatiku tampak buruk, aku selalu pergi ke pantai. Tempat di mana angin akan meniupkan seluruh masalah yang ada di kepalaku. Deruan ombak akan merobohkan batu karang yang terpagar rapi mengunci pintu hati. Seringai cahaya senja menerpa wajah yang murung dan kusam, membuatnya bersinar seketika. Dengan ritual ini, aku tak pernah merasa sedih atau pun bimbang. Bicara tentang kegagalan aku punya satu cerita,
Waktu itu pukul enam pagi, seperti biasanya Mak selalu saja mengomel. Ada saja hal yang dia omelkan.
“Adek! Ini sudah jam berapa? Kamu belum mandi juga?”
“Ini, Mak, Mbak Yari masih didalam kamar mandi.” jawabku kesal.
“Yari, Kamu ngapain saja sih dari tadi di kamar mandi? Semedi? Mencari wangsit supaya dapat pacar kayak Oppa Korea?”
“Sebentar, Mak, lima jam lagi.” sahut kakakku.
“Yaelah buruan, adikmu nanti telat. Ini sudah jam enam lewat lima belas menit. Adikmu hari ini Ujian Nasional lho!”
“Iya, iya bawel. Sebentar.”
Abah yang sudah kenyang melihat kegaduhan kami setiap pagi tetap santai menikmati secangkir kopi di teras rumah sembari membaca koran.
Empat hari ujian telah berlalu, aku mengerjakan semua soal dengan sangat serius dan teliti. Hingga hari pengumuman kelulusan pun datang. Kupandangi papan daftar peserta yang lulus dengan seksama, kudapati namaku di antara duapuluh orang teratas. Aku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan, 36,80. Dengan bangga kutunjukkan hasil pengumuman itu kepada Abah. Ia turut senang melihat hasil yang aku dapat. Dengan nilai segini, aku yakin bisa masuk ke sekolah favorit yang aku idam-idamkan sejak lama.
Dua hari setelah pengumuman kelulusan, sekolah itu membuka pendaftaran calon siswa baru dengan jalur nilai. Beberapa piagam dapat digunakan untuk mendapat nilai lebih. Pada hari pertama aku mendaftar, aku dan abah berangkat sangat pagi.
“Silahkan, Pak, letakkan berkas yang diminta di sini!” ucap seorang petugas.
Abah menaruh berkas kemudian lekas duduk, menunggu hasil peringkat sementara. Karena kami datang terlalu pagi, belum banyak murid yang mendaftar. Setelah pendaftaran hari itu ditutup, Abah mengajakku melihat peringkat sementara.
“Dek, Alhamdulillah Kamu ada di peringkat enam puluh lima. Semoga besok tidak
merosot lagi ya karena masih ada tiga hari pendaftaran lagi.”
“Iya, Bah, semoga saja.”
Akhirnya kami pun memutuskan untuk pulang. Pada hari ke-2 peringkatku semakin merosot dari peringkat enam puluh lima ke peringkat seratus tiga puluh dua.
Pada hari ke-3 peringkatku kembali turun ke peringkat dua ratus empat puluh tiga. Dan di hari ke-4 atau hari akhir pendaftaran peringkatku bertengger di angka dua ratus sembilan puluh tujuh.
“Dek, Kamu lolos! Selamat ya! Walau di posisi akhir tapi yang paling terpenting Kamu sudah berusaha maksimal.”
Aku hanya bisa mengangguk sambil memeluk erat Abah. Tak lama berselang salah satu petugas mengumumkan suatu hal. “Untuk peserta dengan nama Alya Dewi Susanti, Muhammad Gunawan, dan Muhammad Akan Susetyo telah dinyatakan gugur atau tidak dapat masuk ke SMA Tarang Karuna.”
Seketika itu juga, aku dan Abah tersontak kaget. Namaku disebutkan di sana. Pertanyaan-pertanyaan asing mulai muncul. Bagaimana bisa? Kenapa? Bukankah semua sistem pendaftaran sudah dihentikan dan hasil akhir sudah diumumkan? Lantas kenapa aku bisa gugur bersama dua anak lainnya? Perasaanku campur aduk, marah, sedih, kesal semua menjadi satu.
Belum sempat aku menjawab semua pertanyaan itu, Abah dengan sigap beranjak dari kursi dan bergegas menuju Ruang Pelaksana. Wajahnya sangat menunjukkan bahwa ia sedang marah, tidak terima, sama seperti yang aku rasakan pada saat itu. Beberapa orangtua yang nama anaknya dinyatakan gugur juga menyatakan ketidak terimaan mereka.
“Pak, tidak bisa begitu dong, pendaftaran kan sudah ditutup sejak sepuluh menit yang lalu, saya juga tidak melihat ada yang pergi mendaftar di saat-saat terakhir. Bagaimana bisa anak saya yang sudah dipastikan lolos tiba-tiba saja gagal?” semprot Abah kesal.
“Benar itu, bagaimana bisa anak saya tersisih begitu saja? Jangan bersikap kotor seperti itu pak. Jangan-jangan ada anak yang masuk lewat jalur belakang?” lanjut orangtua lain.
“Begini, Pak, update kebetulan selesai dilakukan setelah penutupan. Dan dtemukan di sini bahwa anak Panjengengan semua tidak lolos karena tergeser anak lain.” jelas petugas.
“Tapi bukannya tadi diberitahukan bahwa itu hasil final?” balas salah satu orangtua.
“Mohon maaf sebelumnya Bapak-Bapak sekalian. Begini, setelah kami lakukan rekapitulasi lanjutan, ternyata ada beberapa anak yang memang memenuhi syarat untuk masuk.”
Kemudian ada seorang petugas yang datang untuk mengganti nama siswa yang gugur tadi dengan nama anak yang baru saja masuk. Saat dilihat, ternyata nilai anak-anak yang baru masuk itu ada dibawah nilai anak yang gugur. Sontak saja suasana semakin memanas. Abah yang merasa kecewa menarik tanganku, mengajakku untuk pergi dan bergegas menuju sekolah lain untuk mendaftar.
“Yuk pergi dari sini, tidak ada anyak waktu untuk meributkan hal yang sudah pasti tidak akan kita menangkan dan jelas tak ada ujungnya. Abah akan bawa kamu ke sekolah yang tak kalah bagus dari ini.”
Aku yang masih kesal dan tak tahu apa yang harus dilakukan hanya bisa diam selama perjalanan. Singkat cerita kita diterima di salah satu sekolah negeri yang memang tidak sebagus yang pertama, tapi sekolah ini juga tak kalah favorit. Sebelum pulang Abah mengajakku ke sebuah tempat makan dan memberi beberapa wejangan.
“Sudah tidak usah dipikirkan, yang sudah berlalu biarkan berlalu, tidak perlu dipusingkan. Terkadang hidup memang tidak adil, yang terpenting jangan pernah salahkan dirimu sendiri atas datangnya sebuah kegagalan. Jadikan itu pembelajaran, jadikan itu motivasi untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih baik lagi. Apa pun yang terjadi, selalu percayalah pada dirimu sendiri. Kalaupun kamu kelak ingin menjadi orang hebat, pastikan kamu selalu berlaku jujur. Kalah atau gagal itu hal biasa tapi kalah karena jujur lebih luar biasa daripada menang dengan ketidakjujuran.”
Perkataan Abah pada saat itu tak akan pernah aku lupakan, untuk sekarang, besok atau selamanya. Aku akan selalu menjadi orang yang jujur dalam melakukan hal apapun. Abah memang seorang pahlawan yang berhati besar, setidaknya aku mempercayainya.
Hari mulai gelap, sudah waktunya bagiku untuk pulang. Kutenteng tas kerjaku masuk ke dalam rumah, belum sempat kutaruh tas itu ke tempat asalnya Mak sudah datang dan langsung bertanya.
“Bagaimana hasil ujiannya?”
Aku tak menjawab, hanya mengangguk pelan.
“Gagal lagi? Itu anak Pak Lurah yang lebih payah dari Kamu saja bisa diterima hanya dengan sekali tes. Lha Kamu yang sudah lima kali mencoba kok ya tetap saja gagal. Jadi apa sebenarnya fungsi dari buku-buku yang ada di rakmu itu. Lebih baik dijual untuk beli Nasi Uduk. Makanya kalau….”
Seperti biasa, jika Mak sudah bicara hal pertama yang harus dilakukan adalah membuka lebar-lebar telinga kanan dan kiri agar suara itu tidak masuk ke otak. Biarkan mereka berlalu begitu saja. Mak memang begitu, setiap hari kerjaannya mengomel. Aku lelah. Kuangkat tasku, lalu perlahan mulai berjalan ke arah kamar. Melewati Mak yang masih saja mengomel. Kututup pintu kamar, kunyalakan radio dengan suara kencang agar suara Mak tak terdengar lagi. Mungkin bukan hari ini aku mendapati kesuksesanku, mungkin lain waktu. Datang dengan cara yang lebih bijaksana.
“Akan! Kalau Mak ngomong itu didengerin! Huh.. punya anak kok keras kepala semua!”
-THE END-
Cerpen (7) berjudul “MoccaLatte" karya Rizky Rahardian diambil dari buku antologi cerpen “Titipan – Untuk Pemilu yang Berintegritas”, yang diterbitkan Bawaslu Kabupaten Semarang bersama Keluarga Penulis Ungaran (Kelingan) tahun 2019.
#ayoawasibersama #hut4Bawaslu #bawaslu4u #bawaslumengawasi #siapawasi2024