Lompat ke isi utama

Berita

Penguatan Literasi Digital di Tahun Politik, Tantangan dan Solusinya

Penguatan Literasi Digital di Tahun Politik, Tantangan dan Solusinya
Kegiatan Webinar Pojok Pengawasan dengan tema Penguatan Literasi Digital di Tahun Politik, Tantangan dan Solusinya, Kamis, (21/7/2022)

Ungaran-Bawaslu Kabupaten Semarang menyelenggarakan kegiatan Webinar Pojok Pengawasan dengan tema Penguatan Literasi Digital di Tahun Politik, Tantangan dan Solusinya. Yang di selenggarakan melalui aplikasi Zoom meeting dan melaui channel Youtube Bawaslu Kabupaten Semarang,  Kamis, 21/07/2022.

Hadir sebagai narasumber Muhammad Rofiuddin anggota Bawaslu Provinsi Jawa Tengah, Noni Arnee Praktisi Literasi Media, serta Vega Lazuardi Kepala Bidang Aplikasi dan Informatika Diskominfo Kabupaten Semarang.

Menjelang Pemilu 2024 sudah mulai banyak informasi-informasi yang beredar baik melalui media sosial maupun media cetak. Pentingnya literasi digital khususnya bagi kalangan milenial untuk menangkal ataupun menekan berita-berita HOAX, SARA, ataupun Ujaran kebencian.

M. Talkhis Ketua Bawaslu Kabupaten Semarang dalam sambutannya mengungkapkan Kegiatan ini merupakan bentuk ikhtiar kami dalam merawat NKRI agar tidak terjadi perpecahan yang diakibatkan oleh berita Hoax dan Ujaran Kebencian khususnya di wilayah Kabupaten Semarang serta dapat mengedukasi generasi milenial agar dapat menggunakan medsos dengan bijak .

“Bawaslu Kabupaten Semarang mengadakan kegiatan Webinar ini sebagai salah satu cara untuk merawat NKRI agar tidak terpecah akibat berita hoax dan ujaran kebencian serta dapat mengedukasi generasi milenial agar dapat menggunakan medsos dengan bijak”ungkap Talkhis.

Dampak buruk dari kurangnya literasi digital yaitu mudah menerima dan menyebarkan informasi yang bermuatan Hoax, SARA, serta ujaran kebencian, sehingga menurut Vega lazuardi Kepala Bidang Aplikasi dan Informatika Diskominfo Kabupaten Semarang mengatakan tugas pertama kita adalah perang melawan hoaks atau misinformasi serta Disinformasi yang dibuat-buat seolah-olah benar adanya yang bisa menimbulkan salah persepsi.

“tugas pertama kita adalah perang melawan hoaks atau Misinformasi serta Disinformasi yang dibuat-buat seolah-olah benar adanya yang bisa menimbulkan salah persepsi” kata Vega.

Kemenkominfo membuka aduan terkait dengan adanya konten-konten negatif yang beredar di masyarakat.

Disisi lain, Noni Arnee menjelaskan, informasi mengenai Politik menarik bagi masyarakat, hal tersebut membuat berita politik ada di hampir semua platform media sosial. Informasi mengenai Pemilu masih menjadi titik fokus beredarnya ujaran kebencian. Untuk itu pentingnya

kemampuan untuk memahami dan menggunakan sumber informasi dengan menggunakan teknologi internet dan media digital secara aktif dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi yang harus dimiliki untuk mengetahui berita yaitu digital skill, digital culture, digital ethics, digital security

“Kenapa berita politik selalu menarik? Karena masyarakat muak dengan politik dan politik praktis, masyarakat tetap menyukai informasi dan berita seputar politik. Hal tersebut yang membuat berita politik selalu ada di hampir semua platform media sosial serta Informasi mengenai Pemilu masih menjadi titik fokus beredarnya ujaran kebencian. Untuk itu pentingnya kemampuan untuk memahami dan menggunakan sumber informasi dengan menggunakan teknologi internet dan media digital secara aktif dalam kehidupan sehari-hari” jelas Arnee.

Selanjutnya M. Rofiuddin anggota Bawaslu Provinsi Jawa Tengah menyampaikan Tantangan literasi sekarang adalah merubah budaya lisan menjadi budaya baca agar bisa berpikir kritis, kreatif, dan inovatif, kemudian  pemanfaatan teknologi dengan bijak serta dengan dapat melahirkan karya-karya menarik.

 Selanjutnya tips dalam menerima informasi adalah jangan mudah percaya-skeptis; selalu cek fakta; perhatikan jejak rekam pembuat dan penyebar informasi; Bawaslu menyediakan pusat informasi digital; jika ada pelanggaran, Bawaslu segera menangani. (MBP)