Rusaknya Demokrasi Dari Sebuah Tindakan Politik Uang
|
Ungaran - Jalannya sebuah demokrasi menjadi salah satu pondasi penting untuk menunjukkan eksistensi dan kemerdekaan warga negara untuk memilih dan dipilih. Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa proses yang dibangun berpotensi mengalami cidera demokrasi karena disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah munculnya tindakan politik uang. Hal inilah yang kemudian diangkat oleh Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kabupaten Semarang, Ummi Nu'amah dalam Konsolidasi Demokrasi dengan kelompok pengajian perempuan di Desa Kebumen, Selasa 10 Februari 2026.
Dalam obrolan dan diskusi tersebut, Ummi menyampaikan pengaruh sebuah tindakan yang bernama politik uang tersebut. "Politik uang merupakan salah satu bentuk dari pencideraan demokrasi yang berpotensi merusak kedaulatan demokrasi khususnya di Indonesia. Banyak pengaruh buruk yang bisa ditimbulkan dari praktik politik uang tersebut" buka Ummi.
Ummi menggambarkan bahwa politik uang akan merusak demokrasi secara masif. "Politik uang akan menggeser makna kedaulatan suara. Suara yang dihasilkan dari pemilih tidak lagi berdasarkan pilihan rasional melainkan karena adanya imbalan materi" jelas Ummi.
Selain itu, demokrasi yang berjalan akan semakin turun karena pola politik uang yang sudah masuk kedalam tatanan sistem elektoral di masyarakat. "Apabila politik uang ini sudah marak ditengah masyarakat oleh beberapa oknum, maka kualitas demokrasi yang dihasilkannya pun akan menurun karena nantinya pemimpin yang terpilih bukan berasal dari hasil gagasan atau program, melainkan dari kekuatan finansial" lanjutnya.
Maka dari itu, Ummi menyampaikan bahwa politik uang ini menjadi pekerjaan besar bersama yang harus dihentikan. "Politik uang ini memang sulit dilacak karena model yang digunakan saat ini sangat bervariatif. Maka dari itu, Bawaslu Kabupaten Semarang juga mendorong kelompok perempuan ini untuk ikut mengawasi setiap langkah di level masyarakat agar praktik politik uang ini bisa kita hentikan dan kemudian menghasilkan pemimpin dari demokrasi yang kita inginkan bersama" tutup Ummi.
Penulis : Noor M Nasyar