Lompat ke isi utama

Berita

Cerpen (9) : "Take and Give, eh ?

Cerpen (9) : "Take and Give, eh ?
Mural karya Rawaksara dalam acara Mural Kawal Pemilu 2019

Ttar! Ttarr!

            Suara letusan dari confetti disertai dengan jatuhnya kertas berwarna-warni yang mendarat di kepala remaja putri yang tengah berbahagia dengan hari spesialnya yang hanya datang setahun sekali.

            “Selamat ulang tahun~”

            “Panjang umur ya!”

            “Sehat selalu juga! Semoga yang dicita-citakan segera tercapai ya!”

            Pada hari ini Arin genap berusia 18 tahun dan teman-temannya memberikan sorak sorai serta doa-doa baik yang diharapkan menyertainya hingga nanti.

            “Gimana? Kamu mau hadiah apa, Arin?”

            Paman Deni menghampirinya dengan senyuman tetapi Arin malah menghela napasnya. Ia nampak kesal dan lesu seakan hari bahagianya tidak berarti apa pun.

            “Kok malah ditekuk begitu mukanya? Sedih nggak bisa nonton konser Nu’est?”

            “Lah kok malah itu sih Paman? Nggak penting itu! Yang penting itu kapan KTP aku jadi Ya Allah.... udah setahun loh ini sejak aku bikin.”

            “Kan udah ada KTP sementara, Rin.”

            “Duh, Paman! Bayangin deh tiap ditanya KTP-nya mana masa iya aku kasih gitu kertas print KTP sementara yang kucel terus terpaksa aku laminating terus aku kasih lihat ke petugas,” sungut siswa SMA N 1 Ungaran itu membeberkan keluhannya yang sebenarnya.

            “Malu emang, Rin?”

            “Nggak!”

            “Terus?”

            “MALU BANGET!”

            Teman-teman Arin yang melihat ‘birthday star girl’ itu memandang aneh karena Arin benar-benar kesal hingga berteriak seperti itu.

            “Ya sabar, Rin. Kan blangko KTP-nya habis.”

            “Ada ya, Paman, yang doyan makan blangko KTP? Mending makan roti aja enak.”

            Nampaknya kekesalan dan kekecewaan Arin sudah sampai pada batasnya, ia kini mengambil kue ulang tahunnya dan mulai memakannya acuh tak acuh. Bukannya apa-apa, masa iya warga negara Indonesia nggak punya identitas sah yang membuktikan dia warga negara di sini? Bisa bisa gadis bernama Arintya Rizkia ini dikira warga negara Zimbabwe karena penampakan KTP-nya beda sendiri dong?

            “Rin.”

            “Hm?”

            Kali ini Paman Deni berusaha bicara ke Arin lagi, mungkin memberikan pengertian terkait masalah yang tengah dialami keponakannya itu.

            “Arintya.”

            “Hm??”

            “Ini Paman ngomong sama keponakan Paman apa sama Limbad sih kok cuma hm hm?”

            “Engga!” semprot Arin masih bete.

            “Terus?”

            “Arin Sabyan!”

            “Makin makin... aduh... Rin, jangan ngambek lagi dong. Besok sama Ayah ngurus lagi ya, dicoba kali aja blangkonya udah tersedia lagi apalagi udah mau pemilu tuh. Masa iya kamu nggak mau nyoblos cuma karena KTP kamu?”

            “Kayak penduduk Zimbabwe?” potong Arin cepat, dia masih kesal kalua disinggung mengenai hal yang sama tentang jati dirinya yang hanyalah seonggok kertas lecek yang dilaminating. “Udahlah, Paman! Mending beliin aku es krim aja daripada bahas KTP mulu.”

****

            Akhirnya saat Arin ada hari libur sekolah yang memungkinkannya untuk mengurus kesempurnaan bentuk fisik kartu tanda penduduknya tiba, ia bersemangat untuk bangun pagi pagi dan mengurus semuanya hingga selesai dan tak ketinggalan suatu apa pun. Sudah kenyang Arin diolok teman-teman sekelasnya karena wujud KTP-nya lain daripada yang lain. Meski kenyataannya mengantre pengurusan di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil akan memakan waktu cukup lama, tapi tak apalah. Karena di dalam hidup ini butuh pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu, bukan?

            “Deeeek. Bantu beli sayur, Dek Rin!”

            Masih pagi dan tantangan pertamanya sebelum mengantre ria di kantor adalah mengantre di kios sayur untuk hidangan sarapan mereka pagi ini atas permintaan sang Ibu.

            “Iyaaa, Ibu! Siap!”

            Arintya benar-benar bersemangat karena sebentar lagi ejekan mengenai dirinya akan segera berakhir. Subuh itu ia berangkat ke pasar dengan riang, sebelum dihadang seorang pemuda asing yang nampaknya telah mengekorinya sejak tadi.

            Takut? Tentu. Tetapi Arin harus waspada demi menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Ia pun menepi di sebuah kios sembako dan pura-pura memilih barang.

            “Adek,” sapa pemuda itu tapi Arin pura-pura tidak mendengarnya.

            “Udah 17 tahun belum, Dek?”

            Betulan. Orang ini nampaknya ada maksud terselubung.

            “18!”

            Jawaban singkat, padat dan ketus Arin justru membuat pemuda misterius itu terkekeh.

            “Saya kasih 100 ribu mau?”

            Entah apa yang merasuki Arin hingga ia menoleh ke arah si pemuda. “Seratus ribu duit?”

            “Iyalah duit masa daun. Mau nggak?”

            “Gratis? Uang palsu bukan?”

            “Asli, Dek. Nih masih ada di amplop, khusus buat Adeknya.”

            “Ih mau…”

            Oh astaga… seorang Arintya Rizkia tergoda!

            Tangan mungilnya hendak meraih amplop putih bersih yang pasti di dalamnya berisi selembar kertas berwarna merah yang akan menyejahterakan hidupnya paling tidak untuk pesan makanan mahal via daring tanpa harus merengek kepada orang tuanya ke mall.

            “Eits.” Pemuda itu melunturkan senyum Arin yang tadinya hampir berhasil menyentuh ujung amplop itu. “Tapi besok coblos nomor 1 ya?”

            “Hah?”

            “Kok di ‘hah’? Saya bukan keong loh, Dek.”

            Idih. Arin bergidik sendiri. Apa-apaan sih orang ini, niat cari masalah ya dengannya? Tadi katanya nawarin kok sekarang pakai syarat ketentuan berlaku segala? Maksudnya apa?

            “Bentar deh, Mas. Maksudnya apa?”

            “Take and give dong!”

            Pemuda itu melambai-lambaikan amplop itu di depan wajahnya. Sebentar! Ini bukan waktunya untuk tergiur tapi untuk curiga!

            “Gini deh, Dek.” Pemuda yang hingga kini tidak diketahui identitasnya itu pun menegakkan punggungnya. “Hidup ini butuh pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu.”

            “Lah? Mas mau nyogok saya?” Arin kacak pinggang, sudah mulai mendapatkan kewarasannya.

            “Lah nggak? Siapa bilang?”

            “Bahasa kerennya Politik Uang, Mas!” sanggah Arin keras.

            “Adeknya nih suudzon, orang saya cuma nawarin.”

            “Gini deh, Mas. Mas itu ibaratnya petani, lagi sebar benih namanya politik uang, terus nih buah dari bibit pohon tadi itu namanya korupsi! KO-RUP-SI!!”

            “Adeknya jangan teriak-teriak dong!”

            Pemuda itu mulai panik karena Arin bicara keras dan otomatis membuat perhatian terfokus padanya. Beberapa penjual maupun penjaga kedai pun memicingkan mata padanya.

            “Bodo amat, Masnya jahat dan curang sih! Pantesan KTP aku nggak jadi jadi, uang buat blangko KTP-nya aja ditilep semua dengan cara jelek kayak gini! Dikira aku nggak tahu apa apa, HAH??!”

            Omelan Arin yang amat galak membuat si pemuda pelaku tindak serangan fajar tersebut lari tunggang langgang sebelum ada petugas ketertiban yang menangkap basah dirinya.

            “EEHH?! MASNYA JANGAN KABUR YA! SINI BIKININ KTP AKU YANG BENER?!”

Hah. Sudahlah emosinya betulan sudah sampai ke ubun-ubun. Arin menghela napas kesal untuk kesekian kalinya. Mood-nya dirusak akibat ada orang jahat yang menyadarkan dirinya kalau KTP-nya tidak segera jadi karena praktik ilegal politik uang yang jelas merugikan banyak orang.

‘Emang udah rahasia umum kalau demi jadi kepala daerah butuh uang yang nggak sedikit, tapi nggak begini juga dong! Aku yang belajar giat di sekolah dan nggak macam-macam ‘kan jadi malah kena getahnya?!’ batin si dara kesal seraya banting-banting gemas sayur sawi yang ada di depannya.

            “Ehh Dek, jadi beli sayurnya nggak kok malah dibantingin gitu?” seru penjual sayuran yang menyaksikan barang dagangannya dianiaya.

            “E-eh, maaf, Buk! Lagi kesel sama manusia bibit korupsi. Buk, besok kalo ketemu Mas yang kayak gitu lagi lapor aja Buk ke Bawaslu biar dieksekusi sampai double kill!”

            Suka suka Arin sajalah ya, yang penting semoga tindak politik uang tidak terjadi lagi dan semoga KTP-nya segera jadi dengan sempurna ya.

Ungaran,  23/11/2019

Cerpen (9) berjudul “Take and Give, eh ?” karya Wahyu Yoshinoyuki diambil dari buku antologi cerpen “Titipan – Untuk Pemilu yang Berintegritas”, yang diterbitkan Bawaslu Kabupaten Semarang bersama Keluarga Penulis Ungaran (Kelingan) tahun 2019.

#ayoawasibersama #hut4Bawaslu #bawaslu4u #bawaslumengawasi #siapawasi202