Lompat ke isi utama

Berita

Cerpen (8) :"Sebuah Pertaruhan"

Cerpen (8) :"Sebuah Pertaruhan"
Mural karya Rawaksara dalam acara Mural Kawal Pemilu 2019

Yulia menatap langit-langit kamarnya dengan resah. Sudah pukul satu dini hari. Matanya tak kunjung terpejam. Masih terdengar suara orang-orang mengobrol di lantai bawah. Dia benci suara-suara itu. Sudah sebulan ini mereka selalu memenuhi ruang tengah rumahnya. Berisik dan menyebalkan. Yulia membalikkan badan ke kiri lalu ke kanan. Tak sedikit pun dia bisa memejamkan mata.

Tiba-tiba pintu kamarnya berderit. Ibu menghampirinya dengan wajah letih. "Kamu belum bisa tidur, Nak?"

"Iya, Bu, bagaimana aku bisa tidur kalau begini terus?"

"Kamu yang sabar ya, Nak! Tak lama lagi semua akan berakhir."

"Kenapa sih, Bu, bapak harus ikut nyaleg? Kan kita sudah hidup tenang sebelumnya?"

"Sudahlah! Biar itu menjadi urusan bapak."

Seperti biasa ibu terlihat pasrah. Ada rasa gelisah mewarnai kepasrahan itu. Yulia hanya bisa terdiam. Lalu ibu berbaring di sampingnya dan memeluknya erat. Yulia memejamkan mata tanpa bereaksi.

****

Keesokan harinya di sekolah Yulia, riuh rendah suara anak-anak di halaman sungguh memekakkan gendang telinga. Mereka menunggu pengumuman dari sekolah tentang nasib mereka. Lulus apa tidak. Yulia ada di antara kerumunan anak-anak itu.

"Duh, panas banget sih." keluh Yulia sambil mengipaskan selembar kertas ke wajahnya.

"Iya, sampai meleleh nih." Sita menimpali.

"Eh, Kamu jadi lanjut ke mana habis ini, Yul?" Rina bertanya sambil menjilat es krim yang sudah hampir habis.

Yulia termenung tidak menjawab. Dia masih ingat saat pertama menginjak kelas 12. Gurunya bertanya ke mana akan melanjutkan. Dengan mantap Yulia menjawab mau lanjut ke Fakultas Kedokteran. Namun sekarang dia tidak berani terlalu berharap. Apalagi setelah kejadian beberapa malam yang lalu. Tanpa sengaja dia mendengar bapak bersitegang dengan ibu.

"Ambil semua uang tabungan dan asuransi kita, Bu! Masih butuh banyak ini!"

"Tapi, Pak, itu kan untuk kuliah Yulia!"

"Ah, itu gampang. Kalau sudah jadi nanti akan balik semua modal kita, Bu."

"Iya kalau jadi, Pak." Ibu nampak sinis.

"Ngomong apa Kamu? Nggak percaya kalau aku bisa jadi nanti?"

Bapak mulai naik pitam. Ibu menjawab sambil terisak, "Kita sudah habis-habisan ini, Pak. Saya khawatir kalau Bapak nggak jadi nanti terus nasib kita gimana?"

"Alaaah, sudahlah jangan banyak ngomong! Besok Kamu ke bank dan ambil semua tabungan kita!"

Yulia tercekat mendengar perintah bapak. Entah mengapa dia tidak lagi berani membayangkan masuk ke Fakultas Kedokteran. Bahkan entah bisa kuliah apa tidak, teramat pening dibayangkan.

"Hei, Yul, kok malah melamun?"

Yulia tergeragap. "Eh iya. Maaf! Ke kantin yuk. Laper nih."

Yulia beranjak tanpa memperdulikan tatapan  heran teman-temannya. Namun, mereka akhirnya mengikuti langkah Yulia. Mereka makan dalam diam. Tidak ada yang berani bercanda melihat wajah Yulia yang kusut.

****

Sorenya, Yulia pulang sambil membawa amplop berisi pengumuman kelulusan. Dengan lesu dia masuk ke rumah. Ada seorang laki-laki kekar sedang bincang-bincang dengan bapak. Yulia tidak suka melihatnya. Tanpa menoleh dia langsung menuju kamarnya. Sekilas dia mendengar orang itu bicara, "Benar, Pak. Dijamin semua pasti milih Bapak. Tapi ya itu… hmmm. Bapak tahu kan maksud saya?"

Yulia ingin sekali mendamprat orang yang tak tahu malu itu. Sudah jelas dia minta uang sama bapak. Hei itu uang kuliah aku. Jerit Yulia dalam hati. Tapi apalah dayanya. Dia hanya bisa masuk kamar membanting pintu dan terisak-isak menahan nyeri di hatinya. Masa depannya sedang dipertaruhkan dan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia benci situasi ini. Dia benci sama bapak. Mengapa bapak lebih memilih menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak pasti.

****

Hari  sudah siang. Yulia tidak beranjak dari tempat tidurnya. Ada rasa enggan untuk bangun, mandi dan melakukan aktivitas lain. Sekolah sudah libur. Teman-temannya sudah sibuk mendaftar ke sana kemari. Yulia tidak berani ikut mendaftar ke mana-mana. Bapak juga tampak tidak peduli apakah Yulia mau kuliah apa tidak. Bapak nampak lebih asyik mengatur strategi bersama timnya.

Ibu juga sudah lelah menuruti perintah bapak. Menyiapkan hidangan setiap hari untuk seabreg tamu yang selalu pulang larut. Semua nampak melupakan Yulia. Sambil setengah terpejam, Yulia meraih HP-nya yang berdering dari tadi.

"Yul, mau ikutan nggak? Kita mau daftar nih." suara Rina nampak riang.

"Hmm, tinggal aja deh. Aku ntar aja!"

"Ini sudah mau tutup lho pendaftarannya. Kamu kenapa sih? Kok lemes gitu suaramu?"

"Nggak tahu ah. Tinggal aja!"

Dengan malas Yulia memutus percakapannya dengan Rina. Dia malas pergi-pergi. Di rumah pun dia malas mau membantu ibunya. Jadilah dia mengurung diri di kamar. Mainan gawai, lihat film di laptop dan malas-malasan di kasur. Dia biarkan waktu berlalu begitu saja.

****

Kesibukan meningkat di rumah Yulia. Ada sebuah layar lebar dipasang di depan. Semua tim sibuk mempersiapkan acara nonton bareng hasil pileg. Bapak nampak berwajah tegang mondar-mandir mengatur persiapan. Ibu nampak lelah di dapur mengatur hidangan hari itu.

Seperti biasa, Yulia mengurung diri di kamar. Harusnya dia pergi ke TPS untuk yang pertama kalinya. Tetapi ada rasa enggan menyelimuti hatinya. Buat apa aku memilih. Toh aku tidak tahu siapa yang akan kupilih. Demikian pikirnya. Melihat aktivitas bapak saja dia sudah merasa jengah. Apa semua caleg seperti itu? Mengandalkan uang untuk meraup kemenangan.

Yulia semakin malas memikirkan semua itu.Namun dia juga tidak mau terlibat urusan di rumahnya. Akhirnya dia memutuskan pergi ke rumah Rina. Teman yang tinggal satu kompleks dengannya.

****

"Hai, Yul. Tumben ke sini?" Rina menyambutnya di depan pintu.

"Males di rumah."

"O ya udah. Yuk masuk!"

"Btw, Kamu udah ke TPS?"

"Nggak ah. Males!"

"Lho nggak boleh begitu! Kata bu Nur kita harus memilih. Jangan golput dong!"

"Emang Kamu udah?"

"Udah dong. Nih lihat jariku." Rina nyengir sambil menunjukkan jarinya.

"Yuk tak anter ke TPS dulu. Trus kita nge-mall. Gimana?"

"Ya udah deh."

****

Habis dari TPS, mereka pergi ke mall. Yulia tampak menikmati waktunya. Sejenak dia lupa kalau dia masih belum tahu kuliah di mana. Sita dan beberapa teman lain juga gabung dengan mereka. Yulia tidak kepikiran lagi tentang apa yang terjadi di rumah. Mereka mengitari mall, makan bakso, nonton film sambil bercanda ria.

"Nah gitu dong, Yul, kami kangen tawa Kamu." Rina menggoda Yulia.

"Iya maaf. Kalian jadi ikutan nggak enak hati ya."

"Ya sudahlah. Trus ke mana lagi kita? Udah malem lho ini. Kamu nggak mau pulang?"

"Nggak ah. Aku mau nginep di rumahmu aja. Boleh ya?"

"Ya udah. Yuk!"

****

Yulia masih belum bisa tidur. Rina sudah pulas dari tadi. Dia nampak kecapekan. Yulia tidak tahu bagaimana kondisi rumah malam ini. Tapi bagaimana pun dia sebenarnya penasaran. Apakah bapaknya jadi atau tidak. Dia penasaran karena itu berhubungan dengan masa depannya.

Dia mau nelpon ibu tapi tidak enak. Akhirnya dia cuma bisa merenung dan berharap pagi segera datang. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ibu menelepon. Yulia merasakan firasat buruk. Mengapa ibunya malam-malam meneleponnya.

"Assalamualaikum, Bu."

"Alaikumsalam, Yulia. Kamu di mana, Nak?" Ibunya menjawab sambil menangis. Yulia makin penasaran.

"Di rumah Rina, Bu. Kan tadi aku sudah izin."

"Pulang ya, Nak. Bapakmu ..."

"Ada apa dengan bapak, Bu?"

Ibunya semakin terisak tak kuasa menjawab. Yulia semakin penasaran. Dia melompat dari tempat tidur dan membangunkan Rina.

"Rin, aku pulang dulu ya!"

"Eh, kenapa buru-buru? Jam berapa ini?"

Tanpa menjawab Yulia langsung menerobos pintu kamar dan berlari pulang.

****

Rumah Yulia nampak lengang. Lampu masih menyala terang benderang. Hanya anehnya Yulia tidak menemui siapa pun. Barang-barang berserakan tidak karuan. Dia semakin takut. Apa sebenarnya yang terjadi.

Tak sabar, dia berlari masuk ke dalam rumah. Tidak ada siapa pun juga di ruang tengah. Yulia menemukan ibunya menangis di depan pintu kamar. Lantas dipeluknya sang ibu erat-erat.

"Bapak, Yul." hanya itu yang terucap.

Dan Yulia sudah paham apa yang terjadi. Tiba-tiba pandangannya kabur. Musnah sudah semuanya.

Cerpen (8) berjudul “Sebuah Pertaruhan” karya Tri Astuti Ari Winarti diambil dari buku antologi cerpen “Titipan – Untuk Pemilu yang Berintegritas”, yang diterbitkan Bawaslu Kabupaten Semarang bersama Keluarga Penulis Ungaran (Kelingan) tahun 2019.

#ayoawasibersama #hut4Bawaslu #bawaslu4u #bawaslumengawasi #siapawasi2024